Jakarta – Polemik penghentian tenaga pendamping profesional (TPP) oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDT) terus menuai sorotan. Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Syaiful Huda, menilai kebijakan tersebut tidak didasarkan pada indikator kinerja yang jelas dan mengingatkan agar pengelolaan tenaga pendamping desa dilakukan secara profesional, bukan berdasarkan alasan suka atau tidak suka (like and dislike). Senin 03/03/2025

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Perkumpulan Tenaga Pendamping Desa Indonesia (Pertepedesia) yang dihadiri lebih dari 100 perwakilan dari seluruh Indonesia di Gedung DPR RI, Huda menegaskan bahwa pengelolaan tenaga profesional di kementerian atau lembaga negara harus berlandaskan Key Performance Indicator (KPI) yang terukur.

Baca juga : Sosialisasi Perda Lingkungan Hidup di Pondok Pesantren Al-Fathimiyah

“Kami meminta agar pengelolaan tenaga pendamping profesional tidak dilakukan berdasarkan faktor emosional atau politis. Harus ada indikator kinerja yang jelas untuk memastikan mereka bekerja sesuai dengan tujuan keberadaan mereka,” kata Huda.

Pencalonan Sebagai Caleg Bukan Alasan Penghentian
Huda mempertanyakan keputusan Kemendes PDT yang menghentikan sejumlah TPP karena mereka mencalonkan diri sebagai anggota legislatif (caleg). Menurutnya, alasan tersebut tidak memiliki dasar hukum yang kuat. Ia menegaskan bahwa TPP memiliki hak politik yang dilindungi oleh undang-undang untuk mencalonkan diri dalam pemilihan legislatif.

“Dari sudut pandang hukum, TPP yang maju sebagai caleg tidak melanggar aturan apa pun. Tidak ada laporan pelanggaran dari Bawaslu atau KPU yang melibatkan mereka. Jadi, penghentian mereka terasa tidak berdasar dan dibuat-buat,” ujarnya.

Huda juga mengungkapkan bahwa berdasarkan laporan Pertepedesia, Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebelumnya telah berkomunikasi dengan Kemendes PDT dan menyatakan bahwa tidak ada masalah jika tenaga pendamping desa mencalonkan diri sebagai caleg. Namun, keputusan sepihak untuk menghentikan mereka justru menciptakan ketidakpastian dan kerugian bagi para pendamping desa.

Pendamping Desa dari Berbagai Partai Politik
Lebih lanjut, Huda menjelaskan bahwa TPP yang mencalonkan diri sebagai caleg tidak hanya berasal dari satu partai politik tertentu. Mereka berasal dari berbagai partai besar, seperti PDI Perjuangan, PKB, Golkar, hingga Gerindra. Hal ini menunjukkan bahwa pencalonan mereka tidak didorong oleh kepentingan politik tertentu, melainkan sebagai wujud keinginan untuk berkontribusi lebih besar bagi pembangunan desa.

“Selama ini, pendamping desa yang maju sebagai caleg berasal dari berbagai partai politik. Tidak ada dominasi satu partai, dan hal ini membuktikan bahwa pencalonan mereka adalah hak politik pribadi yang tidak perlu dipersoalkan,” ujar Huda.

Baca juga : Kesunnahan Shalat Tarawih dan Keutamaan Doa Kamilin di Bulan Ramadan

Desakan Pengelolaan yang Profesional
Huda menyerukan agar pengelolaan tenaga pendamping desa, pendamping keluarga harapan di Kemensos, atau penyuluh koperasi di Kementerian Koperasi dan UKM dilakukan secara profesional. Ia menekankan pentingnya kontrak kerja yang mengedepankan KPI yang jelas dan tujuan yang terukur.

“Kami mendukung langkah-langkah hukum maupun politik yang diambil oleh para TPP yang merasa dirugikan. Mereka adalah aset penting bagi pembangunan desa dan harus diperlakukan dengan adil,” tutup Huda.***

Karawang – Ketua Komisi I DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Rahmat Hidayat Djati, memimpin kegiatan sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Jawa Barat Nomor 4 Tahun 2023 tentang Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH). Acara ini berlangsung di Pondok Pesantren Al-Fathimiyah, Telukjambe Timur, Karawang, dan dihadiri oleh kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dari DPAC Telukjambe Timur, santri, ulama, serta tokoh masyarakat sekitar pesantren. Minggu 02/03/2025

Baca juga : Kesunnahan Shalat Tarawih dan Keutamaan Doa Kamilin di Bulan Ramadan

Pentingnya Perda untuk Masa Depan Lingkungan
Dalam acara ini, H. Rahmat Hidayat Djati menekankan pentingnya Perda tersebut sebagai langkah strategis dalam melestarikan lingkungan hidup di Jawa Barat. Ia menjelaskan bahwa Perda ini bertujuan untuk melindungi sumber daya alam, menekan kerusakan lingkungan, dan memastikan pembangunan yang berkelanjutan.

