KarawangUmar Al faruq SAg, anggota DPRD Kabupaten Karawang, memberikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan Musyawarah Daerah (Musda) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Karawang yang ke XV. Menurutnya, Musda ini merupakan momentum penting bagi pemuda Karawang untuk memberikan kontribusi yang lebih besar dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya daerah. 19 Desember 2024

“Musda KNPI ke XV adalah kesempatan emas bagi para pemuda Karawang untuk berperan aktif dalam mengembangkan potensi diri, serta berpartisipasi dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada di Kabupaten Karawang. Sebagai anggota DPRD, saya sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan ini karena memiliki dampak positif yang besar bagi kemajuan generasi muda dan perkembangan Kabupaten Karawang,” ujar Umar A lfaruq, Kamis (19/12/2024).

Umar juga berharap agar Musda ini dapat melahirkan pemimpin yang memiliki visi jelas untuk masa depan pemuda Karawang, serta mampu mengatasi tantangan yang dihadapi sektor sosial, ekonomi, dan pendidikan di Karawang. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemuda, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mewujudkan cita-cita bersama yang lebih besar.

“Saya berharap Musda ini dapat menghasilkan pemimpin yang tidak hanya fokus pada organisasi, tetapi juga mampu merumuskan visi jangka panjang untuk membangun Karawang secara lebih luas, baik dalam bidang sosial, ekonomi, maupun budaya. Pemuda Karawang harus menjadi motor penggerak perubahan yang positif,” tambah Umar.

Sebagai wakil rakyat, Umar Al faruq berkomitmen untuk terus memberikan dukungan penuh kepada KNPI Karawang. Ia juga mengajak seluruh pemuda Karawang untuk tetap semangat, menjaga persatuan, dan aktif berperan dalam memajukan daerah melalui berbagai program yang berbasis pada kreativitas, inovasi, dan kerja sama.

Dengan adanya dukungan penuh dari DPRD Karawang, Musda KNPI ke XV ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan pemuda yang berdaya saing tinggi dan siap menghadapi tantangan global, serta memberikan dampak positif bagi pembangunan daerah Karawang. (Qie)

Karawang – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karawang melalui Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Karawang menggelar Forum Satu Data Indonesia (SDI) di Ballroom Hotel Mercure Karawang, Rabu (18/12/2024). Forum tersebut resmi dibuka oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Karawang, H. Asep Aang Rahmatullah.

Dalam sambutannya, Sekda Aang menjelaskan bahwa Forum Satu Data Indonesia merupakan momentum penting yang tidak hanya mencerminkan semangat kolaborasi, tetapi juga menandai komitmen kita bersama dalam mewujudkan visi untuk mendorong kemajuan dalam pengelolaan data yang efektif dan berkelanjutan.

Baca juga : Kunjungan Kerja DPRD Jawa Barat ke Kepulauan Riau

“Waktu akan terus berjalan, begitupun kemajuan zaman, tidak ada yang mampu menghentikannya, dan demi mendukung tata pemerintahan yang baik, tentu kita harus mampu bersinergi dengan perubahan, termasuk dalam menyikapi dunia digital yang begitu masif,” ujarnya.

Ia meyakini, pihaknya akan terus menciptakan ekosistem data yang yang terintegrasi dan terpercaya. Sebab, data menjadi pondasi yang krusial dalam dalam pengambilan keputusan, pengembangan kebijakan, serta berbagai inovasi untuk untuk meningkatkan kualitas layanan publik.

“Semoga kegiatan Forum Satu Data Indonesia di Kabupaten Karawang mampu menjadi wadah komunikasi dan koordinasi untuk penyelenggaraan Satu Data Indonesia di Kabupaten Karawang. Mari kita berinovasi dan berkolaborasi dalam memanfaatkan kekuatan data demi kesejahteraan masyarakat, pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Untuk diketahui, Forum Satu Data Indonesia ini merupakan kolaborasi antara Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Karawang sebagai Pembina Data dan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Karawang sebagai Wali Data untuk wadah komunikasi dan koordinasi.

Pada forum tersebut itu pula dilakukan penandatanganan Komitmen Bersama Penyelenggaraan Satu Data Indonesia tingkat daerah di Kabupaten Karawang.***

Karawang – Yayasan Silang Budaya berkolaborasi dengan Kemendikbud melalui dana aspirasi Ketua Komisi X DPR RI, H. Syaiful Huda akan menggelar pertunjukan Sendratari Napak Rawayan Sang Wali Kawin Silang versi Silang Budaya pada Senin (8/8/2022)

Kegiatan tersebut bertempat di Pelataran Pedoman Jalan Syekh Quro Dusun Peundeuy I RT 003/008 Desa Karyamukti Kecamatan Lemahabang Karawang Jawa Barat.

