Persoona.id – Dunia menyaksikan sebuah fenomena budaya dan spiritual yang langka pada Sabtu, 21 Maret 2026. Dua perayaan besar kemanusiaan—Idulfitri 1447 Hijriyah dan Nowruz (Tahun Baru Persia)—jatuh secara bersamaan pada titik balik musim semi (vernal equinox).

Bagi lebih dari 300 juta orang yang merayakan Nowruz dan miliaran umat Muslim di seluruh dunia, momentum ini bukan sekadar kebetulan kalender. Ini adalah pertemuan antara kesucian spiritual Islam dan ketahanan budaya Persia yang telah berusia lebih dari tiga milenium.

Nowruz: Lebih dari Sekadar Identitas Persia
Masyarakat sering kali menyamakan Nowruz dengan identitas Persia secara sempit. Faktanya, Nowruz adalah warisan peradaban yang melintasi batas negara, dari Azerbaijan hingga Tajikistan. Jika Persia adalah akar sejarahnya, maka Nowruz adalah buah kebudayaan yang terus tumbuh meski diterjang badai geopolitik.

Diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia, Nowruz merayakan kebangkitan alam. Tahun ini, makna tersebut terasa kian dalam. Di tengah bayang-bayang ketegangan kawasan Timur Tengah, perayaan ini menjadi “oase” yang mengingatkan bahwa musim dingin sesulit apa pun pasti akan berganti menjadi musim semi yang hangat.

Filosofi di Meja Haft-Seen dan Kemenangan Fitrah
Di rumah-rumah penduduk Iran dan Asia Tengah, meja Haft-Seen tertata rapi dengan tujuh simbol kehidupan (seperti Sabzeh untuk kelahiran kembali dan Seeb untuk keindahan). Di saat yang sama, gema takbir Idulfitri berkumandang menandai kemenangan atas hawa nafsu.

Tradisi Khaneh Tekani (bersih-bersih rumah) yang menjadi ciri khas Nowruz, tahun ini bersenyawa dengan konsep Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa) dalam Idulfitri. Keduanya membawa pesan serupa: membuang beban masa lalu untuk menyambut masa depan yang lebih cerah.

Ketahanan Budaya di Tengah Geopolitik
Meski situasi politik dunia sedang memanas, perayaan ganda ini membuktikan bahwa nilai-nilai kemanusiaan, gotong royong, dan rasa syukur tidak bisa dibatasi oleh sekat politik. Nowruz dan Idulfitri 2026 menjadi pengingat kolektif bahwa harapan adalah energi yang tak pernah padam./ksm

Persoona.id – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB), Abdul Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Gus Muhaimin, menyampaikan pesan mendalam dalam rangka menyambut Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriyah, Sabtu (21/3/2026).

Gus Muhaimin menegaskan bahwa Idulfitri bukan sekadar perayaan ritual tahunan, melainkan momentum krusial bagi bangsa Indonesia untuk kembali ke fitrah kesucian dan memperkuat ikatan kebangsaan.

“Di tengah perbedaan, kita dipertemukan oleh nilai yang sama: saling memaafkan, saling menguatkan, dan saling menjaga sebagai satu bangsa,” tegas Gus Muhaimin di Jakarta.

Sebagai Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, ia memberikan penekanan khusus pada aspek solidaritas sosial. Menurutnya, semangat berbagi yang dipupuk selama Ramadan harus bertransformasi menjadi aksi nyata dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat pasca-lebaran.

Gus Muhaimin mendorong agar seluruh elemen bangsa fokus pada penguatan ekonomi keluarga dan dukungan terhadap usaha kecil sebagai jalan mewujudkan keadilan sosial.

“Pemberdayaan adalah kunci. Kita ingin masyarakat bangkit bersama, mendukung usaha kecil, dan membuka peluang bagi sesama. Dari situlah keadilan sosial bisa kita wujudkan,” lanjutnya.

Mengakhiri pesannya, Gus Muhaimin yang mewakili keluarga besar PKB menghaturkan permohonan maaf lahir dan batin kepada seluruh rakyat Indonesia, serta menitipkan salam hangat bagi para pemudik yang tengah berkumpul bersama keluarga di kampung halaman./***

Persoona.id – Pemerintah Kabupaten Karawang menggelar Festival Ngadulag Bedug dan Takbir Keliling dalam rangka menyambut Hari Raya Idulfitri 1447 H, Jumat (20/3/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Pemkab Karawang untuk membangkitkan kembali tradisi lama yang sarat nilai budaya dan religius di tengah masyarakat.

Festival ini tidak hanya menjadi ajang syiar Islam, tetapi juga diarahkan sebagai wadah kegiatan positif bagi masyarakat guna meminimalisir potensi aktivitas negatif pada malam takbiran. Antusiasme masyarakat terlihat dari partisipasi seluruh kecamatan yang turut ambil bagian dalam kegiatan ini.

“Alhamdulillah, ribuan masyarakat meriahkan. InsyaAllah kegiatan seperti inilah yang diinginkan masyarakat,” kata Bupati Karawang, H Aep Syaepuloh SE

Pelaksanaan festival dipusatkan di tiga titik, yakni Kantor Bupati Karawang sebagai pusat acara, Kecamatan Cikampek, dan Kecamatan Jayakerta. Penyelenggaraan di beberapa lokasi ini bertujuan untuk menjangkau partisipasi masyarakat secara lebih luas sekaligus menjaga kondusifitas wilayah.

Ajang budaya yang menampilkan kreativitas tabuhan bedug ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana melestarikan tradisi lokal.

Dalam pengumuman resmi panitia, grup peserta dari berbagai kecamatan menunjukkan performa terbaik mereka. Setelah melalui penilaian ketat dari dewan juri, akhirnya keluar sebagai juara utama adalah Grup Ngadulag dari Kecamatan Majalaya dengan skor 747.

Juara kedua diraih Grup Ngadulag dari Kecamatan Karawang Barat dengan skor 725. Sementara juara ketiga disabet oleh Grup Ngadulag dari Kecamatan Klari dengan skor 690.

Usai pelaksanaan festival, Bupati Karawang bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) melaksanakan monitoring pengamanan malam takbiran di sejumlah titik strategis, di antaranya Bunderan Ciplaz dan kawasan Galuh Mas.

Kegiatan monitoring ini dilakukan untuk memastikan situasi tetap aman, tertib, dan kondusif.

Pemerintah Kabupaten Karawang mengajak seluruh masyarakat untuk menyambut Hari Raya dengan penuh suka cita, serta terus menjaga ketertiban, keamanan, dan kebersamaan./kimkrw