Persoona.id – Akhir-akhir ini kita tampaknya sangat rajin memberi label pada segala sesuatu. Begitu rajin, sampai-sampai seni budaya pun tidak luput dari kebiasaan administratif itu.

Koq ada ya?
Festival Seni Budaya Islam. Nanti akan muncul juga Festival Seni Budaya Kristen, Festival Seni Budaya Hindu, atau kalau semangat klasifikasinya makin tinggi mungkin sekalian saja dibuat Festival Seni Budaya Islam Mazhab Maliki. Supaya lebih rapi.

Sebab rupanya seni budaya jaman sekarang harus jelas akidahnya. Seni budaya harus memiliki agama. Padahal selama ribuan tahun, budaya hidup tanpa perlu mengurus surat keterangan beragama apa.

Seni budaya lahir dari tanah yang sama, dari manusia yang sama, dari kehidupan sosial yang sama, dari sawah yang sama.

Seni budaya tumbuh dari kebiasaan manusia yang hidup berdampingan, bukan dari rapat Departemen Agama.

Tapi kita memang bangsa yang kreatif. Kalau sesuatu bisa dipecahkan, kenapa harus disatukan, karena kita memang punya bakat luar biasa untuk memecahnya.

Tarian dari Aceh? Segera diberi stempel, budaya Islam.
Lagu pujian dari Tapanuli? Langsung dimasukkan ke jenis budaya Kristiani.

Terus kalau saya Hindu, apakah tidak boleh menonton qasidahan. Atau kalau saya penghayat kepercayaan, apakah telinga saya harus ditutup ketika mendengar kidung natal?

Padahal budaya Nusantara justru lahir dari percampuran etnis yang begitu majemuk.
Arab datang, India datang, Cina datang, Eropa datang dan semuanya meninggalkan kesan juga jejak kebudayaan.

Bahasa bercampur. Musik bercampur. Tarian bercampur.
Masakan bahkan lebih parah lagi, rendang saja tidak pernah bertanya agama siapa yang memakannya.

Tapi manusia modern rupanya lebih cemas daripada nenek moyangnya sendiri.
Segala sesuatu harus diberi pagar. Diberi label. Diberi identitas rapi, seperti map arsip kantor kecamatan.

Kita merasa sedang menjaga kemurnian sesuatu. Padahal yang terjadi justru sebaliknya,
kita sedang menyempitkan sesuatu yang begitu luas.

Budaya itu sungai, mengalir melewati banyak kampung, menyentuh banyak manusia, memberi minum siapa saja yang datang. Tetapi manusia modern lebih suka menjadikan buaya sebagai kolam kecil dengan papan tulisan besar, “Hanya untuk golongan tertentu.”

Budaya yang sejak awal diciptakan untuk menyatukan manusia, sekarang dipaksa memilih agama./ksm

Persoona.id – Di bulan Romadhon, ada satu malam yang mulia. Malam ketika langit mendekat dan membuka pintunya lebar-lebar. Malaikat turun berbondong-bondong, membawa berkah, membawa ampunan, membawa pahala yang nilainya tak tanggung-tanggung, “lebih baik dari seribu bulan”.

Di masjid, di majlis, lampu menyala terang. Sajadah digelar, tasbih berputar seperti kipas angin yang tak pernah berhenti. Doa-doa naik ke langit dengan suara lirih dan tangis khusuk terisak dalam lautan kedekatan pada Tuhan. Inilah malam paling mulia, malam yang tak kan hadir lagi, kecuali Romadhon tahun depan.

Sementara nun jauh di tempat-tempat lain, malamnya malam yang berbeda. Di sana tidak ada sajadah. Tidak ada lantunan doa panjang. Hanya suara besi dipukul, karung diangkat, motor tua yang meraung di jalanan.

Seorang kuli mengangkat semen di proyek bangunan yang tetap bekerja karena target tidak mengenal kalender langit, penjaga malam berjalan bolak-balik mengusir kantuk, sopir truk menahan kantuk di jalan tol yang sunyi. Ya mereka juga sedang mengejar sesuatu malam itu.
Bukan pahala seribu bulan.
Cuma seratus ribu rupiah tambahan supaya anaknya bisa beli baju lebaran.

Di masjid, orang-orang berdoa agar dosa diampuni. Di luar masjid, ada orang-orang yang bahkan tidak sempat memikirkan dosa, karena pikirannya penuh oleh harga beras, uang sekolah, dan cicilan hutang.

