Persoona.id – Semangat kewirausahaan di kalangan pelajar kini menjadi fokus utama dalam menghadapi era ekonomi kreatif. Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas), tim dosen Program Studi Bisnis Digital Politeknik Prisain. Menyambangi SMKN 1 Kota Bekasi untuk membekali para siswa dengan tema strategis: “Dari Skill Digital Jadi Peluang Bisnis.” 24 April 2026

Kegiatan ini bertujuan mendorong generasi Z agar tidak hanya menjadi konsumen teknologi. Tetapi mampu mentransformasi keterampilan digital menjadi sumber kemandirian ekonomi.

Membangun Ide Bisnis dari Keterampilan Digital
Kegiatan berlangsung interaktif, dimulai dengan diskusi mendalam bersama pihak sekolah. Mengenai potensi siswa, dilanjutkan dengan pemaparan materi tentang peluang bisnis masa kini. Para siswa SMKN 1 Kota Bekasi mendapatkan wawasan komprehensif mengenai:

  • Desain Konten Kreatif: Mengolah visual menjadi daya tarik brand.
  • Pemasaran Digital (Digital Marketing): Menjangkau pasar yang lebih luas.
  • Pemanfaatan Media Sosial: Mengubah platform sosial menjadi etalase bisnis yang produktif.

Baca juga : Kreator Logo HUT Karawang & Ketua Forum Film Pilih Kuliah di Bisnis Digital Politeknik Prisain

Tidak sekadar teori, para peserta diajak melakukan praktik langsung. Mulai dari merancang ide bisnis sederhana hingga menyusun strategi branding yang relevan dengan tren pasar saat ini. Antusiasme memuncak saat siswa mensimulasikan pembuatan konten promosi secara profesional menggunakan perangkat digital mereka sendiri.

Pola Pikir Wirausaha Sejak Dini
Kaprodi Bisnis Digital Politeknik Prisain, Ibu Euis Nofita W., SE., MM., M.IKom. Menegaskan bahwa perubahan pola pikir (mindset) adalah kunci utama.

“Melalui kegiatan Abdimas ini, kami ingin menanamkan bahwa skill digital. Bukan hanya untuk konsumsi, tetapi alat produktif yang menghasilkan nilai ekonomi. Siswa harus berani mencoba, kreatif melihat peluang, dan konsisten mengembangkan ide menjadi bisnis nyata,” ujar Ibu Euis.

Keberlanjutan Melalui Program PMB Politeknik Prisain
Sebagai komitmen berkelanjutan dalam mencetak wirausaha muda, Politeknik Kepribadian Bangsa Indonesia (Politeknik Prisain). Mengundang para siswa untuk memperdalam keahlian mereka melalui program Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) pada Program Studi Bisnis Digital.

Baca juga : Sinergi Teater dan Digital: Yusuf Adriansyah, Mahasiswa Politeknik Prisain yang Siap Taklukkan Industri Kreatif

Program ini dirancang khusus dengan:

  • Kurikulum Berbasis Praktik: Fokus pada kebutuhan industri terkini.
  • Mentoring Eksklusif: Pendampingan langsung dari dosen dan praktisi bisnis berpengalaman.
  • Inkubasi Bisnis: Peluang mengembangkan unit usaha sejak masa perkuliahan.

Politeknik Prisain mengajak generasi muda Bekasi untuk mengambil langkah nyata. Dari ruang kelas menuju dunia usaha, dari sekadar hobi digital menjadi bisnis yang kompetitif./abdimas

Persoona.id – Di era ekonomi kreatif yang dinamis, kolaborasi antara seni tradisional dan strategi digital menjadi kunci sukses. Hal inilah yang dibuktikan oleh Yusuf Adriansyah, atau yang akrab disapa Mamang, mahasiswa Program Studi Bisnis Digital di Politeknik Kepribadian Bangsa Indonesia (Politeknik Prisain).Senin 20 April 2026

Mamang bukanlah sosok baru di dunia kreatif. Berbekal pengalaman selama delapan tahun di dunia teater, ia kini mentransformasikan disiplin seni panggung ke dalam ekosistem bisnis digital yang lebih modern.

Pondasi Teater untuk Manajemen Produksi
Bagi Mamang, teater bukan sekadar seni peran, melainkan sekolah manajemen yang sesungguhnya. Ia terbiasa melalui tahapan terstruktur: mulai dari pembedahan naskah, eksplorasi konsep, hingga eksekusi panggung yang presisi.