“Lingkungan hidup adalah tanggung jawab kita bersama. Perda ini memberikan panduan kepada masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha untuk bersinergi dalam menjaga keberlanjutan lingkungan,” ujar H. Rahmat.

Ia juga menyoroti peran penting pesantren, ulama, dan generasi muda, terutama santri, dalam menyebarkan kesadaran lingkungan kepada masyarakat.

Keterlibatan Kader PKB dan Masyarakat Pesantren
Sosialisasi ini diikuti oleh kader-kader PKB dari DPAC Telukjambe Timur yang turut memberikan dukungan terhadap implementasi Perda tersebut. Kehadiran mereka memberikan semangat tersendiri dalam membangun sinergi antara pemerintah, partai politik, dan masyarakat dalam menjaga lingkungan hidup.

Selain itu, para ulama dan santri dari Pondok Pesantren Al-Fathimiyah juga antusias mengikuti sosialisasi ini. Para peserta berkomitmen untuk berperan aktif dalam menyebarkan nilai-nilai keberlanjutan dan pentingnya menjaga lingkungan hidup.

Diskusi Interaktif dan Komitmen Bersama
Kegiatan ini tidak hanya berupa pemaparan materi, tetapi juga diwarnai diskusi interaktif untuk mendengar aspirasi dan pandangan masyarakat mengenai isu lingkungan. Salah satu ulama yang hadir menyampaikan, “Kami di pesantren siap mendukung program ini, karena menjaga lingkungan adalah bagian dari ajaran agama yang mengajarkan kita untuk merawat bumi sebagai amanah Allah.”

Baca juga : Suasana Khidmat Shalat Tarawih Perdana Ramadan 1446 H di Karawang


Santri yang hadir juga menyampaikan ide-ide kreatif mereka, seperti program daur ulang sampah di lingkungan pesantren dan kampanye peduli lingkungan melalui media sosial.

Harapan untuk Perubahan Positif
Dengan kegiatan ini, diharapkan masyarakat, khususnya di kawasan Telukjambe Timur, semakin memahami pentingnya melestarikan lingkungan hidup. Keterlibatan santri, ulama, dan kader PKB menjadi bukti nyata adanya komitmen bersama untuk mendukung implementasi Perda Nomor 4 Tahun 2023./asr

Karawang – Prestasi membanggakan kembali diraih oleh siswa-siswi SDN Palumbonsari IV Karawang di ajang bergengsi Festival Baris Berbaris (Floris) se-Pulau Jawa. Pada perlombaan yang berlangsung 15 Februari 2025 lalu, tim Paskibra sekolah ini berhasil memborong berbagai penghargaan, termasuk Juara Utama ke-3, Danton Terbaik 3, Pelatih Terbaik 3, Variasi Formasi Terbaik 2, Pasukan Terfavorit 3, dan PBB Terbaik 3. Minggu 02/03/2025

Baca juga : Sosialisasi Perda Lingkungan Hidup di Pondok Pesantren Al-Fathimiyah

Kegigihan Mengukir Prestasi
Pembina Paskibra SDN Palumbonsari IV, Gina Ginarti, mengungkapkan kebanggaannya atas pencapaian luar biasa ini. Bahkan, ini bukan pertama kalinya sekolah ini menunjukkan dominasinya dalam dunia baris-berbaris. Sebelumnya, mereka juga sukses menyabet Juara Umum Madya 2 di ajang perlombaan paskibra tingkat nasional di Indramayu. Pada ajang tersebut, tim juga meraih penghargaan untuk kategori Danton Populer 1, Pelatih Populer 1, dan Pasukan Populasi 1.

“Sejak tahun 2010, kami sudah menjadi langganan juara Paskibra. Bahkan piala-piala ini sudah tidak muat di tempat penyimpanan,” ujar Gina dengan penuh semangat.

Peningkatan Melalui Ekstrakurikuler
Kepala SDN Palumbonsari IV, Nining, turut mengapresiasi keberhasilan siswa-siswinya. Ia berkomitmen untuk terus mendukung dan mengembangkan bakat siswa melalui kegiatan ekstrakurikuler.

“Saya ingin ekstrakurikuler ini tidak hanya menjadi tempat berkegiatan, tetapi juga menjadi wadah untuk memaksimalkan minat dan bakat siswa sehingga mereka dapat terus berprestasi,” jelas Nining.

