Karawang – Smart Village Klari menggelar pelatihan literasi digital di Aula Kantor Desa Klari, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang. Puluhan warga dari berbagai latar belakang mengikuti kegiatan ini dengan antusias. Pelatihan tersebut menghadirkan jurnalis profesional dari TV Berita Karawang, Didi Suheri, M.Sos, sebagai narasumber utama. Kamis, 27/72023

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis berita dan pemahaman literasi digital bagi masyarakat Desa Klari, sekaligus mendukung pengembangan 6 pilar Smart Village yang sedang diterapkan di desa tersebut.

Kepala Desa Klari Dukung Literasi Digital
Kepala Desa Klari, Aan Anengsih, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan yang mendukung warganya untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial serta mengembangkan kemampuan menulis.

“Alhamdulillah, dengan adanya pelatihan literasi digital terutama terkait menulis berita dan pemanfaatan media sosial ini, semoga para peserta dapat mengikuti dengan baik dan mengaplikasikan ilmunya secara bijak dalam bermedia sosial,” ujar Aan dalam sambutannya.

Ia juga menyoroti pentingnya Ruang Komunitas Digital Desa (RKDD) sebagai wadah pemberdayaan digital. Menurutnya, RKDD sejalan dengan upaya Desa Klari untuk mengimplementasikan 6 pilar Smart Village, yaitu pemerintahan cerdas, ekonomi cerdas, lingkungan cerdas, masyarakat cerdas, mobilitas cerdas, dan kehidupan masyarakat yang sejahtera.

Fokus pada Literasi Digital dan Etika Jurnalistik
Kader Digital Desa Klari, Showman Barkah, menambahkan bahwa pelatihan ini dirancang untuk membekali komunitas RKDD dengan kemampuan literasi digital, termasuk pemahaman kode etik jurnalistik.

“Kami mengundang Kang Didi, jurnalis dari TV Berita, sebagai narasumber. Harapannya, komunitas RKDD ini dapat memahami literasi digital, mampu menulis berita yang baik, serta menangkal dan memfilter pemberitaan hoaks,” jelas Showman.

Pelatihan ini diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk perangkat desa, pemuda, perwakilan perempuan, dan anggota komunitas RKDD. Mereka dilatih untuk memanfaatkan media sosial secara cerdas dan mengembangkan kemampuan menulis berita yang sesuai dengan kaidah jurnalistik.

Mendorong Desa Klari Menuju Smart Village
Kegiatan ini menjadi langkah besar bagi Desa Klari dalam mewujudkan visi sebagai desa berbasis Smart Village di Kabupaten Karawang. Dengan adanya pelatihan literasi digital, diharapkan masyarakat dapat memanfaatkan teknologi secara positif dan produktif.

Melalui kolaborasi antara pemerintah desa, komunitas digital, dan tokoh profesional, Desa Klari semakin dekat dengan tujuan untuk menjadi desa yang cerdas, mandiri, dan sejahtera./qie

Karawang – Yayasan Silang Budaya berkolaborasi dengan Kemendikbud melalui dana aspirasi Ketua Komisi X DPR RI, H. Syaiful Huda akan menggelar pertunjukan Sendratari Napak Rawayan Sang Wali Kawin Silang versi Silang Budaya pada Senin (8/8/2022)

Kegiatan tersebut bertempat di Pelataran Pedoman Jalan Syekh Quro Dusun Peundeuy I RT 003/008 Desa Karyamukti Kecamatan Lemahabang Karawang Jawa Barat.

Pertunjukan tersebut nantinya akan berusaha menampilkan kisah perjalanan Syech Quro atau Syech Hasanuddin Qurotul’ain bin Yusuf Idofi.

Ketua Yayasan Silang Budaya Kiki Syarifudin, Sendratari Napak Rawayan Sang Wali Kawin Silang mengungkapkan pertunjukan Sendratari bakal disuguhkan oleh para Seniman Karawang.

“Dibantu masyarakat Desa Karyamukti, Mas Yayan Katho dari Lesbumi PWNU Jabar dan Kang Oet Rizki di bagian setting, merupakan sebuah temu kangen para pekerja seni setelah sekian tahun terhalang Covid,” kata Aab.

Selain Sendratari, kata Aab, pesta rakyat ini juga menampilkan beberapa tim kesenian utusan dari desa sekitar dan ditutup dengan penampilan “Topeng Pendul” kesenian khas Karawang yang sudah berusia lebih dari satu abad.

“Sebagai suguhan utama, pertunjukan Sendratari yang berdurasi sekitar satu jam ini, bercerita tentang perjalanan Sang Wali, yakni Syech Quro, yang bernama lengkap Syech Hasanuddin Qurotul’ain Bin Yusuf Idofi dalam rangka menyebarkan ahlak Islam kepada masyarakat Karawang dan sekitarnya. Terutama masyarakat yang tinggal di sekitar Pelabuhan Tanjungpura,” jelasnya.

