Persoona.id – Sampai saat ini kita berusaha percaya, tentang Ratu Adil, yang akan hadir saat keadilan tercerai-berai serupa puing. Kesenjangan memuncak semakin lancip. Rakyat perutnya kosong, sedangkan penguasa dan pemilik modal, tajir melintir.
Banyak yang apatis, nyinyir dan menganggap mitos lama. Tentang Ratu Adil yang ditunggu-tunggu. Belum lahir, keburu terbunuh, atau mungkin tak kunjung datang.
Sementara yang tak pernah absen berkunjung, malah notifikasi, pemberitahuan dan dering nomer asing, yang tak bosan memanggil tagihan pinjol.
Keadaan kian tak berpihak, kesejahteraan cuma jargon. Dan kita menelan kekecewaan dengan rebahan, sekrol medsos, tertawa sendiri saat melihat potongan video pendek, sesekali mengumpat menyaksikan kilasan derita di layar kita. Setelah itu mendengarkan musik dan tidur.
Jika keadaan gamang seperti ini terjadi pada tahun 1980-an atau 1990-an, barangkali Indonesia tidak akan setenang hari ini. Harga sembako melonjak, PHK membabi buta, pajak mencekik, petani dipersulit, nelayan terabaikan, buruh diperas. Pada era itu, akumulasi ketidakadilan hampir selalu berujung pada satu tempat. Jalan raya. Spanduk terbentang, suara menggema, dengan risiko diculik atau ditembak, tak peduli, yang penting negara dipaksa mendengar suara jelata.
Peristiwa 98 adalah cerita yang masih tertera dalam ingatan generasi lama. Kemarahan kolektif menemukan tubuhnya. Mahasiswa, buruh, ibu rumah tangga, bahkan pedagang kecil, semuanya turun bersama. Sejarah pun bergeser.
Hari ini, dengan beban hidup yang tak kalah berat. Bahkan mungkin permasalahan yang menimpa lebih kompleks, lebih menghimpit dan lebih getir. Tapi masyarakat masih mempertahankan posisi rebahannya. Hanya ramai dengan suara-suara sunyi. Tidak bisa disebut diam, tapi kenyataannya memang tidak bergerak. Ada kritik, tapi terpecah. Ada amarah, tapi menguap.
Begitu hebatnya teknologi. Media sosial telah mengubah cara kita mengekspresikan marah, kecewa dan ketidak-puasan.
Dulu, kemarahan butuh ruang bersama. Perlu dikumpulkan, dirawat dan dirumuskan. Sekarang, kemarahan cukup diberi kolom komentar. Cukup diketik. Cukup dibagikan. Lalu selesai.
Ada rasa lega, seolah telah melakukan sesuatu. Padahal yang berubah hanya suasana hati kita. Bukan struktur kekuasaan.
Media sosial memberi kita ilusi paling nyaman, ilusi perlawanan tanpa risiko.
Tak perlu panas matahari, air minum kemasan, nasi bungkus atau semburan gas air mata. Tidak ada persekusi aparat atau ketakutan ditangkap. Cukup marah dari kasur atau duduk merokok di kursi depan, sambil mengaktifkan jari.
Inilah apatisme bentuk baru. Bukan apatis yang bisu, justru apatis yang cerewet. Kita tidak lagi diam, namun tidak benar-benar melawan. Tajam mengkritik, tapi masing-masing. Lantang bersuara, tapi tercerai-berai. Aksi menggelar spanduk cuma lewat upload. Algoritma memastikan kemarahan kita berputar di lingkaran yang sama. Ramai, namun tak mengancam siapapun di atas sana.
Kekuasaan memanfaatkan semua ini dengan baik. Rakyat yang marah secara kolektif, berbahaya. Sedangkan kalau marahnya secara individual, aman.
Untuk itu, melalui algoritma, konflik dialihkan ke mana-mana. Menjadi permasalahan identitas, jadi perdebatan receh, atau saling ejek antar sesama. Solidaritas dikikis dengan perlahan, menyisakan kebisingan horizontal tanpa arah. Bukan tekanan masal yang vertikal.
Mungkin fenomena ini tidak dirancang sebegitu rapinya. Namun celah-celahnya amat terbuka untuk dimanfaatkan. Lama-lama ya dinormalisasi. Dracin contohnya, di negara asalnya Cina, sudah ada larangan ditonton. Di kita malah subur, memanjakan khayalan dan iming-iming poin. Judol memang dilarang, tapi oknum-oknum Komdigi membuka dan membuat ribuan situsnya.
Bukan berarti masyarakat hari ini bodoh dan malas. Namun pemerintah telah memberi kita suntikan kelelahan masal. Lelah mencari nafkah tanpa jaminan kepastian hidup. Capek membaca deretan pajak yang kian mebebani. Muak dengan janji dan sistem yang terus-terusan mengecewakan. Pekak telinga mendengar pidato omon-omon. Sebuah kelelahan yang diciptakan.
Media sosial datang sebagai obat murah, tempat curhat, tempat marah, tempat merasa ditemani, meski sebenarnya sendirian.
Sayangnya, sejarah tidak berubah karena pelepasan emosi. Hanya ledakan umpatan, lalu dilupakan.
Sejarah menuntut emosi yang dikonsolidasikan, diakumulasikan dan diwujudkan menjadi gerakan.Dari status ke struktur. Dari viral ke nyata. Dari individual ke kolektif.
Tanpa ada gerak kompak yang nyata, kita akan terus hidup dalam paradoks. Negara bermasalah, rakyat marah,
tapi kekuasaan tetap tenang. Karena mereka tahu, kemarahan kita akan berhenti di layar dan perlawanan kita akan mati, saat baterai habis.
Ratu Adil tak mungkin datang, sekonyong-konyong menyelamatkan. Kita harus mempersiapkan jalannya, siapkan kehadirannya, dengan cara terus berisik walau masih tercerai-berai.
Seperti yang dikatakan Teh Kumaila Hakimah.
“Kurangi doa, banyakin kritik pemerintah.”
Semoga bising ini menjadi gerakan.
: Abah Sarjang


