Persoona.id – Prestasi membanggakan kembali diraih oleh kelompok Teater dan Seni SMA Negeri 1 Karawang (Tesnika). Dalam ajang Festival Teater Pelajar Basa Sunda (FTPBS) 2026, Tesnika sukses menyabet penghargaan sebagai Juara 1 Manajemen Produksi Terbaik berkat tata kelola pertunjukan yang matang, mandiri, dan berstandar profesional.

Profesionalisme tinggi ini tercermin dari cara mereka mempersiapkan pementasan lakon berjudul “Kalangsu” karya Babeh Ayi G. Sasmita. Lakon tersebut dipilih karena dinilai sangat relevan dengan dinamika kehidupan Generasi Z saat ini, yakni mengisahkan bagaimana anak muda dituntut untuk mampu bertahan (survive) serta menyikapi arus perkembangan zaman dengan bijak.

Di balik suksesnya pementasan tersebut, aspek manajerial berjalan sangat rapi di bawah kepemimpinan Arifa Syaina selaku Pimpinan Produksi. Berdasarkan perbincangan dalam siniar DIGITALKS, Arifa mengungkapkan bahwa timnya menerapkan sistem pembagian tugas berbasis keahlian—mulai dari bidang humas hingga teknis—serta menyusun timeline kerja yang sistematis guna memastikan seluruh alur produksi berjalan efektif tanpa tumpang tindih.

Baca juga : Teater Aufklarung SMAN 1 Ciampel Raih Juara 1 FTPBS 2026 Lewat Naskah “Karunya Si Mamah”

Salah satu pencapaian paling menonjol dari manajemen produksi Tesnika adalah kemandirian mereka dalam mencari pendanaan. Meski masih berstatus pelajar, tim kreatif dan produksi turun langsung ke lapangan untuk menjalin kerja sama sponsorship dengan berbagai pihak. Hasilnya, mereka sukses menggandeng sejumlah mitra strategis, di antaranya Pegadaian, BJB, PT Kujang dan lainnya.

Keberhasilan menyabet Juara 1 Manajemen Produksi Terbaik di FTPBS 2026 ini menjadi pengalaman berharga bagi anggota Tesnika dalam belajar mengelola tiket pertunjukan, menyusun strategi sponsor, dan merasakan langsung atmosfer tata kelola dunia kerja nyata. Prestasi ini sekaligus membuktikan bahwa teater pelajar tidak hanya melahirkan talenta seni peran yang handal, tetapi juga calon-calon produser dan manajer kreatif yang profesional serta berdaya saing tinggi./mangs

Persoona.id – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh dunia teater pelajar Jawa Barat. Teater Aufklarung dari SMAN 1 Ciampel sukses memukau dewan juri dan penonton. Lewat pementasan naskah drama berbahasa Sunda berjudul “Karunya Si Mamah” karya Nazarudin Azhar, sekaligus mengantarkan mereka meraih predikat. Juara 1 dalam ajang Festival Teater Pelajar Basa Sunda (FTPBS) 2026.

Pementasan yang disajikan kelompok teater muda ini berhasil mengeksplorasi kedalaman emosi serta realitas kehidupan seorang ibu (single parent) yang berjuang seorang diri membesarkan anaknya. Cerita berfokus pada dinamika hubungan ibu dan anak, di mana sang anak perlahan belajar memahami kesepian serta kebutuhan emosional ibunya untuk menemukan kebahagiaan baru.

Kekuatan pementasan ini terletak pada penjiwaan karakter yang sangat kuat dan natural dari para aktor muda Teater Aufklarung. Melalui dialog yang hidup dan penghayatan yang mendalam, mereka berhasil menghidupkan naskah sastra Sunda di atas panggung, sehingga pesan moral tentang kasih sayang dan pengorbanan seorang ibu tersampaikan secara menyentuh kepada penonton.