Kawin Silang Antara Islam dan Pikukuh Sunda
Lebih lanjut Aab juga menceritakan sebagai seorang Wali yang memiliki pandangan jauh ke depan, Sang Wali mengawinkan murid tercantiknya, Nyai Subang Larang pada seorang putra mahkota Pajajaran, Raden Pamanah Rasa, yang di kemudian hari menjadi Raja Pajajaran bergelar Sri Baduga Maharaja atau lebih dikenal dengan sebutan Prabu Siliwangi. Lewat perkawinan tersebut, kawin pula ajaran Islam dengan Pikukuh Sunda yang dianut masyarakat Pajajaran.

“Perkawinan Silang antara Islam dan Pikukuh Sunda berlangsung tanpa hambatan. Seperti umumnya perkawinan, tentu satu sama lain saling mempengaruhi, begitu pula pada kebudayaan masyarakat Sunda pada saat itu. Penyebutan Sang Hyang Taya menjadi Alloh, adalah pengaruh dari Islam yang masuk pada budaya Sunda, ibadah sholat menjadi sambehyang atau sembahyang, adalah pengaruh Sunda yang masuk pada Islam,” terangnya.

“Dari perkawinan silang ini lahirlah Islam yang khas, Islam yang memiliki warna tersendiri, yang sekarang sering disebut sebagai Islam Nusantara. Sebuah Kebudayaan Islam yang sudah mendarah daging dalam diri masyarakat Nusantara, selama ratusan tahun yang secara komunal berbeda dengan budaya Islam Arab,” tambahnya.

Penulis Naskah, Abah Sarjang mengungkapkan peristiwa masa lalu yang diangkat ke panggung, dengan bahan-bahan cerita terbatas, dipungut dari tradisi lisan yang sudah tersebar selama ratusan tahun, tentu memiliki berbagai versi.

“Tetapi ketidak-tepatan sejarah tersebut, bukan sebuah ruang terbuka untuk dibahas. Karena pertunjukan ini tidak sedang membahas detail sejarah,” jelasnya.

“Tetapi berusaha membumikan kembali semangat “silih asih silih asah-silih asuh dan silih wangikeun.” Semangat pikukuh lama dengan nilai-nilai luhur yang sudah menjadi jalan hidup masyarakat, dipadu-padankan dengan semangat kekinian yang bangkit setelah terhantam wabah,” ujarnya.

Perkawinan semangat inilah menurut Abah Sarjang, yang hendak diangkat dalam pertunjukan tersebut.

“Perkawinan indah adalah perkawinan yang direstui bumi dan langit. Dengan penuh pengharapan kami berdoa, semoga “Perkawinan Silang” ini direstui bumi dan langit,” pungkasnya./qie

Karawang – Dalam sebuah momen yang penuh makna, Rahmat Hidayat Djati (RHD), Ketua DPC PKB Kabupaten Karawang, menerima sebuah lukisan realis dari seniman dan budayawan asal Karawang, Abah Sarjang. Lukisan tersebut menampilkan wajah RHD yang gagah, mengenakan setelan biru dan iket Sunda, serta menggambarkan penghargaan dan apresiasi dari Abah Sarjang terhadap kontribusi politik yang telah diberikan oleh RHD untuk daerahnya.

Abah Sarjang, yang dikenal sebagai tokoh seni dan budaya asal Desa Kedawung, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Karawang, menyampaikan bahwa lukisan tersebut adalah bentuk penghargaan atas peran besar yang dimainkan oleh RHD dalam kemajuan Karawang. “Lukisan ini sebagai bentuk apresiasi buat Kang RHD, beliau tokoh politik Karawang dan saya harap masih banyak hal yang bisa diperbuat oleh Kang RHD untuk Karawang ke depannya,” ujar Abah Sarjang pada Senin, 10 Januari 2022.

Menerima hadiah yang berharga ini, RHD mengungkapkan rasa terima kasihnya dan mengapresiasi keahlian Abah Sarjang dalam melukis. “Abah Sarjang mengirim puisi dan lukisan, saya tersanjung mengapresiasi kepada beliau, yang merupakan budayawan sekaligus seniman terkemuka di Karawang,” ungkap RHD. Ia juga memberikan pujian atas kemampuan Abah Sarjang dalam menangkap esensi dari fenomena sosial yang ada di sekitar, yang dituangkan melalui karya seni yang sangat jujur dan tanpa tendensi.

Selain dikenal sebagai pelukis, Abah Sarjang juga diakui sebagai budayawan yang memiliki kontribusi besar dalam dunia seni dan budaya Karawang. Beberapa tokoh terkenal lainnya, seperti Ketua DPRD Kabupaten Karawang Pendi Anwar, juga pernah dilukis oleh Abah Sarjang, yang memperlihatkan kemampuannya dalam mengabadikan wajah tokoh-tokoh penting di daerah tersebut.

Kisah tentang hadiah lukisan ini tidak hanya menunjukkan keindahan seni visual, tetapi juga menunjukkan betapa pentingnya seni sebagai media apresiasi, komunikasi, dan penghormatan terhadap kontribusi para tokoh yang berperan dalam masyarakat. Dengan karya-karya seperti ini, Abah Sarjang turut berperan dalam memajukan budaya dan seni di Karawang, serta menambah kekayaan sejarah seni daerah tersebut./qie