Baca juga : Wujudkan Digitalisasi Karawang, UKM Prisain Politeknik Kepribadian Hadirkan ‘Digi Talks’: Ruang Ekspresi Inklusif bagi UMKM hingga Tokoh Publik

“Di teater, kita diajarkan bahwa setiap detail itu penting. Dari hal kecil sampai besar harus saling terhubung. Nilai ketelitian dan disiplin inilah yang sekarang saya terapkan ketika terlibat dalam kegiatan produksi event,” ungkap Mamang.

Profesionalisme dengan Sertifikasi BNSP
Tidak hanya mengandalkan pengalaman lapangan, Mamang juga memperkuat profil profesionalnya melalui sertifikasi resmi. Saat ini, ia telah mengantongi sertifikat dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk dua bidang strategis:

  • Manajemen Pertunjukan: Memperkuat sisi teknis dan manajerial event.
  • Digital Content Creator: Memastikan kemampuannya relevan dengan tren konten masa kini.

Kombinasi sertifikasi ini menjadikannya salah satu mahasiswa yang memiliki kompetensi lengkap, baik di belakang layar maupun di balik layar digital.

Inisiatif Studio Podcast di Politeknik Prisain
Semangat belajarnya tidak berhenti di ruang kelas. Bersama rekan-rekannya di Prodi Bisnis Digital, Mamang aktif mengembangkan inisiatif studio podcast di lingkungan kampus Politeknik Kepribadian Bangsa Indonesia. Proyek ini menjadi laboratorium nyata bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan produksi konten secara mandiri.

Baca juga : Kreator Logo HUT Karawang & Ketua Forum Film Pilih Kuliah di Bisnis Digital Politeknik Prisain

“Kami ingin punya ruang untuk belajar langsung, bukan hanya teori. Podcast ini jadi salah satu cara kami untuk mulai produksi konten sendiri dan mengasah kemampuan,” tambah mahasiswa yang dikenal aktif ini.

Harapan untuk Industri Kreatif Masa Depan
Melalui pendidikan di Bisnis Digital Politeknik Prisain, Mamang terus berupaya memperluas kontribusinya. Ia percaya bahwa pendidikan formal yang ia tempuh saat ini adalah jembatan untuk membawa pengalaman kreatifnya ke level industri yang lebih profesional dan berbasis teknologi.

Kisah Yusuf Adriansyah adalah potret nyata mahasiswa masa kini: berpengalaman, tersertifikasi, dan terus berinovasi di dunia digital./mangs

Persoona.id – Setiap tanggal 14 September, Kabupaten Karawang merayakan hari jadinya dengan meriah. Di balik kemegahan visual yang menghiasi sudut kota, terdapat tangan dingin Abdul Yusup (32). Pria asal Desa Bengle, Kecamatan Majalaya, yang menjadi desainer resmi logo HUT Karawang selama enam tahun terakhir. Minggu 19 April 2026

Pria yang akrab disapa Ucup ini telah mendedikasikan kemampuannya untuk memperkuat citra visual tanah kelahirannya sejak tahun 2018. Kini, ia tidak hanya dikenal sebagai desainer, tetapi juga sebagai tokoh sentral dalam industri kreatif lokal.

Dari Panggung Teater hingga Menjadi Ketua Forum Film
Bakat seni Ucup telah terasah sejak lulus SMA pada tahun 2009. Berawal dari hobi bermusik dan aktif sebagai pegiat teater, ia sempat menjabat sebagai Ketua Komunitas Seniman Muda (Kosim) Karawang. Kedekatannya dengan dunia seni peran dan visual membawanya pada amanah. Yang lebih besar saat ini, yakni menjabat sebagai Ketua Forum Film Kabupaten Karawang.

Kepercayaan dari pemerintah daerah mulai datang pada tahun 2019 ketika Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud). Karawang menunjuknya merancang logo HUT ke-386 bertema “Karawang Jamuga”. Sejak itu, karya-karyanya termasuk logo “Karawang Sarasa” (HUT 388). Hingga persiapan menuju usia ke-392 Masagi menjadi identitas resmi yang dibanggakan seluruh elemen masyarakat.