Semangat Berprestasi Tak Pernah Padam
Prestasi yang diraih SDN Palumbonsari IV membuktikan bahwa dengan dedikasi, latihan, dan dukungan yang maksimal, siswa-siswi dapat mencapai hal-hal luar biasa. Keberhasilan ini tidak hanya menjadi kebanggaan sekolah, tetapi juga menginspirasi siswa lainnya untuk terus berkarya dan berprestasi.

Baca juga : Suasana Khidmat Shalat Tarawih Perdana Ramadan 1446 H di Karawang

SDN Palumbonsari IV Karawang sekali lagi mengukuhkan diri sebagai sekolah dengan tradisi juara yang konsisten. Semoga prestasi ini terus berlanjut dan menjadi motivasi bagi dunia pendidikan di Kabupaten Karawang.***

Jakarta – Umat Islam Indonesia saat ini sudah memasuki bulan Ramadhan 1446 H. Hal yang tak boleh terlewat dalam mengisi bulan istimewa ini adalah shalat tarawih yang dilaksanakan saban usai shalat Isya. Shalat sunnah ini boleh dilaksanakan secara sendiri maupun berjamaah. Kesunnahan shalat tarawih ini ditegaskan Syekh Taqiyuddin Al-Hishni dalam kitab karyanya yang berjudul Kifayah al-Akhyar. Menurutnya, kesepakatan seluruh ulama dari berbagai mazhab, tidak dianggap pendapat-pendapat yang menyelisihi konsensus tersebut, mengenai kesunnahan shalat tarawih.

Baca juga : Suasana Khidmat Shalat Tarawih Perdana Ramadan 1446 H di Karawang

“Adapun Shalat Tarawih, tidak diragukan lagi di dalam kesunahannya. Kesepakatan ulama telah menjadi kukuh di dalam kesunahannya, yang demikian dikatakan tidak hanya satu orang. Tidak dianggap pendapat-pendapat yang menyimpang,” demikian Syekh Taqiyuddin al-Hishni dalam kitab Kifayah al-Akhyar. Selepas shalat tarawih, biasanya umat Islam melanjutkannya dengan melaksanakan shalat witir. Namun sebelum menunaikan shalat witir itu, biasanya umat Islam memanjatkan doa lepas shalat tarawih yang biasa dikenal dengan Doa Kamilin.

Penyebutan istilah itu mengingat redaksi di awal doa tersebut, yakni kâmilîn yang bisa diartikan memohon agar dijadikan sebagai orang yang sempurna keimanannya. Ustadz Mahbib Khoiron menjelaskan bahwa substansi doa Kamilin cukup komplet, sebagaimana ia tulis dalam artikelnya berjudul Doa Kamilin, Dibaca Sesudah Shalat Tarawih. Sebab, doa ini meliputi aspek duniawi dan ukhrawi, kenikmatan dan kesulitan, meminta keberkahan malam mulia, diterimanya amal, dan lain sebagainya. Doa ini juga, tulisnya, hampir selalu dibaca oleh umat Islam di Tanah Air dan termaktub dalam kitab-kitab doa ulama Nusantara. Majmû‘ah Maqrûât Yaumiyah wa Usbû‘iyyah, misalnya, yang memuat doa tersebut. Kitab tersebut karya pengasuh Pondok Pesantren Langitan Tuban, KH Muhammad bin Abdullah Faqih (rahimahullâh).

“Pada lembar pengantar, sang ayah, KH Abdullah Faqih, mengatakan bahwa doa-doa dalam kitab itu merupakan hasil ijazah dari Kiai Abdul Hadi (Langitan), Kiai Ma’shum (Lasem), Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki, dan Syekh Yasin bin Isa al-Fadani. KH Abdullah Faqih memberikan restu atau ijazah kepada siapa saja yang mengamalkan (dengan ijâzah munâwalah),” ungkapnya sebagaimana dikutip pada Sabtu (1/3/2025). Bacaan Doa Kamilin Berikut ini adalah bunyi doa Kamilin atau doa setelah Shalat Tarawih:

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ، وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ، وَلِلصَّلَاةِ حَافِظِيْنَ، وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ، وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ، وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ، وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ، وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ، وَفِي الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ، وَفِي الْاٰخِرَةِ رَاغِبِيْنَ، وَبِالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ، وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ، وَعَلَى الْبَلَاءِ صَابِرِيْنَ، وَتَحْتَ لِوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ، وَعَلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْن، وَإِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ، وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ، وَعَلَى سَرِيْرِ الْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ، وَبِحُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ، وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ، وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ، وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ، بِأَكْوَابٍ وَّأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْنٍ مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًا، ذٰلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا فِي هٰذِهِ لَيْلَةِ الشَّهْرِ الشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاٰلِه وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Allâhummaj‘alnâ bil îmâni kâmilîn. Wa lil farâidli muaddîn. Wa lish-shlâti hâfidhîn. Wa liz-zakâti fâ‘ilîn. Wa lima ‘indaka thâlibîn. Wa li ‘afwika râjîn. Wa bil-hudâ mutamassikîn. Wa ‘anil laghwi mu‘ridlîn. Wa fid-dunyâ zâhdîn. Wa fil ‘âkhirati râghibîn. Wa bil-qadlâ’I râdlîn. Wa lin na‘mâ’I syâkirîn. Wa ‘alal balâ’i shâbirîn. Wa tahta liwâ’i muhammadin shallallâhu ‘alaihi wasallam yaumal qiyâmati sâ’irîna wa alal haudli wâridîn. Wa ilal jannati dâkhilîn. Wa minan nâri nâjîn. Wa ‘alâ sariirl karâmati qâ’idîn. Wa bi hûrun ‘in mutazawwijîn. Wa min sundusin wa istabraqîn wadîbâjin mutalabbisîn. Wa min tha‘âmil jannati âkilîn. Wa min labanin wa ‘asalin mushaffan syâribîn. Bi akwâbin wa abârîqa wa ka‘sin min ma‘în. Ma‘al ladzîna an‘amta ‘alaihim minan nabiyyîna wash shiddîqîna wasy syuhadâ’i wash shâlihîna wa hasuna ulâ’ika rafîqan. Dâlikal fadl-lu minallâhi wa kafâ billâhi ‘alîman. Allâhummaj‘alnâ fî hâdzihil lailatisy syahrisy syarîfail mubârakah minas su‘adâ’il maqbûlîn. Wa lâ taj‘alnâ minal asyqiyâ’il mardûdîn. Wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ muhammadin wa âlihi wa shahbihi ajma‘în. Birahmatika yâ arhamar râhimîn wal hamdulillâhi rabbil ‘âlamîn.

Baca juga : Hilal 1 Ramadan 1446 H Tidak Terlihat di Karawang

Artinya, “Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang memenuhi kewajiban-kewajiban, yang memelihara shalat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akhirat, yang ridha dengan qadla-Mu (ketentuan-Mu), yang mensyukuri nikmat, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, yang mengunjungi telaga (Nabi Muhammad), yang masuk ke dalam surga, yang selamat dari api neraka, yang duduk di atas ranjang kemuliaan, yang menikah dengan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra ,yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui. Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini termasuk orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas junjungan kami Muhammad, serta seluruh keluarga dan shahabat beliau. Berkat rahmat-Mu, wahai Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”***

Karawang – Badan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPC HIPMI) Kabupaten Karawang akan segera menggelar Musyawarah Cabang (Muscab) pada tahun 2025. Salah satu nama yang mencuat sebagai kandidat kuat untuk memimpin BPC HIPMI Karawang periode mendatang adalah Didin Sirojudin, sosok yang sudah berkiprah aktif dalam organisasi tersebut.

Baca juga : Hilal 1 Ramadan 1446 H Tidak Terlihat di Karawang

Didin saat ini menjabat sebagai Ketua HIPMI Peduli Karawang, sebuah posisi yang telah ia emban selama kurang lebih tiga tahun terakhir. Selain itu, Didin juga dikenal sebagai anggota Komisi 4 DPRD Kabupaten Karawang. Ketokohannya di dunia usaha dan politik membuatnya dianggap mampu membawa BPC HIPMI Karawang ke arah yang lebih baik.

Tanggapan Didin Sirojudin: Siap Berkontribusi, Jabatan Bukan Prioritas
Saat diwawancarai oleh persoona.id, Didin menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki ambisi pribadi untuk menjabat sebagai Ketua BPC HIPMI Karawang. Namun, ia menyatakan kesiapannya untuk berkontribusi penuh jika organisasi membutuhkan dirinya.

“Saya sebagai pengurus di HIPMI Peduli, selama kontribusi yang saya berikan baik untuk organisasi, insyaallah saya akan terus melakukannya. Namun, jika itu merugikan organisasi, saya tidak akan melangkah lebih jauh,” ungkap Didin pada Sabtu, 1 Maret 2025.
Bagi Didin, HIPMI bukan sekadar organisasi, melainkan sebuah tempat yang telah memberikan kontribusi besar dalam perjalanan hidupnya sebagai pengusaha. Ia menganggap HIPMI sebagai “rumah” yang telah membentuknya menjadi pribadi yang lebih baik.