Pertunjukan tersebut nantinya akan berusaha menampilkan kisah perjalanan Syech Quro atau Syech Hasanuddin Qurotul’ain bin Yusuf Idofi.

Ketua Yayasan Silang Budaya Kiki Syarifudin, Sendratari Napak Rawayan Sang Wali Kawin Silang mengungkapkan pertunjukan Sendratari bakal disuguhkan oleh para Seniman Karawang.

“Dibantu masyarakat Desa Karyamukti, Mas Yayan Katho dari Lesbumi PWNU Jabar dan Kang Oet Rizki di bagian setting, merupakan sebuah temu kangen para pekerja seni setelah sekian tahun terhalang Covid,” kata Aab.

Selain Sendratari, kata Aab, pesta rakyat ini juga menampilkan beberapa tim kesenian utusan dari desa sekitar dan ditutup dengan penampilan “Topeng Pendul” kesenian khas Karawang yang sudah berusia lebih dari satu abad.

“Sebagai suguhan utama, pertunjukan Sendratari yang berdurasi sekitar satu jam ini, bercerita tentang perjalanan Sang Wali, yakni Syech Quro, yang bernama lengkap Syech Hasanuddin Qurotul’ain Bin Yusuf Idofi dalam rangka menyebarkan ahlak Islam kepada masyarakat Karawang dan sekitarnya. Terutama masyarakat yang tinggal di sekitar Pelabuhan Tanjungpura,” jelasnya.

Kawin Silang Antara Islam dan Pikukuh Sunda
Lebih lanjut Aab juga menceritakan sebagai seorang Wali yang memiliki pandangan jauh ke depan, Sang Wali mengawinkan murid tercantiknya, Nyai Subang Larang pada seorang putra mahkota Pajajaran, Raden Pamanah Rasa, yang di kemudian hari menjadi Raja Pajajaran bergelar Sri Baduga Maharaja atau lebih dikenal dengan sebutan Prabu Siliwangi. Lewat perkawinan tersebut, kawin pula ajaran Islam dengan Pikukuh Sunda yang dianut masyarakat Pajajaran.

“Perkawinan Silang antara Islam dan Pikukuh Sunda berlangsung tanpa hambatan. Seperti umumnya perkawinan, tentu satu sama lain saling mempengaruhi, begitu pula pada kebudayaan masyarakat Sunda pada saat itu. Penyebutan Sang Hyang Taya menjadi Alloh, adalah pengaruh dari Islam yang masuk pada budaya Sunda, ibadah sholat menjadi sambehyang atau sembahyang, adalah pengaruh Sunda yang masuk pada Islam,” terangnya.

“Dari perkawinan silang ini lahirlah Islam yang khas, Islam yang memiliki warna tersendiri, yang sekarang sering disebut sebagai Islam Nusantara. Sebuah Kebudayaan Islam yang sudah mendarah daging dalam diri masyarakat Nusantara, selama ratusan tahun yang secara komunal berbeda dengan budaya Islam Arab,” tambahnya.

Penulis Naskah, Abah Sarjang mengungkapkan peristiwa masa lalu yang diangkat ke panggung, dengan bahan-bahan cerita terbatas, dipungut dari tradisi lisan yang sudah tersebar selama ratusan tahun, tentu memiliki berbagai versi.

“Tetapi ketidak-tepatan sejarah tersebut, bukan sebuah ruang terbuka untuk dibahas. Karena pertunjukan ini tidak sedang membahas detail sejarah,” jelasnya.

“Tetapi berusaha membumikan kembali semangat “silih asih silih asah-silih asuh dan silih wangikeun.” Semangat pikukuh lama dengan nilai-nilai luhur yang sudah menjadi jalan hidup masyarakat, dipadu-padankan dengan semangat kekinian yang bangkit setelah terhantam wabah,” ujarnya.

Perkawinan semangat inilah menurut Abah Sarjang, yang hendak diangkat dalam pertunjukan tersebut.

“Perkawinan indah adalah perkawinan yang direstui bumi dan langit. Dengan penuh pengharapan kami berdoa, semoga “Perkawinan Silang” ini direstui bumi dan langit,” pungkasnya./qie