“Bagi saya, ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan pengalaman. Berharga dan kebanggaan karena karya saya bisa bermanfaat bagi masyarakat luas,” ujar Ucup.

Haus Ilmu: Sinergi Desain dan Bisnis Digital
Meski telah memiliki reputasi besar, Ucup enggan berpuas diri. Menyadari pesatnya perkembangan ekonomi kreatif, ia memutuskan untuk memperdalam landasan teoretis dengan melanjutkan studi.

Pada tahun 2025, Ucup resmi bergabung sebagai mahasiswa di Program Studi Bisnis Digital, Politeknik Kepribadian Bangsa Indonesia (Politeknik Prisain). Langkah ini diambil untuk menyinergikan keterampilan desain grafisnya dengan pemahaman strategi bisnis yang mumpuni.

“Dunia digital itu sangat luas. Saya ingin ilmu desain saya didukung dengan strategi bisnis yang profesional, itulah alasan saya memilih kuliah di Politeknik Prisain,” tambahnya.

Inspirasi Bagi Generasi Muda
Kisah Abdul Yusup membuktikan bahwa konsistensi dan semangat belajar adalah kunci kesuksesan. Dari seorang pegiat komunitas hingga menjadi pilar branding visual Kabupaten Karawang, Ucup kini bersiap menjadi profesional yang lebih matang di era ekonomi digital.

Bagi generasi muda Karawang, perjalanan Ucup adalah pengingat bahwa skill kreatif yang dipadukan dengan pendidikan yang tepat dapat menciptakan dampak nyata bagi daerah./mangs

Persoona.id – Mahasiswa Program Studi Bisnis Digital Politeknik Kepribadian Bangsa Indonesia. Resmi memperkenalkan Digi Talks, sebuah platform ekspresi berbasis Podcast. Yang diinisiasi oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Prisain. Bertempat di Kampus Politeknik Kepribadian, Jalan Adiarsa, Karawang. kehadiran Digi Talks diproyeksikan menjadi katalisator industri kreatif. Digital di Kota Pangkal Perjuangan. Minggu 19 April 2026

Digi Talks dirancang sebagai wadah inklusif bagi berbagai elemen masyarakat: mulai dari pelajar, mahasiswa, pelaku UMKM, hingga tokoh publik. Untuk berbagi gagasan, inspirasi, dan strategi menghadapi era transformasi digital.

Mahasiswa Sebagai Motor Penggerak
Inisiatif ini digawangi oleh tiga mahasiswa prodi Bisnis Digital. Abdul Yusup, Yusup Andriyansyah (mamang), dan Asep Saepul Bahri (apep). Sebagai representasi generasi Z yang melek teknologi, mereka berkomitmen menghadirkan konten berkualitas yang relevan dengan kebutuhan pasar saat ini.

“Saat ini kami sedang dalam tahap finalisasi ruangan dan penyusunan materi podcast. Fokus kami adalah memastikan kualitas konten dan teknis yang memuaskan. Agar pesan yang disampaikan bisa diterima dengan baik oleh masyarakat,” ujar Abdul Yusup di sela persiapannya di Kampus Karawang

Baca juga : Kreator Logo HUT Karawang & Ketua Forum Film Pilih Kuliah di Bisnis Digital Politeknik Prisain

Agen Perubahan dalam Dinamika Digital
Dihubungi secara terpisah, Ketua UKM Prisain, Yadi Supriadi, menegaskan bahwa proyek ini merupakan implementasi nyata. Dari peran mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change).

“Mahasiswa harus menjadi motor penggerak dalam dinamika digitalisasi dan berkontribusi langsung bagi pembangunan Kabupaten Karawang melalui disiplin ilmu yang ditempuh. Baik dari prodi Bisnis Digital, Pembangunan Perdesaan dan Ekonomi Masyarakat (PPEM). Maupun Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak (TRPL) , kami didorong untuk memberikan dampak nyata,” tegas Yadi.

Jadwal Tayang dan Distribusi
Digi Talks dijadwalkan mulai mengudara secara perdana pada akhir bulan April 2026. Masyarakat dapat menyaksikan diskusi edukatif ini melalui saluran YouTube resmi: SVKarawang.