“HIPMI adalah rumah saya memulai usaha, belajar dari para senior, dan mendapatkan relasi yang luar biasa. Alhamdulillah, saya merasakan manfaat besar dari HIPMI hingga saat ini,” tambahnya.

Dukungan dari Keluarga Besar HIPMI Karawang
Secara pribadi, Didin mengungkapkan rasa hormatnya kepada keluarga besar HIPMI Karawang yang telah memberikan dukungan dan harapan besar kepadanya. Jika diminta untuk memimpin organisasi, ia berkomitmen untuk menjalankan tugasnya dengan mengedepankan kebersamaan.

“Kalau keluarga besar HIPMI Karawang menginginkan saya maju, tentu saya akan menghormati itu. Jika saya diminta untuk membesarkan HIPMI Karawang bersama-sama, insyaallah saya siap menjalankan amanah ini,” pungkas Didin.

Tahapan Muscab BPC HIPMI Karawang 2025
Saat ini, BPC HIPMI Karawang yang diketuai oleh Komarudin sedang memasuki tahap persiapan menjelang Musyawarah Cabang. Tahapan persiapan meliputi verifikasi data anggota dan pembentukan panitia pelaksana muscab.

Baca juga : Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1446 H pada 1 Maret 2025

Sebelum musyawarah berlangsung, BPC HIPMI Karawang juga akan menggelar pertemuan dengan anggota HIPMI se-Kabupaten Karawang dan HIPMI Jawa Barat. Muscab direncanakan akan berlangsung pada Mei – Juni 2025, dengan tujuan menentukan pemimpin baru yang akan membawa organisasi ini terus berkembang.

Dengan banyaknya potensi bisnis di Kabupaten Karawang, Didin berharap HIPMI dapat terus menjadi wadah pengusaha muda untuk berkolaborasi, belajar, dan bertumbuh bersama.***

Jakarta – Pemerintah secara resmi menetapkan awal Ramadan 1446 H jatuh pada Sabtu, 1 Maret 2025. Keputusan ini diumumkan dalam sidang isbat yang digelar oleh Kementerian Agama (Kemenag) di Auditorium Haji Mohammad Rasjidi, Jakarta Pusat, pada Jumat malam. Jum’at 28/02/2025

Baca juga : Hilal 1 Ramadan 1446 H Tidak Terlihat di Karawang

Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, yang memimpin sidang isbat, menjelaskan bahwa penetapan ini dilakukan dengan mengacu pada metode rukyatul hilal (pengamatan bulan sabit) dan hisab (perhitungan astronomi). Berdasarkan data yang dihimpun, hilal telah terlihat di beberapa wilayah Indonesia.

“Berdasarkan hasil sidang isbat, 1 Ramadan 1446 Hijriah jatuh pada Sabtu, 1 Maret 2025,” ungkap Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam konferensi pers usai sidang.

Keselarasan dengan Ormas Keagamaan
Keputusan yang diambil pemerintah ini tidak berbeda dengan hasil pengamatan dan perhitungan dari dua organisasi Islam besar, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, dalam siaran YouTube TVNU, menyampaikan bahwa awal Ramadan tahun ini sama dengan hasil sidang isbat pemerintah.

“Hilal sudah terlihat dan 1 Ramadan 1446 H jatuh pada Sabtu, 1 Maret 2025,” ujar Yahya Cholil Staquf.


Sementara itu, Muhammadiyah yang menggunakan metode hisab wujudul hilal telah lebih dulu mengumumkan bahwa awal Ramadan jatuh pada tanggal yang sama. “Pada saat matahari terbenam pada Jumat, 28 Februari 2025, hilal sudah wujud di seluruh wilayah Indonesia,” jelas Sekretaris PP Muhammadiyah, M Sayuti, dalam keterangannya pada Rabu, 12 Februari 2025.

Salat Tarawih Perdana
Dengan penetapan ini, umat Islam di Indonesia akan melaksanakan salat tarawih pertama pada Jumat malam, 28 Februari 2025, setelah salat Isya. Salat tarawih menjadi salah satu rangkaian ibadah sunnah yang rutin dilakukan umat Islam di malam hari selama bulan Ramadan.

