Persoona.id – Di bulan Romadhon, ada satu malam yang mulia. Malam ketika langit mendekat dan membuka pintunya lebar-lebar. Malaikat turun berbondong-bondong, membawa berkah, membawa ampunan, membawa pahala yang nilainya tak tanggung-tanggung, “lebih baik dari seribu bulan”.
Di masjid, di majlis, lampu menyala terang. Sajadah digelar, tasbih berputar seperti kipas angin yang tak pernah berhenti. Doa-doa naik ke langit dengan suara lirih dan tangis khusuk terisak dalam lautan kedekatan pada Tuhan. Inilah malam paling mulia, malam yang tak kan hadir lagi, kecuali Romadhon tahun depan.
Sementara nun jauh di tempat-tempat lain, malamnya malam yang berbeda. Di sana tidak ada sajadah. Tidak ada lantunan doa panjang. Hanya suara besi dipukul, karung diangkat, motor tua yang meraung di jalanan.
Seorang kuli mengangkat semen di proyek bangunan yang tetap bekerja karena target tidak mengenal kalender langit, penjaga malam berjalan bolak-balik mengusir kantuk, sopir truk menahan kantuk di jalan tol yang sunyi. Ya mereka juga sedang mengejar sesuatu malam itu.
Bukan pahala seribu bulan.
Cuma seratus ribu rupiah tambahan supaya anaknya bisa beli baju lebaran.
Di masjid, orang-orang berdoa agar dosa diampuni. Di luar masjid, ada orang-orang yang bahkan tidak sempat memikirkan dosa, karena pikirannya penuh oleh harga beras, uang sekolah, dan cicilan hutang.
Dan para pengkhotbah menganggap, mereka sering dianggap orang yang “tidak memanfaatkan malam Lailatul Qadar.”
Padahal mereka sedang memanfaatkan satu hal yang jauh lebih nyata, yaitu kesempatan untuk membuat anaknya makan esok pagi.
Apakah langit hanya terbuka di atas kubah masjid?
Apakah malaikat hanya turun ke ruangan ber-AC yang penuh sajadah empuk?
Ataukah malaikat juga lewat di gang sempit tempat seorang ayah sedang memanggul karung sambil mengingat wajah anaknya?
Jika pahala malam itu benar-benar lebih baik dari seribu bulan, kita patut bertanya.
Apakah pahala itu hanya berlaku bagi mereka yang punya waktu luang untuk berdoa?
Karena kenyataannya, banyak orang yang bisa menghabiskan malam dengan dzikir panjang bukan karena lebih suci, tapi karena sudah selesai memikirkan isi dapur.
Sementara banyak orang yang tidak hadir di masjid bukan karena kurang iman, tapi karena jam kerja tidak pernah mengenal kalender ibadah.
Jika logika langit benar-benar sesederhana yang sering diceramahkan. Maka surga nanti akan dipenuhi oleh orang-orang yang rajin i’tikaf, sementara para buruh yang lembur di malam Lailatul Qadar harus menunggu di luar pagar.
Jika Tuhan benar-benar adil, rasanya mustahil Dia lebih menghargai orang yang membaca doa panjang daripada orang yang mengorbankan tidurnya demi memberi makan keluarganya.
Kadang kita terlalu sibuk mencari Tuhan di langit. Padahal bisa jadi malam itu Tuhan sedang berada di tempat lain. Di samping sopir truk yang menahan kantuk,
di dekat kuli bangunan yang punggungnya berkeringat,
di antara pedagang kecil yang masih menghitung receh di bawah lampu jalan.
Sementara di masjid, orang-orang terus memohon berkah. Tidaklah salah. Hanya saja, terkadang kita lupa bahwa doa yang paling didengar Tuhan malam itu, bukanlah doa yang paling panjang. Tapi doa yan tak sempat terucap demi membahagiakan orang-orang yang dicintainya.
: Abah Sarjang


