Persoona.id – Menikmati karya-karya lukis Kang Mas Pupung, yang saat ini tengah digelar dalam acara Pameran Tunggal bertajuk “The Journey Past And The Future”, sepertinya kita tengah mengembara ke alam lain, alam yang terkadang muncul di mimpi, lintasan fikiran, atau di tengah kepungan kenyataan dan kepingan ketakukan yang sublim.
Diprakarsai oleh HONDA KUMALA KARAWANG tanpa ada campur tangan Pemda Karawang sedikitpun, meskipun hanya satu dus air mineral, TIDAK SAMA SEKALI. Tapi nyatanya pameran ini cukup lancar, baru dua hari digelar, beberapa karya sudah sold out. Pameran berlangsung dari tgl 13 – 30 Desember 2025.
Ada 30 karya yang dipajang. Mewakili proses kreatif pelukis dengan kurun waktu cukup panjang. Melewati berbagai kisah, kegetiran hidup, pergulatan, dialektika dan idealisme yang berusaha divisualisasikan lewat gradasi warna, sapuan kuas, coretan garis dan bentuk-bentuk yang meruang.
Rangkaian lukisannya tidak hadir sebagai objek estetika yang berdiri sendiri, walapun bisa dipresentasikan seperti itu. Ia hadir sebagai narasi visual kolektif, sebuah kronika tentang manusia, kekuasaan, alam, dan krisis moral yang menyertainya. Warna dan bentuk menyeruak dan berkisah, meminjam bahasa simbol, mitologi, sejarah, dan realitas sosial, untuk menuturkan kondisi manusia yang terus berulang. Tentang konflik, penaklukan, kerusakan, pencarian makna, dan pergolakan batin.
Pelukis tidak menawarkan keindahan yang menenangkan, kelembutan nuansa yang damai atau romantisme yang melankolis. Ia mengetengahkan kejujuran yang menggugah, bahkan mengguncang. Inilah seni yang berbicara, bersaksi, dan mengajukan pertanyaan. Bukan seni yang meminta persetujuan.
Secara keseluruhan, rangkaian lukisan ini membentuk struktur narasi yang bergerak dari keramaian menuju kesunyian, dari kekacauan menuju perenungan, dan kembali lagi ke pertanyaan tentang kekuasaan manusia atas dirinya sendiri.
Kerumunan massa, figur tunggal, alam yang menjelma tubuh, dan dunia yang terbalik, semuanya disusun bukan secara linear, melainkan siklikal, menandakan bahwa sejarah manusia tidak bergerak lurus ke depan, tetapi berputar dalam pola yang sama dengan wajah berbeda.
Dalam lukisan yang menampilkan kerumunan dengan dominasi merah, manusia hadir sebagai tubuh kolektif yang terhimpit. Warna merah mengalir bukan hanya sekadar latar, tetapi sebagai substansi konflik, hadir sebagai darah, amarah, api, dan ketegangan yang tak menemukan katup pelepasan.
Aparat digambarkan seragam dan anonim, menandakan institusi tak memiliki wajah, sementara rakyat tampil sebagai individu-individu yang tercerabut dari pijakannya. Tidak ada pahlawan tunggal, tidak pula antagonis personal. Yang dipertentangkan adalah sistem dengan tubuh manusia sebagai subjek sekaligus objeknya.
Keberadaan figur-figur hewan seperti anjing, babi dan binatang lainnya, hadir sebagai satire sosial, tentang insting, kekerasan terlatih, dan kerakusan yang dilembagakan.
Dalam lukisan bertema air dan banjir, konflik diperluas menjadi dimensi kosmik. Air raksasa yang mendominasi kanvas tidak digambarkan sebagai musuh yang bisa dilawan, melainkan sebagai takdir ekologis. Manusia bergerak kecil, beriringan, menyerupai eksodus, menggemakan kisah-kisah tentang banjir besar, pengungsian, dan kehancuran peradaban.