Naskah “Karunya Si Mamah” sarat akan pesan moral mengenai empati, pengorbanan, dan arti ketulusan. Cerita ini merefleksikan bagaimana kasih sayang seorang ibu kerap tanpa batas; menomorduakan kebahagiaan pribadi demi kesejahteraan sang buah hati, serta tetap tabah menghadapi kerasnya tantangan hidup sendirian.

Baca juga : Pemprov Jabar Luncurkan Program Teater Masuk Sekolah untuk Perkuat Karakter Siswa

Lebih dari itu, pementasan ini juga menyampaikan pesan penting bagi generasi muda tentang perlunya membangun empati terhadap orang tua. Anak diajak untuk menyadari bahwa orang tua, khususnya single parent, bukan sekadar sosok pengasuh, melainkan individu yang juga memiliki perasaan, kelelahan, serta hak atas kebahagiaan pribadinya. Komunikasi yang sehat dan dukungan emosional menjadi kunci utama dalam merajut hubungan keluarga yang hangat di tengah realitas kehidupan.

Keberhasilan Teater Aufklarung meraih Juara 1 di ajang FTPBS 2026 menjadi bukti nyata dedikasi tinggi para pelajar dalam melestarikan seni dan budaya lokal. Prestasi ini sekaligus memperkuat optimisme bahwa ekosistem teater sekolah di Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Karawang, terus tumbuh subur, berkualitas, dan mampu melahirkan karya-karya seni yang bernyawa serta menginspirasi./mangs

Persoona.id – Ribuan masyarakat memadati sepanjang Jalan Tuparev hingga Alun-alun Kabupaten Karawang untuk menyaksikan kemeriahan Helaran Budaya dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-393 Kabupaten Karawang, Jumat (18/9/2026) malam. Mengusung tema “Karawang Dari Masa Ke Masa”, kegiatan ini menampilkan beragam seni, tradisi, dan kreativitas dari seluruh perangkat daerah, kecamatan, BUMD/BUMN, hingga kawasan industri.

Acara pembukaan yang meriah ini diawali dengan penampilan tari kolosal yang memukau penonton, menceritakan perjalanan sejarah panjang Kabupaten Karawang. Pertunjukan tersebut dilanjutkan dengan pawai mobil hias yang diikuti oleh berbagai instansi dan elemen masyarakat.

Setiap mobil hias yang tampil menyuguhkan narasi visual mengenai transformasi Karawang, mulai dari masa pra-sejarah, era kerajaan, masa agraris dengan hamparan sawah yang subur, hingga bertransformasi menjadi kawasan industri modern yang berdaya saing tinggi.

Bupati Karawang, H. Aep Syaepuloh, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh masyarakat yang hadir dan antusias memeriahkan rangkaian Hari Jadi Karawang tahun ini.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada ASN, Kepala Dinas, Camat, Kepala Desa, dan seluruh masyarakat Karawang atas kolaborasi yang diberikan. Kami ucapkan selamat Hari Jadi kepada seluruh masyarakat Karawang, alhamdulillah rangkaian demi rangkaian telah terlaksana dengan baik,” ujar Bupati Aep.

Ia berharap, semangat tema MOTEKAR (Maju, Optimis, Tangguh, Efektif, Kolaboratif, Adaptif, dan Responsif) dapat terus diwujudkan bersama demi mempercepat akselerasi pembangunan di Kabupaten Karawang.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Aep juga memaparkan sejumlah capaian dan progres pembangunan daerah, termasuk proyek infrastruktur strategis seperti perbaikan jalan di area Tol Karawang Barat dan Karawang Timur.

“Saya juga mohon maaf kepada seluruh masyarakat yang aktivitas perjalanannya mulai terganggu dengan adanya pengerjaan infrastruktur, baik di Karawang Barat, Karawang Timur, Telukjambe, Cikampek, termasuk juga Pedes dan Pakisjaya,” ungkapnya.

