Kupujai nama-Mu
Karena semesta tunduk pada-Mu
Kupahatkan agung-Mu
Dalam setiap langkah ini

Tiada lelah menyebut-Mu
Karena Engkau kekasih sejati
Tumpuan cinta yang sesungguhnya
Karena Engkau kekasih sejati
Jika selama ini ku abaikan Engkau
Karena kerlip dunia menipuku

Izinkan ku kembali, izinkan di pintu cahaya-Mu
Ku bersujud
Astagfirulloh Al Adzim
Kubawa jasad luka dari kubangan lumpur dosa
Astagfirulloh Al Adzim
Semoga Kau terima segala taubatku

: Abah Sarjang

Persoona.id – Katanya, kolonisasi Kwari, tidak membawa mariem, rudal, AK 47 atau granat. Tapi cukup di racun perlahan, di kasih penghargaan.

Orang-orang sekarang tidak perlu diintimidasi oleh tentara bersenjata, hanya dibandingkan dengan internet yang akan mereka blokir, cukup. Hanya karena bukan hiu juralit, jadi seperti ikan.

Dahulu masjid, kampus, dan sekretariat organisasi, mengamati, sab di tempat-tempat itu, kesadaran, gerakan dan perlawanan pertama kali lahir.

Sekarang tempat-tempat seperti itu aman. Di masjid jarongjon sholat dan sholat. Shaf rapih suara Imam Halimpu doa panjang dengan air mata Setelah salam, jemaah akan kembali ke dunia.

Di kampus jarongjon kajian suhud, rumus, teori menceritakan pidato profesor, atau menguji teori dokter, dan belajar di kantin atau segera berangkat kerja, untuk dosen sambil bekerja.

Di sekretariat organisasi, ya tidak ada bedanya. Aku kutuk yg terhormat, menghina pejabat yg jahil, munafik dan koruptor, menyalahkan takdir, sambil scroll hp. Mereka pikir situasi negara bisa berubah, keadilan akan jatuh dari langit, seperti paket gratis ongkir.

Para penjajah jaman dulu pasti iri, melihat gaya penjajah jaman sekarang. Pada akhirnya, penjajah harus memikirkan kembali, menyusun strategi adu domba, menunda jalur untuk menyeret para pemimpin gerilya dan menganalisa buku dan teori apa pun yang akan menekan massa. Sederhananya, anda harus benar-benar melihat ke bawah jika ada banyak masalah.

Dan sekarang?
Sekarang saya santai… Gak usah gitu, orang-orang udah di tindik hidung. Berikan hiburan setiap hari, berikan pekerjaan yang melelahkan, dan bayar sebentar. Bagaimana jika emosi dan kemarahan? Buat wadah saja untuk menyalurkan emosinya. Biarkan mereka duduk di dalam kontainer. Muak dengan semua kebencian media sosial, terkuras.

Aku tidak akan melakukannya. Aku tidak akan turun ke jalan, aku tidak akan bergerak. Bahkan lebih mengadakan demonstrasi besar-besaran terhadap gedung parlemen. Aku tidak akan melakukannya. Kemungkinan besar bikin status seperti ini. Di baca sama yg mau like dan komen Selesai. Udah kenyang scrolling, udah diem lagi Nyari kipayah lagi, makin susah.

Revolusi berakhir sebelum dimulai.

Semua kebaikan, simpati, empati, dan semangat keadilan, telah digantikan dengan tombol “kirim”.

Ditambah lagi ditekan oleh para pendeta, mendorong untuk menyebarkan firman suci. Sabar lah. Ikhlas. Percaya. Perbesar hati,asah indera, dekatkan diri pada Tuhan. Rejeki sudah ada yang ngatur.

Ya, jelas pemerintah yang bertanggung jawab. Tapi ini tidak diatur dan oh sayang. Pajak rendah, kerja keras, berusaha mendapatkan lebih banyak aturan, peraturan, dan birokrasi dalam bola kusut. Menjadi gila. Mau cepat pasti ada yang licin. Kalo ga ketawa, lama2 aja Modal usaha di pake makan, sambil nunggu izin yang gak mau keluar.

Tentu saja tidak seluruh komunitas tetap bingung. Akan ada, mereka yang terus menyerang rakyat, melakukan semua yang mereka bisa untuk meringankan penderitaan, tapi tidak banyak, dan jarang tertangkap kamera. Hal seperti itu tidak pernah menjadi viral.