Baca juga : KOAS 2025: TP-PKK Karawang Bangun Generasi Berakhlak Mulia

Persiapan Menyambut Ramadan
Penetapan awal Ramadan ini memberikan kepastian bagi umat Islam di Indonesia untuk mulai mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadan. Berbagai tradisi keagamaan, seperti salat tarawih, tadarus Al-Qur’an, dan amalan sunnah lainnya, akan segera dimulai. Ramadan juga menjadi momentum bagi umat Islam untuk mempererat kebersamaan, baik dalam keluarga maupun dalam komunitas masyarakat.***

Karawang – Pemantauan hilal 1 Ramadan 1446 H yang dilakukan oleh Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Karawang pada Jumat sore di atap Gedung Hotel Brits berakhir dengan hasil yang sama seperti banyak daerah lain: hilal tidak terlihat. Kondisi cuaca berawan menjadi salah satu faktor utama yang menghalangi pengamatan. Jum’at 28/02/2025

Baca juga : KOAS 2025: TP-PKK Karawang Bangun Generasi Berakhlak Mulia

Kepala Kemenag Karawang, Sopian, menjelaskan bahwa proses rukyat hilal dilakukan bersama oleh tim dari Badan Hisab Rukyat Karawang, Kemenag, dan sejumlah perwakilan organisasi masyarakat (ormas) keagamaan lainnya. Meski upaya maksimal telah dilakukan, cuaca yang kurang mendukung membuat hilal tidak dapat terlihat hingga matahari terbenam pukul 18.13 WIB.

Proses Pemantauan dan Kesimpulan
“Di titik pengamatan ini, dari tiga petugas yang bertugas, semuanya menyimpulkan bahwa hilal tidak terlihat. Oleh karena itu, untuk penentuan awal Ramadan, kita akan menunggu hasil sidang isbat yang dipimpin oleh Menteri Agama,” ujar Sopian kepada awak media.
Sidang isbat, yang akan membahas hasil pemantauan hilal dari seluruh wilayah Indonesia, menjadi tahap akhir dalam menentukan awal Ramadan. Selain laporan dari Karawang, data dari berbagai daerah di Indonesia akan dikompilasi untuk memastikan apakah hilal terlihat atau tidak.

Prosedur Penentuan Awal Ramadan
Menurut Sopian, sidang isbat melibatkan berbagai pihak, termasuk perwakilan dari ormas keagamaan dan ahli astronomi. “Setiap ormas akan diminta pendapatnya, dan keputusan ini tidak hanya berdasarkan pengamatan di Karawang, tetapi juga dari seluruh Indonesia,” tambahnya.

Baca juga : BSMSS 2025 Resmi Dimulai di Desa Tegalurung, Karawang

Jika hilal terlihat di wilayah lain, maka umat Islam di Indonesia akan memulai ibadah puasa pada Sabtu, 1 Maret 2025. Namun, jika hilal tidak terlihat di seluruh Indonesia, maka metode istikmal akan digunakan, yaitu menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi 30 hari, sehingga awal Ramadan jatuh pada Minggu, 2 Maret 2025.***

Karawang – Perum Bulog Karawang terus berupaya memenuhi target penyerapan gabah kering panen (GKP) tahun 2025 yang ditetapkan sebesar 75 ribu ton. Untuk mewujudkannya, Bulog menggandeng jajaran TNI serta pemerintah daerah dalam proses penyerapan gabah langsung dari petani.
Kepala Perum Bulog Karawang, Umar Said, dalam keterangannya di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Selasa (25/2), menyebutkan bahwa gabah yang diserap akan diproses menjadi beras dan disiapkan sebagai bagian dari stok cadangan beras pemerintah.

Baca juga : Inagurasi Politeknik Kepribadian Pilih Pemimpin Baru Mahasiswa Periode 2025-2026

“Pengadaan (penyerapan gabah) kami baru berjalan seminggu, saat ini sudah mencapai sekitar 2.000 ton gabah atau setara 1.000 ton beras,” ungkapnya.

Target 3 Juta Ton Beras Setara Gabah
Umar menegaskan bahwa Bulog Karawang siap mendukung target pemerintah dengan menyerap 75 ribu ton GKP, yang setara dengan 3 juta ton beras. Untuk mencapai target tersebut, pihaknya menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah dan jajaran TNI, khususnya Kodim, yang bertugas memberikan informasi terkait lokasi panen.

“Keterlibatan TNI sangat membantu, terutama dalam memastikan kami dapat menjangkau lokasi panen sehingga penyerapan dapat dilakukan langsung dari petani. Pemerintah daerah juga kami harapkan dapat memberikan informasi serupa,” tambahnya.

Kolaborasi dengan Mitra dan Harga Gabah Sesuai Ketentuan
Dalam proses penyerapan gabah, Bulog Karawang juga bekerja sama dengan 15-20 mitra kerja. Mitra ini mencakup perusahaan berbadan hukum, badan usaha, usaha perseorangan, serta kelompok tani atau gabungan kelompok tani. Seluruh mitra harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh Bulog untuk menjalankan kerja sama ini.

Harga pembelian gabah kering panen ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram, sesuai dengan Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 14 Tahun 2025. Harga ini diharapkan dapat memberikan kesejahteraan bagi petani sekaligus menjaga stabilitas stok beras nasional.