Selain infrastruktur jalan, Pemkab Karawang terus memperkuat sektor pendidikan melalui program pembagian modul gratis bagi siswa SD dan SMP negeri serta renovasi bangunan sekolah secara bertahap. Di sektor kesehatan, program jaminan kesehatan semesta melalui Universal Health Coverage (UHC) juga terus dioptimalkan guna memberikan perlindungan kesehatan yang merata bagi seluruh warga Karawang./***

Persoona.id – Di tengah dinamisnya era digital, Politeknik Kepribadian Bangsa Indonesia meluncurkan “DIGITALKS”, sebuah platform kreatif yang dirancang khusus untuk memfasilitasi ekspresi diri Generasi Z (Gen Z). Langkah strategis ini hadir sebagai jawaban atas kebutuhan media komunikasi yang kasual, interaktif, namun tetap memiliki bobot substansi yang kuat.

Menggabungkan Inovasi Digital dan Akar Budaya Lokal
Kampus menyadari bahwa pola komunikasi konvensional tidak lagi cukup relevan untuk menjangkau Gen Z. Melalui DIGITALKS, mahasiswa tidak hanya didorong untuk mahir dalam teknologi, tetapi juga tetap memegang teguh identitas akar budaya lokal.

“Gen Z adalah generasi yang sangat ekspresif. Mereka membutuhkan ruang digital yang valid untuk mendokumentasikan setiap langkah dalam membentuk jati diri mereka. DIGITALKS hadir untuk mengambil peran penting tersebut,” ungkap perwakilan tim kreatif.

Baca juga : Panitia Gelar Pendampingan Intensif ke 11 Ekstrakurikuler Teater SMA/SMK se-Karawang

Podcast FTPBS 2026
Sebagai debut pertamanya, DIGITALKS melakukan kolaborasi eksklusif dalam Festival Teater Pelajar Bahasa Sunda (FTPBS) 2026 yang akan diselenggarakan pada 25–26 Juli 2026. Festival ini menjadi panggung besar bagi sekolah-sekolah unggulan di Kabupaten Karawang untuk unjuk gigi dalam seni teater.

Septian Public Relation DIGITALKS, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan konten eksklusif bagi para audiens. “Kami telah merampungkan 11 episode Podcast FTPBS 2026 Batch 1 siap tayang sore ini di akun youtube svkarawang.

Batch 1 terdiri dari Tesnika Sman 1 Karawang, Teater Merput Sman 3 Karawang, Teater Bunga Sman 5 Karawang, Teater Saca Binangkit SMKN 2 Karawang, Teater Hoshi Sman 1 Klari, Teater AUfklarung Sman 1 Ciampel, Teater Sacila Sman 1 Cilamaya, Nawasena SMKN 1 Rengasdengklok, Teater Sangkar Manuk MAN 2 Karawang dan Teater Steta SMK Texar. Saya menyaksikan langsung bagaimana semangat kawan-kawan pelajar dalam mengekspresikan ide kreatif, mulai dari proses pertunjukan hingga manajemen produksinya, sangat luar biasa,” jelasnya.

Saksikan Keseruannya!
Ingin melihat bagaimana Gen Z Karawang berekspresi sekaligus melestarikan budaya lokal melalui teater? Temukan jawaban dan keseruannya dalam serial podcast eksklusif kami.

Tonton episode perdananya hari ini, Rabu 15 Juli 2026, melalui kanal YouTube resmi svkarawang.

Jangan lewatkan setiap episodenya dan jadilah bagian dari perjalanan kreatif Gen Z dalam membentuk masa depan melalui platform DIGITALKS PRISAIN.*asp

Persoona.id – Menjelang pelaksanaan Festival Teater Pelajar Basa Sunda (FTPBS) 2026 yang akan digelar pada akhir Juli mendatang, panitia pelaksana mulai tancap gas melakukan serangkaian pendampingan intensif kepada para peserta. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 11 grup teater dari ekstrakurikuler SMA dan SMK se-Kabupaten Karawang telah memastikan diri untuk ambil bagian dalam festival bergengsi tersebut.