Sesungguhnya negara kita tidak kekurangan orang-orang yang berhati baik dan memberi. Yang kurang adalah orang baik dengan keberanian. Berani melawan sistem busuk, berani membongkar dan mencambuk kesadaran, bahwa kita benar-benar sedang diserang.

Penjajah modern tidak memiliki bendera. Tidak ada bahasa asing atau asing. Jangan memutar rantai di kaki.

Hanya ada satu hal yang pasti. Aku pernah dipukuli, digosok, dan dipermainkan, hingga aku lupa, bahwa aku pernah punya keberanian.

Berani turun ke jalanan, berani berteriak melawan ketidak adilan, berani melawan meski resiko diinjak-injak atau digoda.

Sesungguhnya bukan doa yang tidak mati, tapi doa yang tidak melahirkan kekuatan. Semangat padam sebelum doa menjadi buah.

Penjajah akan terus berkeliaran, selama kita merasa terintimidasi oleh keadaan. Pelajar dan pemuda tidak tahu harus kemana. Hanya mencari kesenangan di waktu santai. Tetangga di dunia kepalsuan. Tidak ingin mengubah situasi.

Bersantai…
Selagi kuota masih ada, baterai belum padam. Scroll screen itu lebih menyenangkan, daripada mikirin negara.

: Abah Sarjang

Persoona.id – Sampai saat ini kita berusaha percaya, tentang Ratu Adil, yang akan hadir saat keadilan tercerai-berai serupa puing. Kesenjangan memuncak semakin lancip. Rakyat perutnya kosong, sedangkan penguasa dan pemilik modal, tajir melintir.

Banyak yang apatis, nyinyir dan menganggap mitos lama. Tentang Ratu Adil yang ditunggu-tunggu. Belum lahir, keburu terbunuh, atau mungkin tak kunjung datang.

Sementara yang tak pernah absen berkunjung, malah notifikasi, pemberitahuan dan dering nomer asing, yang tak bosan memanggil tagihan pinjol.

Keadaan kian tak berpihak, kesejahteraan cuma jargon. Dan kita menelan kekecewaan dengan rebahan, sekrol medsos, tertawa sendiri saat melihat potongan video pendek, sesekali mengumpat menyaksikan kilasan derita di layar kita. Setelah itu mendengarkan musik dan tidur.

Jika keadaan gamang seperti ini terjadi pada tahun 1980-an atau 1990-an, barangkali Indonesia tidak akan setenang hari ini. Harga sembako melonjak, PHK membabi buta, pajak mencekik, petani dipersulit, nelayan terabaikan, buruh diperas. Pada era itu, akumulasi ketidakadilan hampir selalu berujung pada satu tempat. Jalan raya. Spanduk terbentang, suara menggema, dengan risiko diculik atau ditembak, tak peduli, yang penting negara dipaksa mendengar suara jelata.

Peristiwa 98 adalah cerita yang masih tertera dalam ingatan generasi lama. Kemarahan kolektif menemukan tubuhnya. Mahasiswa, buruh, ibu rumah tangga, bahkan pedagang kecil, semuanya turun bersama. Sejarah pun bergeser.

Hari ini, dengan beban hidup yang tak kalah berat. Bahkan mungkin permasalahan yang menimpa lebih kompleks, lebih menghimpit dan lebih getir. Tapi masyarakat masih mempertahankan posisi rebahannya. Hanya ramai dengan suara-suara sunyi. Tidak bisa disebut diam, tapi kenyataannya memang tidak bergerak. Ada kritik, tapi terpecah. Ada amarah, tapi menguap.

Begitu hebatnya teknologi. Media sosial telah mengubah cara kita mengekspresikan marah, kecewa dan ketidak-puasan.
Dulu, kemarahan butuh ruang bersama. Perlu dikumpulkan, dirawat dan dirumuskan. Sekarang, kemarahan cukup diberi kolom komentar. Cukup diketik. Cukup dibagikan. Lalu selesai.

Ada rasa lega, seolah telah melakukan sesuatu. Padahal yang berubah hanya suasana hati kita. Bukan struktur kekuasaan.

Media sosial memberi kita ilusi paling nyaman, ilusi perlawanan tanpa risiko.
Tak perlu panas matahari, air minum kemasan, nasi bungkus atau semburan gas air mata. Tidak ada persekusi aparat atau ketakutan ditangkap. Cukup marah dari kasur atau duduk merokok di kursi depan, sambil mengaktifkan jari.