Api muncul berdampingan dengan air, menandakan dunia yang kehilangan keseimbangan. Dua unsur ini tidak lagi bersifat simbolis semata, tetapi menjadi karma, menjadi konsekuensi dari tindakan manusia sendiri.
Figur perempuan yang menyatu dengan alam menghadirkan kontras penting dalam keseluruhan narasi. Tubuhnya bukan objek, melainkan ruang hidup. Flora dan fauna hadir setara, tanpa hierarki. Ini adalah dunia saat manusia belum menempatkan dirinya sebagai pusat segalanya. Namun, di kejauhan, siluet kota modern berdiri sebagai bayang-bayang ancaman. Lukisan ini berbicara tentang keretakan antara peradaban dan alam, sekaligus kerinduan pada harmoni yang kian menjauh.
Dalam karya “Sabda Pandita”, keramaian menghilang. Yang tersisa adalah figur tunggal dengan gestur lembut dan latar jingga senja. Ini bukan potret tokoh, melainkan representasi kebijaksanaan lisan dan palsapah karuhun yang mengandung bobot moral.
Ujaran Ronggo Warsito yang ditulis langsung di kanvas menegaskan bahwa seni rupa tidak terpisah dari tradisi tutur, petuah, dan peringatan. Sedangkan senja menjadi wakil waktu peralihan, antara terang dan gelap, antara kesadaran dan kejatuhan.
Di lukisan “Lelaki Penakluk”. Api yang menyala dari bawah pusar sampai ke dadanya, bukan senjata eksternal, melainkan ambisi dan kehendak yang lahir dari dalam diri manusia. Sedang di sekelilingnya, dunia terbalik, langit menjadi bumi, nilai-nilai kehilangan orientasi dan makhluk-makhluk simbolik beterbangan tanpa arah.
Judul “penakluk” menjadi ironi. Ia tampak kuat, tetapi berdiri di tengah kehancuran yang ia ciptakan sendiri. Pertanyaannya bukan lagi siapa yang ia taklukkan, melainkan “apa yang tersisa dari kemanusiaannya”.
Pada akhirnya kita akan membaca tentang kesadaran, bahwa manusia adalah makhluk kolektif, bukan individu yang terisolasi. Kekuasaan hadir menjadi sumber konflik dan paradoks. Sedangkan alam terserak sebagai korban, namun sekaligus pengingat. Sedangkan spiritualitas kian hening dan terpinggirkan.
Tidak ada solusi instan yang ditawarkan. Tidak ada figur mesianistik, yang hadir sebagai juru selamat. Sisanya hanya kesadaran pahit, bahwa peradaban terus bergerak di antara kehancuran dan kemungkinan pembaharuan.
Karya-karya ini layak dibaca sebagai lukisan kesaksian zaman. Satu upaya merekam denyut sosial, ekologis, dan spiritual manusia kontemporer. Ia tidak mempretensikan menjadi penghakiman, namun tetap tidak netral. Lukisan-lukisan ini memilih berpihak pada pertanyaan, bukan jawaban.
Dalam konteks pameran, rangkaian ini mengundang penonton untuk tidak sekadar melihat, tetapi merenung, resah, dan bertanya kembali tentang posisi manusia di tengah dunia yang ia bentuk dan ia geluti.
Uraian ini ditulis agak panjang. Sebagai bentuk penghargaan pada Kang Mas Pupung Prayitno yang dengan karya dan kesetiaannya menjadi pelukis, telah memberi inspirasi bagi pelukis generasi selanjutnya.
Dan semoga yang membaca, menjadi penasaran dan berkunjung ke Gedung Honda Kumala Karawang, untuk menikmati karya Sang Maestro Karawang.
Terimakasih untuk Wa Abdurahman Abro, yang telah memberikan Pengantar Kuratorial, Bang J Haris Bonandar yang keren menjadi moderator dan untuk Keluarga Besar Honda Kumala Karawang, terutama Pak Wawan, yang telah memfasilitasi saudara dan senior saya, untuk berpameran.
Nuhuuun..!
: Abah Sarjang