Tidak tanggung-tanggung, panitia FTPBS 2026 turun langsung mengunjungi sekolah-sekolah peserta. Langkah ini diambil untuk melihat langsung proses latihan sekaligus memberikan pembinaan khusus agar performa masing-masing kelompok teater semakin matang.

Pimpinan Produksi FTPBS 2026, Dicky Purnama Gumelar, menegaskan bahwa kunjungan langsung ke sekolah merupakan komitmen panitia untuk memastikan seluruh peserta mendapatkan bekal seni peran yang cukup sebelum tampil di atas panggung.

“Jadi kami tidak hanya mengundang peserta saat workshop atau technical meeting. Tim juga datang langsung ke sekolah untuk berdiskusi dengan pembina dan peserta, melihat proses latihan mereka, sekaligus memberikan masukan sesuai kebutuhan masing-masing kelompok,” ujar Dicky saat diwawancarai pada Minggu (5/7/2026) sore.

Tantangan Seni Peran: Dari Belajar Otodidak hingga Minim Fasilitas Pelatih
Dari hasil kunjungan lapangan tersebut, panitia menemukan dinamika dan kondisi ekstrakurikuler teater di setiap sekolah yang cukup beragam. Beberapa sekolah tercatat sudah rutin mengikuti FTPBS sehingga proses latihannya jauh lebih terarah. Namun, tidak sedikit pula sekolah yang baru pertama kali bergabung sehingga membutuhkan pendampingan yang lebih intensif.

Berdasarkan temuan Dicky, tantangan terbesar saat ini adalah masih banyaknya anggota ekstrakurikuler teater tingkat SMA/SMK yang belum pernah mengecap pembelajaran dasar seni peran. Aspek krusial seperti olah vokal, olah tubuh, olah rasa, hingga teknik dasar membangun karakter di atas panggung masih perlu diasah.

“Temuan kami cukup menarik. Ternyata masih banyak anak-anak teater yang semangatnya luar biasa, tetapi belum pernah mendapatkan materi dasar berteater. Ini menjadi tantangan sekaligus motivasi bagi kami untuk berbagi ilmu selama proses pendampingan,” tambahnya.

Selain masalah materi dasar, panitia juga menyoroti kendala sumber daya pengajar. Ada sejumlah sekolah yang memiliki fasilitas kesenian memadai, namun belum memiliki pelatih atau pembimbing teater yang mendampingi siswa secara rutin.

Baca juga : FTPBS 2026 Karawang Resmi Dibuka: Ajang Pelajar Unjuk Gigi di Panggung Teater Basa Sunda

“Beberapa sekolah sebenarnya sudah didukung fasilitas, tetapi belum memiliki tenaga pelatih. Akhirnya anak-anak belajar secara otodidak atau hanya mengandalkan senior. Karena itu, kami berharap FTPBS bisa menjadi ruang belajar bersama, bukan hanya ajang kompetisi,” jelas Dicky.

Rangkaian Pra-Festival: Hadirkan Workshop hingga Digitalks Podcast
Sebagai bagian dari strategi penguatan kapasitas peserta, panitia FTPBS 2026 juga telah menyiapkan sejumlah agenda pra-festival yang interaktif. Selain pendampingan langsung ke sekolah, para peserta akan dilibatkan dalam kegiatan workshop seni peran.

Tak hanya itu, panitia juga menghadirkan sesi Digitalks Podcast yang bekerja sama dengan Kampus Politeknik Kepribadian Bangsa Indonesia. Sesi ini akan menghadirkan perwakilan dari seluruh grup peserta untuk mengenalkan eksistensi mereka ke publik.

Melalui program DigiPodcast ini, para pelajar tidak hanya belajar berteater, tetapi juga diajak berbagi cerita mengenai proses kreatif, tantangan persiapan menuju festival, hingga mempromosikan kelompok teater mereka kepada masyarakat luas secara digital.