Inilah apatisme bentuk baru. Bukan apatis yang bisu, justru apatis yang cerewet. Kita tidak lagi diam, namun tidak benar-benar melawan. Tajam mengkritik, tapi masing-masing. Lantang bersuara, tapi tercerai-berai. Aksi menggelar spanduk cuma lewat upload. Algoritma memastikan kemarahan kita berputar di lingkaran yang sama. Ramai, namun tak mengancam siapapun di atas sana.

Kekuasaan memanfaatkan semua ini dengan baik. Rakyat yang marah secara kolektif, berbahaya. Sedangkan kalau marahnya secara individual, aman.
Untuk itu, melalui algoritma, konflik dialihkan ke mana-mana. Menjadi permasalahan identitas, jadi perdebatan receh, atau saling ejek antar sesama. Solidaritas dikikis dengan perlahan, menyisakan kebisingan horizontal tanpa arah. Bukan tekanan masal yang vertikal.

Mungkin fenomena ini tidak dirancang sebegitu rapinya. Namun celah-celahnya amat terbuka untuk dimanfaatkan. Lama-lama ya dinormalisasi. Dracin contohnya, di negara asalnya Cina, sudah ada larangan ditonton. Di kita malah subur, memanjakan khayalan dan iming-iming poin. Judol memang dilarang, tapi oknum-oknum Komdigi membuka dan membuat ribuan situsnya.

Bukan berarti masyarakat hari ini bodoh dan malas. Namun pemerintah telah memberi kita suntikan kelelahan masal. Lelah mencari nafkah tanpa jaminan kepastian hidup. Capek membaca deretan pajak yang kian mebebani. Muak dengan janji dan sistem yang terus-terusan mengecewakan. Pekak telinga mendengar pidato omon-omon. Sebuah kelelahan yang diciptakan.

Media sosial datang sebagai obat murah, tempat curhat, tempat marah, tempat merasa ditemani, meski sebenarnya sendirian.

Sayangnya, sejarah tidak berubah karena pelepasan emosi. Hanya ledakan umpatan, lalu dilupakan.

Sejarah menuntut emosi yang dikonsolidasikan, diakumulasikan dan diwujudkan menjadi gerakan.Dari status ke struktur. Dari viral ke nyata. Dari individual ke kolektif.

Tanpa ada gerak kompak yang nyata, kita akan terus hidup dalam paradoks. Negara bermasalah, rakyat marah,
tapi kekuasaan tetap tenang. Karena mereka tahu, kemarahan kita akan berhenti di layar dan perlawanan kita akan mati, saat baterai habis.

Ratu Adil tak mungkin datang, sekonyong-konyong menyelamatkan. Kita harus mempersiapkan jalannya, siapkan kehadirannya, dengan cara terus berisik walau masih tercerai-berai.

Seperti yang dikatakan Teh Kumaila Hakimah.
“Kurangi doa, banyakin kritik pemerintah.”

Semoga bising ini menjadi gerakan.
: Abah Sarjang

Duhai Kau yang mengerti bahasa diam
Maha Tahu dari segala yang tahu
Yang hafal samudera kedalaman jiwa
Tiada rahasia yang menjadi rahasiaMu

Di lengkung batas cakrawala
Dan di cakrawala yang tanpa batas
Semoga dengan kekuasaanMu
Tuhanku

Kau sentuh hatinya dengan cinta
Cinta yang membimbingnya
Ke pelukanku.

: Abah Sarjang

Tembang-tembang cinta
Dari palung jiwa terdalam
Berkumandang
Sambut semburat pelangi pagi

Rasakanlah kehangatan
Basuhi tubuhmu
Baluri sgala sendi dengan senyum wangi surgawi
Oo damailah jiwa
Oo damailah jiwa

Alangkah indah bila kita
Tebarkan kasih pada semesta
Alangkah berarti saat diri
Jadi bagian alam raya ini

Mari bersama kita gali sumur nurani
Agar kebeningan
Terasa sejuknya terasa sejuknya
Genggam berpegangan tangan
Saling menjaga saling berbagi
Hidup berdampingan,
Damai meraja damai meraja…

: Abah Sarjang

Tuhan
Aku datang berselendang kabut malam
yang berat mengangkut ribuan ton kekecewaan
makhluk-makhluk tersisih mati kehabisan nafas,
dan kelaparan di negri hijau berbunga.
Izinkan ku bersimpuh
pada sajadah kusut masai yang legam dinoda dendam,
cemburu karena laut tak lagi bening,
ikan-ikan berenang di limbah jelaga
dan anak-anak camar mati sebelum bisa terbang.