Baca juga : Penandatanganan Inpres DTSEN: Era Baru Data Nasional

Optimisme Sambut Panen Raya
Umar Said optimistis target penyerapan akan tercapai. Puncak penyerapan diproyeksikan akan terjadi pada bulan Maret dan April 2025, bertepatan dengan musim panen raya padi di wilayah tersebut. “Kami ingin memastikan penyerapan berjalan lancar dan tepat sasaran, sehingga mampu menjaga ketersediaan cadangan beras pemerintah,” tegas Umar.

Wilayah kerja Bulog Karawang mencakup Kabupaten Karawang, Kabupaten Bekasi, dan Kota Bekasi. Dengan dukungan TNI, pemerintah daerah, serta mitra kerja yang solid, Bulog Karawang berkomitmen untuk terus mendukung ketahanan pangan nasional melalui upaya penyerapan gabah petani secara optimal.***

Karawang – Di balik seragam cokelat khas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), ada sosok perempuan tangguh yang memegang peran vital dalam menjaga ketertiban dan penegakan hukum. Mia Aprilia, seorang anggota Satpol PP di Karawang, membuktikan bahwa perempuan juga memiliki peran penting dalam dunia yang sering dianggap didominasi oleh laki-laki.

Baca juga : Wabup Maslani Ajak Wujudkan Karawang Maju

Bagi banyak orang, Satpol PP seringkali diasosiasikan dengan tindakan represif dalam menegakkan aturan. Namun, bagi Mia, tugasnya lebih dari sekadar menggusur pedagang atau mengambil tindakan tegas. “Awalnya saya berpikir tugas Satpol PP hanya soal menertibkan pedagang. Namun, setelah bergabung, saya memahami bahwa setiap tindakan harus melalui proses hukum dan pendekatan yang tepat. Kami dituntut untuk sabar, bernegosiasi tanpa kekerasan, dan menjaga komunikasi agar tidak salah paham di hadapan masyarakat,” ujar Mia saat berbincang, Selasa (25/2).

Menghadapi Tantangan dan Stereotip

Sebagai seorang perempuan di tengah lingkungan kerja yang didominasi oleh laki-laki, Mia sering kali menghadapi pandangan sebelah mata, baik dari masyarakat maupun rekan kerjanya. “Sering kali saya diremehkan saat bertugas. Namun, saya memilih untuk tidak menanggapi. Mereka melampiaskan amarahnya kepada kami karena merasa hak-haknya dibatasi. Selama tidak ada kekerasan fisik, saya memilih untuk tetap tenang dan menjalankan tugas saya,” jelas Mia dengan tegas.

Peran Perempuan dalam Menjaga Ketertiban

Meski sering dipandang sebelah mata, peran perempuan di Satpol PP tidak bisa dianggap remeh, terutama dalam situasi-situasi tertentu. Salah satunya adalah saat terjadi demonstrasi atau aksi unjuk rasa. Mia mengungkapkan, “Kami sering ditempatkan di garis depan saat unjuk rasa untuk meredam ketegangan, terutama jika pendemonstrasi adalah ibu-ibu. Kami harus menjaga agar situasi tetap kondusif.”

Selain itu, dalam penertiban pasar atau bangunan liar, Mia dan rekan-rekan perempuan Satpol PP memiliki tugas spesifik, yakni memberikan pendekatan humanis. “Kami lebih fokus untuk membantu pedagang, menenangkan mereka yang emosi, atau membantu ibu-ibu yang panik,” ujar Mia.

Pengalaman Berkesan di Pasar Lama Dengklong

Mia mengenang salah satu pengalaman paling berkesan saat bertugas di Pasar Lama Dengklong. Dalam sebuah penertiban yang awalnya berjalan damai, situasi tiba-tiba berubah ricuh. “Ketika massa semakin besar, kami harus mundur demi keselamatan. Bahkan, ada yang melemparkan petasan ke arah petugas dan rombongan muspida. Momen itu mengajarkan kami bahwa tantangan di lapangan selalu datang secara tiba-tiba,” cerita Mia, dengan senyum di wajahnya.

Baca juga :
Inagurasi Politeknik Kepribadian Pilih Pemimpin Baru Mahasiswa Periode 2025-2026 

Dedikasi dan Komitmen

Meski tugasnya penuh dengan tantangan dan risiko, Mia tetap menjalankan tugas dengan penuh dedikasi dan semangat. Menurutnya, menjadi bagian dari Satpol PP bukan hanya soal penegakan aturan, tetapi juga soal bagaimana menjadi penjaga ketertiban yang bisa tetap memberikan pendekatan persuasif dan humanis kepada masyarakat.