Tentang Festival Teater Pelajar Basa Sunda (FTPBS):
Festival Teater Pelajar Basa Sunda (FTPBS) merupakan ajang tahunan yang menjadi wadah kreativitas, pelestarian budaya Sunda, dan pengembangan bakat seni peran bagi pelajar tingkat menengah atas (SMA/SMK) di wilayah Kabupaten Karawang./***

Persoona.id – Kabar gembira bagi para pegiat seni dan pelajar di Kota Pangkal Perjuangan. Festival Teater Pelajar Basa Sunda (FTPBS) 2026. Kembali hadir sebagai wadah kreativitas sekaligus benteng pelestarian budaya, bagi pelajar tingkat SMA/SMK sederajat di Kabupaten Karawang.

Pendaftaran peserta untuk ajang bergengsi ini resmi dibuka mulai hari ini, Selasa (12/5/2026). Kegiatan yang difasilitasi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Karawang tersebut dijadwalkan pelaksanaannya pada tanggal 25–26 Juli 2026.

Media Kreatif untuk Ngamumule Basa Sunda
Pimpinan Produksi FTPBS 2026, Dicky Purnama Gumelar. Menjelaskan bahwa festival ini bukan sekadar ajang kompetisi seni peran. Lebih dari itu, FTPBS merupakan gerakan nyata untuk menjaga eksistensi Bahasa Sunda. Agar tidak tergerus zaman, terutama di kalangan Gen Z dan Alpha.

“Lewat teater, pelajar bukan hanya belajar tampil di atas panggung. Tetapi juga belajar memahami budaya, bahasa, kerja sama, dan kepercayaan diri. Kami ingin Basa Sunda tetap hidup dan dicintai anak muda,” ujar Dicky saat diwawancarai.

Baca juga : Sinergi Teater dan Digital: Yusuf Adriansyah, Mahasiswa Politeknik Prisain yang Siap Taklukkan Industri Kreatif

Menurutnya, teater adalah media yang sangat efektif karena mengemas unsur kebahasaan. Ke dalam bentuk visual dan emosiona yang relevan dengan kehidupan pelajar masa kini.

Detail Pelaksanaan FTPBS 2026
Setelah sukses digelar pada tahun 2024 silam. Edisi tahun ini membawa misi regenerasi pelaku seni di Karawang. Berikut adalah poin penting terkait pelaksanaan festival:

Membangun Karakter Melalui Seni
Selain menjadi ruang ekspresi, FTPBS 2026 diharapkan mampu membangun semangat ngamumule. (melestarikan) budaya daerah di tengah serbuan budaya modern. Disdikbud Karawang memberikan dukungan penuh agar festival ini menjadi kalender tahunan yang mampu mencetak bibit-bibit unggul di bidang seni pertunjukan.

Panitia mengajak seluruh sekolah menengah atas di Karawang untuk segera mendaftarkan tim teater terbaik mereka. Inilah saatnya menunjukkan bahwa jati diri bangsa, khususnya budaya Sunda, tetap berkilau di tangan generasi muda./ys

Persoona.id – Di era ekonomi kreatif yang dinamis, kolaborasi antara seni tradisional dan strategi digital menjadi kunci sukses. Hal inilah yang dibuktikan oleh Yusuf Adriansyah, atau yang akrab disapa Mamang, mahasiswa Program Studi Bisnis Digital di Politeknik Kepribadian Bangsa Indonesia (Politeknik Prisain).Senin 20 April 2026

Mamang bukanlah sosok baru di dunia kreatif. Berbekal pengalaman selama delapan tahun di dunia teater, ia kini mentransformasikan disiplin seni panggung ke dalam ekosistem bisnis digital yang lebih modern.

Pondasi Teater untuk Manajemen Produksi
Bagi Mamang, teater bukan sekadar seni peran, melainkan sekolah manajemen yang sesungguhnya. Ia terbiasa melalui tahapan terstruktur: mulai dari pembedahan naskah, eksplorasi konsep, hingga eksekusi panggung yang presisi.