Tuhan
Serigala tak lagi berbulu domba
Setelan jas dan dasi kemewahan menghiasi penyamarannya
Senyum ramah, mata haus darah, lidah menjulur, liur menetes,
menerkam mencabik nasib sikecil nyinyir
yang terlanjur hidup di dogma ragu dan sangsi
Sang serigala tak lagi berbulu domba,
taringnya disembunyikan dalam kata- kata manis muluk,
dilumuri madu perdamaian dan kecerahan masa depan.
“Dari rakyat”
(kuperas habis keringat, darah dan akal budi demi kepentinganku)
“Oleh rakyat”
(derajatku ditinggikan, kedudukanku dinobatkan)
“Untuk rakyat”
(segala tulang belulang, sampah,
limbah dan sisa-sisa berbau busuk penuh racun)
Dan srigala berpesta pora gegap gempita

Dan makhluk tersisih mengais sisa-sisa demi lapar yang kian meraja
Bumi tak lagi bersemi, bunga-bunga ragu mekar
Ilalang kecewa dan mati kekeringan
Langit tak lagi berbintang, mega-mega lupa hujan
Bintang-bintang temaram dan semakin temaram

Tuhan
Jalan-jalan beraspal dan jembatan beton dibangun lintang melintang
Kendaraan sesak antri kemasing-masing tujuan
Namun jalan ketempat-Mu begitu lenggang hanya beberapa musyafir
sunyi yang kesepian dan lelah dalam hidup
Ada juga mereka yang berkendaraan atas namaMu, namun kulihat hanya
mengejar kursi empuk di atas bara api

Tuhan
Tampuk kepemimpinan bukan lagi tampuk beban tanggungjawab
bagi kemakmuran rakyat
Kepemimpinan adalah mesin pencetak uang bagi kemakmuran sendiri
Kaum muda dijejali idola-idola gamang
dan tercetak budaya yang bukan budayanya
Yang perempuan kehilangan rasa ibu di hatinya rela telanjang pamer
badan tanpa harus malu demi mode jaman…….

Tuhan
Kubawa keluh kesah ini padamu
Karena yang bertelinga telah kehilangan pendengarannya.

VERSI LAGU

Tuhan aku datang
Berselendang kabut malam
Yang berat mengangkut ribuan ton kekecewaan

Mahluk-mahluk tersisih,
Mati kehabisan nafas dan kelaparan di negeri,
hijau berbunga

Tuhanku, ya robbi, tempatku, bersujud
Tuhanku, ya robbi, arahku, bermaksud

Terimalah doa kami, ya robbi
Terimalah sembah sujud kami

Terimalah doa kami, ya robbi
Terimalah keluh kesah kami

Bumi tak lagi bersemi
Bunga-bunga ragu mekar
Ilalang kecewa dan mati
Mati kekeringan

Langit tak lagi berbintang
Mega-mega lupa hujan
Bintang-bintang temaram
Dan semakin temaram.

: Abah Sarjang

Ada sembilu
Menoreh sumsum tulang punggung
Saat nafas perpisahan
Meretak di ujung lidah

Lambaianmu lebih tipis dari angin
Yang menancap di ruas-ruas tulang
Pipimu dingin dan beku
Gigilnya meremas urat

Tiba-tiba langit menyempit
Udara berubah padat
Airmata dan rintihan
Menancap tepat di pusat jantung

Kau melenggang tenang meniti tangga langit
Menyisakan aroma balsem
Dan gumam penghabisan
Hanya kelambu, Ma
Hanya kelambu.

: Abah Sarjang

Mencintaimu adalah
Belajar memahami ranting
Perlu sepasang sayap yang ringan
Untuk hinggap
Di rapuh cabang anganmu


Mengertimu adalah
Menusuk jantung dengan jarum
Merejam jiwa dengan kesabaran
Sebelum tersengat
Racun kekecewaan.

: Abah Sarjang

Untuk Ibu Hj. Suhati Binti Suhamin

Bila masih ada waktu
Beri aku waktu
Untuk bertemu

Bila masih ada saat
Walau hanya sesaat
Ku ingin memelukmu

Tumpahkan berat beban hidup
Karena hanya di pangkuanmu
Segala sesak dan luka
Menemu muara

Ibu aku merindu
Di batu nisanmu aku mengadu
Selaut sesal tenggelamkan rasa
Dihempas gelombang lara
Tak sempat mencintaimu semestinya

Tuhan
Lapangkan jalannya
Rengkuhlah ia naungi dalam kasihMu

Tuhan
Sayangi ia
Seperti ia menyayangiku
Di saat belia

: Abah Sarjang