Persoona.id – Katanya, kolonisasi Kwari, tidak membawa mariem, rudal, AK 47 atau granat. Tapi cukup di racun perlahan, di kasih penghargaan.

Orang-orang sekarang tidak perlu diintimidasi oleh tentara bersenjata, hanya dibandingkan dengan internet yang akan mereka blokir, cukup. Hanya karena bukan hiu juralit, jadi seperti ikan.

Dahulu masjid, kampus, dan sekretariat organisasi, mengamati, sab di tempat-tempat itu, kesadaran, gerakan dan perlawanan pertama kali lahir.

Sekarang tempat-tempat seperti itu aman. Di masjid jarongjon sholat dan sholat. Shaf rapih suara Imam Halimpu doa panjang dengan air mata Setelah salam, jemaah akan kembali ke dunia.

Di kampus jarongjon kajian suhud, rumus, teori menceritakan pidato profesor, atau menguji teori dokter, dan belajar di kantin atau segera berangkat kerja, untuk dosen sambil bekerja.

Di sekretariat organisasi, ya tidak ada bedanya. Aku kutuk yg terhormat, menghina pejabat yg jahil, munafik dan koruptor, menyalahkan takdir, sambil scroll hp. Mereka pikir situasi negara bisa berubah, keadilan akan jatuh dari langit, seperti paket gratis ongkir.

Para penjajah jaman dulu pasti iri, melihat gaya penjajah jaman sekarang. Pada akhirnya, penjajah harus memikirkan kembali, menyusun strategi adu domba, menunda jalur untuk menyeret para pemimpin gerilya dan menganalisa buku dan teori apa pun yang akan menekan massa. Sederhananya, anda harus benar-benar melihat ke bawah jika ada banyak masalah.

Dan sekarang?
Sekarang saya santai… Gak usah gitu, orang-orang udah di tindik hidung. Berikan hiburan setiap hari, berikan pekerjaan yang melelahkan, dan bayar sebentar. Bagaimana jika emosi dan kemarahan? Buat wadah saja untuk menyalurkan emosinya. Biarkan mereka duduk di dalam kontainer. Muak dengan semua kebencian media sosial, terkuras.

Aku tidak akan melakukannya. Aku tidak akan turun ke jalan, aku tidak akan bergerak. Bahkan lebih mengadakan demonstrasi besar-besaran terhadap gedung parlemen. Aku tidak akan melakukannya. Kemungkinan besar bikin status seperti ini. Di baca sama yg mau like dan komen Selesai. Udah kenyang scrolling, udah diem lagi Nyari kipayah lagi, makin susah.

Revolusi berakhir sebelum dimulai.

Semua kebaikan, simpati, empati, dan semangat keadilan, telah digantikan dengan tombol “kirim”.

Ditambah lagi ditekan oleh para pendeta, mendorong untuk menyebarkan firman suci. Sabar lah. Ikhlas. Percaya. Perbesar hati,asah indera, dekatkan diri pada Tuhan. Rejeki sudah ada yang ngatur.

Ya, jelas pemerintah yang bertanggung jawab. Tapi ini tidak diatur dan oh sayang. Pajak rendah, kerja keras, berusaha mendapatkan lebih banyak aturan, peraturan, dan birokrasi dalam bola kusut. Menjadi gila. Mau cepat pasti ada yang licin. Kalo ga ketawa, lama2 aja Modal usaha di pake makan, sambil nunggu izin yang gak mau keluar.

Tentu saja tidak seluruh komunitas tetap bingung. Akan ada, mereka yang terus menyerang rakyat, melakukan semua yang mereka bisa untuk meringankan penderitaan, tapi tidak banyak, dan jarang tertangkap kamera. Hal seperti itu tidak pernah menjadi viral.

Sesungguhnya negara kita tidak kekurangan orang-orang yang berhati baik dan memberi. Yang kurang adalah orang baik dengan keberanian. Berani melawan sistem busuk, berani membongkar dan mencambuk kesadaran, bahwa kita benar-benar sedang diserang.

Penjajah modern tidak memiliki bendera. Tidak ada bahasa asing atau asing. Jangan memutar rantai di kaki.

Hanya ada satu hal yang pasti. Aku pernah dipukuli, digosok, dan dipermainkan, hingga aku lupa, bahwa aku pernah punya keberanian.

Berani turun ke jalanan, berani berteriak melawan ketidak adilan, berani melawan meski resiko diinjak-injak atau digoda.

Sesungguhnya bukan doa yang tidak mati, tapi doa yang tidak melahirkan kekuatan. Semangat padam sebelum doa menjadi buah.

Penjajah akan terus berkeliaran, selama kita merasa terintimidasi oleh keadaan. Pelajar dan pemuda tidak tahu harus kemana. Hanya mencari kesenangan di waktu santai. Tetangga di dunia kepalsuan. Tidak ingin mengubah situasi.

Bersantai…
Selagi kuota masih ada, baterai belum padam. Scroll screen itu lebih menyenangkan, daripada mikirin negara.

: Abah Sarjang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *
You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>