Baca juga : Wujudkan Digitalisasi Karawang, UKM Prisain Politeknik Kepribadian Hadirkan ‘Digi Talks’: Ruang Ekspresi Inklusif bagi UMKM hingga Tokoh Publik

“Di teater, kita diajarkan bahwa setiap detail itu penting. Dari hal kecil sampai besar harus saling terhubung. Nilai ketelitian dan disiplin inilah yang sekarang saya terapkan ketika terlibat dalam kegiatan produksi event,” ungkap Mamang.

Profesionalisme dengan Sertifikasi BNSP
Tidak hanya mengandalkan pengalaman lapangan, Mamang juga memperkuat profil profesionalnya melalui sertifikasi resmi. Saat ini, ia telah mengantongi sertifikat dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk dua bidang strategis:

  • Manajemen Pertunjukan: Memperkuat sisi teknis dan manajerial event.
  • Digital Content Creator: Memastikan kemampuannya relevan dengan tren konten masa kini.

Kombinasi sertifikasi ini menjadikannya salah satu mahasiswa yang memiliki kompetensi lengkap, baik di belakang layar maupun di balik layar digital.

Inisiatif Studio Podcast di Politeknik Prisain
Semangat belajarnya tidak berhenti di ruang kelas. Bersama rekan-rekannya di Prodi Bisnis Digital, Mamang aktif mengembangkan inisiatif studio podcast di lingkungan kampus Politeknik Kepribadian Bangsa Indonesia. Proyek ini menjadi laboratorium nyata bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan produksi konten secara mandiri.

Baca juga : Kreator Logo HUT Karawang & Ketua Forum Film Pilih Kuliah di Bisnis Digital Politeknik Prisain

“Kami ingin punya ruang untuk belajar langsung, bukan hanya teori. Podcast ini jadi salah satu cara kami untuk mulai produksi konten sendiri dan mengasah kemampuan,” tambah mahasiswa yang dikenal aktif ini.

Harapan untuk Industri Kreatif Masa Depan
Melalui pendidikan di Bisnis Digital Politeknik Prisain, Mamang terus berupaya memperluas kontribusinya. Ia percaya bahwa pendidikan formal yang ia tempuh saat ini adalah jembatan untuk membawa pengalaman kreatifnya ke level industri yang lebih profesional dan berbasis teknologi.

Kisah Yusuf Adriansyah adalah potret nyata mahasiswa masa kini: berpengalaman, tersertifikasi, dan terus berinovasi di dunia digital./mangs

Persoona.id – Setiap tanggal 14 September, Kabupaten Karawang merayakan hari jadinya dengan meriah. Di balik kemegahan visual yang menghiasi sudut kota, terdapat tangan dingin Abdul Yusup (32). Pria asal Desa Bengle, Kecamatan Majalaya, yang menjadi desainer resmi logo HUT Karawang selama enam tahun terakhir. Minggu 19 April 2026

Pria yang akrab disapa Ucup ini telah mendedikasikan kemampuannya untuk memperkuat citra visual tanah kelahirannya sejak tahun 2018. Kini, ia tidak hanya dikenal sebagai desainer, tetapi juga sebagai tokoh sentral dalam industri kreatif lokal.

Dari Panggung Teater hingga Menjadi Ketua Forum Film
Bakat seni Ucup telah terasah sejak lulus SMA pada tahun 2009. Berawal dari hobi bermusik dan aktif sebagai pegiat teater, ia sempat menjabat sebagai Ketua Komunitas Seniman Muda (Kosim) Karawang. Kedekatannya dengan dunia seni peran dan visual membawanya pada amanah. Yang lebih besar saat ini, yakni menjabat sebagai Ketua Forum Film Kabupaten Karawang.

Kepercayaan dari pemerintah daerah mulai datang pada tahun 2019 ketika Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud). Karawang menunjuknya merancang logo HUT ke-386 bertema “Karawang Jamuga”. Sejak itu, karya-karyanya termasuk logo “Karawang Sarasa” (HUT 388). Hingga persiapan menuju usia ke-392 Masagi menjadi identitas resmi yang dibanggakan seluruh elemen masyarakat.

