Persoona.id – Akhir-akhir ini kita tampaknya sangat rajin memberi label pada segala sesuatu. Begitu rajin, sampai-sampai seni budaya pun tidak luput dari kebiasaan administratif itu.

Koq ada ya?
Festival Seni Budaya Islam. Nanti akan muncul juga Festival Seni Budaya Kristen, Festival Seni Budaya Hindu, atau kalau semangat klasifikasinya makin tinggi mungkin sekalian saja dibuat Festival Seni Budaya Islam Mazhab Maliki. Supaya lebih rapi.

Sebab rupanya seni budaya jaman sekarang harus jelas akidahnya. Seni budaya harus memiliki agama. Padahal selama ribuan tahun, budaya hidup tanpa perlu mengurus surat keterangan beragama apa.

Seni budaya lahir dari tanah yang sama, dari manusia yang sama, dari kehidupan sosial yang sama, dari sawah yang sama.

Seni budaya tumbuh dari kebiasaan manusia yang hidup berdampingan, bukan dari rapat Departemen Agama.

Tapi kita memang bangsa yang kreatif. Kalau sesuatu bisa dipecahkan, kenapa harus disatukan, karena kita memang punya bakat luar biasa untuk memecahnya.

Tarian dari Aceh? Segera diberi stempel, budaya Islam.
Lagu pujian dari Tapanuli? Langsung dimasukkan ke jenis budaya Kristiani.

Terus kalau saya Hindu, apakah tidak boleh menonton qasidahan. Atau kalau saya penghayat kepercayaan, apakah telinga saya harus ditutup ketika mendengar kidung natal?

Padahal budaya Nusantara justru lahir dari percampuran etnis yang begitu majemuk.
Arab datang, India datang, Cina datang, Eropa datang dan semuanya meninggalkan kesan juga jejak kebudayaan.

Bahasa bercampur. Musik bercampur. Tarian bercampur.
Masakan bahkan lebih parah lagi, rendang saja tidak pernah bertanya agama siapa yang memakannya.

Tapi manusia modern rupanya lebih cemas daripada nenek moyangnya sendiri.
Segala sesuatu harus diberi pagar. Diberi label. Diberi identitas rapi, seperti map arsip kantor kecamatan.

Kita merasa sedang menjaga kemurnian sesuatu. Padahal yang terjadi justru sebaliknya,
kita sedang menyempitkan sesuatu yang begitu luas.

Budaya itu sungai, mengalir melewati banyak kampung, menyentuh banyak manusia, memberi minum siapa saja yang datang. Tetapi manusia modern lebih suka menjadikan buaya sebagai kolam kecil dengan papan tulisan besar, “Hanya untuk golongan tertentu.”

Budaya yang sejak awal diciptakan untuk menyatukan manusia, sekarang dipaksa memilih agama./ksm