Dengan tekad yang kuat dan dedikasi tinggi, Mia Aprilia dan rekan-rekan perempuan lainnya membuktikan bahwa keberanian dan ketangguhan perempuan sangat dibutuhkan dalam penegakan ketertiban dan hukum. Seiring berjalannya waktu, mereka terus mengubah paradigma tentang peran perempuan dalam Satpol PP, menjadikan mereka sosok yang tak hanya kuat, tetapi juga penuh empati.***

Karawang – Politeknik Kepribadian, sebuah institusi pendidikan tinggi di Karawang, baru-baru ini menggelar kegiatan inagurasi yang melibatkan 200 mahasiswa dari angkatan 1, 2, dan 3. Acara yang berlangsung di Villa Legok Muncang, Tegalwaru Karawang. Menjadi momen penting bagi mahasiswa Politeknik Kepribadian untuk mempererat tali silaturahmi, sekaligus memilih kepemimpinan organisasi mahasiswa baru untuk periode 2025-2026. Sabtu 22/02/2025

Baca juga : Vokalis Band Sukatani Resmi Dipecat dari Sekolah, Ini Alasannya

Wakil Direktur 3 Politeknik Kepribadian bidang kemahasiswaan, Hadi Brata, dengan bangga menyampaikan apresiasi atas kekompakan mahasiswa dalam menyelenggarakan kegiatan inagurasi ini. Dalam sambutannya, Hadi Brata menekankan bahwa acara ini tidak hanya bertujuan untuk mempererat hubungan antar mahasiswa dari berbagai program studi, tetapi juga menjadi ajang penting untuk menentukan Ketua Badan Legislatif Mahasiswa (BLM) dan Presiden Mahasiswa yang akan memimpin organisasi kemahasiswaan Politeknik Kepribadian untuk satu tahun ke depan.

Mahasiswa Politeknik Kepribadian ikuti Inagurasi

Pemilihan Kepemimpinan Mahasiswa
Sebelum acara inagurasi, masing-masing program studi telah melakukan pemilihan ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP). Hasilnya, Agung (Semester 2) terpilih sebagai Ketua HMP Prodi Pembangunan Pedesaan dan Ekonomi Masyarakat (PPEM), Aryo (Semester 4) sebagai Ketua HMP Prodi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak (TRPL), dan Lukman (Semester 2) sebagai Ketua HMP Prodi Bisnis Digital.

Pada akhir rangkaian acara inagurasi, para mahasiswa melakukan musyawarah untuk menentukan Ketua Badan Legislatif Mahasiswa (BLM) dan Presiden Mahasiswa periode 2025-2026. Setelah melalui proses diskusi dan pemungutan suara, mahasiswa sepakat memilih Yadi Supriadi dari Prodi Bisnis Digital sebagai Ketua BLM, serta Ergat Bustomy Ali dari Prodi PPEM sebagai Presiden Mahasiswa Politeknik Kepribadian.

Materi dan Sosialisasi Tambahan
Selain agenda pemilihan kepemimpinan, kegiatan inagurasi ini juga diisi dengan beberapa materi dan sosialisasi yang bertujuan untuk memperkaya pengetahuan dan wawasan mahasiswa. Salah satunya adalah materi keorganisasian yang disampaikan oleh Kepala Program Studi TRPL, Muhammad Taskum. Materi ini diharapkan dapat membekali para mahasiswa dengan pemahaman yang lebih baik terkait struktur dan tata kelola organisasi kemahasiswaan.

Pengarah Ketua Panitia Inagurasi Politeknik Kepribadian

Selain itu, acara inagurasi juga menjadi wadah bagi sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) yang dibawakan oleh Ketua PMB, Kiki Syarifudin. Informasi mengenai proses pendaftaran, persyaratan, dan berbagai hal terkait penerimaan mahasiswa baru disampaikan secara komprehensif agar dapat menjangkau seluruh mahasiswa Politeknik Kepribadian.

Baca juga : DPRD Jawa Barat Dorong Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan Melalui Perda No. 12 Tahun 2023

gurasi ini menjadi momen penting bagi mahasiswa Politeknik Kepribadian untuk membangun sinergi yang lebih kuat antar program studi, sekaligus menciptakan regenerasi kepemimpinan organisasi kemahasiswaan yang solid dan berintegritas. Dengan terpilihnya Yadi Supriadi sebagai Ketua BLM dan Ergat Bustomy Ali sebagai Presiden Mahasiswa, diharapkan organisasi kemahasiswaan Politeknik Kepribadian dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi positif bagi kemajuan kampus./qie