“Bagi saya, ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan pengalaman. Berharga dan kebanggaan karena karya saya bisa bermanfaat bagi masyarakat luas,” ujar Ucup.

Haus Ilmu: Sinergi Desain dan Bisnis Digital
Meski telah memiliki reputasi besar, Ucup enggan berpuas diri. Menyadari pesatnya perkembangan ekonomi kreatif, ia memutuskan untuk memperdalam landasan teoretis dengan melanjutkan studi.

Pada tahun 2025, Ucup resmi bergabung sebagai mahasiswa di Program Studi Bisnis Digital, Politeknik Kepribadian Bangsa Indonesia (Politeknik Prisain). Langkah ini diambil untuk menyinergikan keterampilan desain grafisnya dengan pemahaman strategi bisnis yang mumpuni.

“Dunia digital itu sangat luas. Saya ingin ilmu desain saya didukung dengan strategi bisnis yang profesional, itulah alasan saya memilih kuliah di Politeknik Prisain,” tambahnya.

Inspirasi Bagi Generasi Muda
Kisah Abdul Yusup membuktikan bahwa konsistensi dan semangat belajar adalah kunci kesuksesan. Dari seorang pegiat komunitas hingga menjadi pilar branding visual Kabupaten Karawang, Ucup kini bersiap menjadi profesional yang lebih matang di era ekonomi digital.

Bagi generasi muda Karawang, perjalanan Ucup adalah pengingat bahwa skill kreatif yang dipadukan dengan pendidikan yang tepat dapat menciptakan dampak nyata bagi daerah./mangs

Persoona.id – Di era media sosial, publik sering kali hanya melihat satu foto estetik yang melintas di feed Instagram atau galeri pameran. Namun, di balik satu karya yang dianggap “sempurna”, tersimpan ribuan foto gagal yang terkunci rapat dalam memori kamera.

Karya hebat dalam fotografi ternyata bukan sekadar soal bakat alami atau kepemilikan kamera dengan harga selangit. Ia adalah akumulasi dari ribuan jam latihan yang jarang dipublikasikan ke hadapan dunia.

Proses di Balik Lensa: Menghargai Kegagalan
Dunia mungkin merayakan hasil akhir, namun seorang fotografer sejati justru menghargai proses panjang di belakangnya. Menariknya, guru terbaik bagi seorang fotografer bukanlah teori di dalam buku, melainkan serangkaian kesalahan teknis yang terjadi di lapangan.

Beberapa “guru” tersebut di antaranya:

  • Fokus yang meleset (blur) yang mengajarkan ketajaman.
  • Komposisi yang berantakan yang melatih keseimbangan visual.
  • Cahaya yang redup atau bocor yang memberikan pemahaman tentang eksposur.
  • Ekspektasi yang hancur saat melihat hasil di layar sebagai pemacu evaluasi.
  • Keberanian menurunkan ego untuk menerima masukan dan kritik.

Bukan Kamera, Tapi Jam Terbang
Sebuah miskonsepsi besar di masyarakat adalah anggapan bahwa kamera mahal otomatis membuat seseorang menjadi ahli. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa jam terbang adalah penentu utama kualitas seorang visual artist.

Ada tahapan evolusi yang harus dilalui oleh setiap pemilik kamera:

  • 1.000 Jepretan Pertama: Baru sekadar pemanasan untuk memahami alat.
  • 10.000 Jepretan: Fase di mana fotografer mulai menemukan karakter atau style uniknya.
  • 100.000 Jepretan: Titik di mana kamera bukan lagi alat, melainkan bagian dari intuisi dan tubuh sang fotografer.

Fotografi adalah bukti nyata bahwa keajaiban tidak terjadi secara instan. Keindahan satu bidikan yang kita lihat hari ini adalah sisa-sisa dari ribuan kegagalan yang berhasil ditaklukkan./***