Pemilihan nama “Digi Talks” sendiri selaras dengan visi prodi Bisnis Digital. Untuk mencetak SDM unggul yang mampu mengelola ekosistem media digital secara profesional. Sekaligus memberikan panggung promosi bagi UMKM lokal di Karawang./ym

Persoona.id – Transformasi digital bukan lagi sekadar tren, melainkan realitas yang mengubah wajah ekonomi Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan bisnis digital meningkat signifikan, didorong oleh penetrasi internet yang masif dan perubahan perilaku masyarakat yang semakin bergantung pada teknologi.

Menurut berbagai proyeksi, nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan terus meningkat hingga ratusan miliar dolar AS dalam beberapa tahun ke depan. Angka ini menunjukkan bahwa masa depan bisnis nasional akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan kita mengelola teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI).

AI Bukan Ancaman, Melainkan Akselerator

Sebagian orang masih memandang AI sebagai ancaman bagi tenaga kerja manusia. Padahal, dalam konteks bisnis digital, AI justru berperan sebagai akselerator produktivitas.

Teknologi ini memungkinkan otomatisasi layanan pelanggan melalui chatbot, analisis data dalam hitungan detik, hingga personalisasi pengalaman konsumen. Lihat saja bagaimana platform seperti Netflix dan Spotify memanfaatkan AI untuk memberikan rekomendasi yang sangat personal kepada penggunanya.

Bagi dunia usaha, efisiensi ini berarti penghematan biaya sekaligus peningkatan kepuasan pelanggan. Namun, penting dipahami bahwa AI hanyalah alat. Nilai tambah sesungguhnya tetap lahir dari kreativitas manusia dalam memanfaatkan teknologi tersebut.

Tantangan Talenta Digital yang Mendesak

Salah satu persoalan krusial yang dihadapi Indonesia adalah kesenjangan talenta digital. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, pernah menyampaikan bahwa Indonesia berpotensi mengalami kekurangan jutaan talenta digital hingga 2030.

Kondisi ini adalah alarm sekaligus peluang. Alarm, karena tanpa sumber daya manusia yang kompeten, pertumbuhan ekonomi digital akan terhambat. Peluang, karena generasi muda yang memiliki keterampilan digital akan menjadi aset paling dicari.

Artinya, investasi terbesar yang bisa dilakukan saat ini bukan hanya pada teknologi, tetapi pada manusia.

Inovasi sebagai DNA Bisnis Digital

Di era kompetisi super ketat, perusahaan tidak cukup hanya mengadopsi teknologi. Mereka harus terus berinovasi. Inovasi bisa hadir dalam bentuk model bisnis baru, strategi pemasaran kreatif, hingga pengalaman pelanggan yang lebih sederhana dan menyenangkan.

Sejarah menunjukkan bahwa perusahaan yang gagal beradaptasi akan tertinggal, bahkan hilang dari pasar. Sebaliknya, mereka yang mampu membaca perubahan dan berani bereksperimen justru tumbuh pesat.

Dalam konteks ini, AI menyediakan data dan efisiensi, tetapi inovasi membutuhkan keberanian, imajinasi, serta pola pikir solutif.

Pendidikan sebagai Fondasi Masa Depan

Jika masa depan bisnis digital Indonesia ditentukan oleh teknologi dan inovasi, maka pendidikan adalah fondasinya. Pendidikan tinggi yang relevan dengan kebutuhan industri menjadi kunci dalam mencetak talenta unggul.

Bidang studi seperti Bisnis Digital tidak hanya mengajarkan teori manajemen, tetapi juga keterampilan praktis seperti analisis data, digital marketing, manajemen produk teknologi, hingga kewirausahaan berbasis digital.

Lebih dari itu, pendidikan juga membentuk soft skills—kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, dan berkomunikasi—yang tidak dapat digantikan oleh AI.

Penutup: Siapkah Kita?

Masa depan bisnis digital Indonesia sangat menjanjikan, tetapi tidak datang tanpa tantangan. AI akan terus berkembang, pasar semakin kompetitif, dan kebutuhan talenta digital semakin mendesak.

Pertanyaannya bukan lagi apakah transformasi digital akan terjadi, melainkan seberapa siap kita menghadapinya.

Generasi muda memiliki peluang emas untuk menjadi aktor utama dalam perubahan ini. Dengan kombinasi pendidikan yang tepat, keterampilan digital, serta semangat inovasi, Indonesia bukan hanya menjadi pasar digital terbesar di Asia Tenggara, tetapi juga pemain utama dalam ekonomi digital global./***