Dan para pengkhotbah menganggap, mereka sering dianggap orang yang “tidak memanfaatkan malam Lailatul Qadar.”

Padahal mereka sedang memanfaatkan satu hal yang jauh lebih nyata, yaitu kesempatan untuk membuat anaknya makan esok pagi.
Apakah langit hanya terbuka di atas kubah masjid?
Apakah malaikat hanya turun ke ruangan ber-AC yang penuh sajadah empuk?
Ataukah malaikat juga lewat di gang sempit tempat seorang ayah sedang memanggul karung sambil mengingat wajah anaknya?

Jika pahala malam itu benar-benar lebih baik dari seribu bulan, kita patut bertanya.

Apakah pahala itu hanya berlaku bagi mereka yang punya waktu luang untuk berdoa?

Karena kenyataannya, banyak orang yang bisa menghabiskan malam dengan dzikir panjang bukan karena lebih suci, tapi karena sudah selesai memikirkan isi dapur.

Sementara banyak orang yang tidak hadir di masjid bukan karena kurang iman, tapi karena jam kerja tidak pernah mengenal kalender ibadah.

Jika logika langit benar-benar sesederhana yang sering diceramahkan. Maka surga nanti akan dipenuhi oleh orang-orang yang rajin i’tikaf, sementara para buruh yang lembur di malam Lailatul Qadar harus menunggu di luar pagar.

Jika Tuhan benar-benar adil, rasanya mustahil Dia lebih menghargai orang yang membaca doa panjang daripada orang yang mengorbankan tidurnya demi memberi makan keluarganya.

Kadang kita terlalu sibuk mencari Tuhan di langit. Padahal bisa jadi malam itu Tuhan sedang berada di tempat lain. Di samping sopir truk yang menahan kantuk,
di dekat kuli bangunan yang punggungnya berkeringat,
di antara pedagang kecil yang masih menghitung receh di bawah lampu jalan.

Sementara di masjid, orang-orang terus memohon berkah. Tidaklah salah. Hanya saja, terkadang kita lupa bahwa doa yang paling didengar Tuhan malam itu, bukanlah doa yang paling panjang. Tapi doa yan tak sempat terucap demi membahagiakan orang-orang yang dicintainya.

: Abah Sarjang

Kupujai nama-Mu
Karena semesta tunduk pada-Mu
Kupahatkan agung-Mu
Dalam setiap langkah ini

Tiada lelah menyebut-Mu
Karena Engkau kekasih sejati
Tumpuan cinta yang sesungguhnya
Karena Engkau kekasih sejati
Jika selama ini ku abaikan Engkau
Karena kerlip dunia menipuku

Izinkan ku kembali, izinkan di pintu cahaya-Mu
Ku bersujud
Astagfirulloh Al Adzim
Kubawa jasad luka dari kubangan lumpur dosa
Astagfirulloh Al Adzim
Semoga Kau terima segala taubatku

: Abah Sarjang

Persoona.id – Katanya, kolonisasi Kwari, tidak membawa mariem, rudal, AK 47 atau granat. Tapi cukup di racun perlahan, di kasih penghargaan.

Orang-orang sekarang tidak perlu diintimidasi oleh tentara bersenjata, hanya dibandingkan dengan internet yang akan mereka blokir, cukup. Hanya karena bukan hiu juralit, jadi seperti ikan.

Dahulu masjid, kampus, dan sekretariat organisasi, mengamati, sab di tempat-tempat itu, kesadaran, gerakan dan perlawanan pertama kali lahir.

Sekarang tempat-tempat seperti itu aman. Di masjid jarongjon sholat dan sholat. Shaf rapih suara Imam Halimpu doa panjang dengan air mata Setelah salam, jemaah akan kembali ke dunia.

Di kampus jarongjon kajian suhud, rumus, teori menceritakan pidato profesor, atau menguji teori dokter, dan belajar di kantin atau segera berangkat kerja, untuk dosen sambil bekerja.

Di sekretariat organisasi, ya tidak ada bedanya. Aku kutuk yg terhormat, menghina pejabat yg jahil, munafik dan koruptor, menyalahkan takdir, sambil scroll hp. Mereka pikir situasi negara bisa berubah, keadilan akan jatuh dari langit, seperti paket gratis ongkir.

Para penjajah jaman dulu pasti iri, melihat gaya penjajah jaman sekarang. Pada akhirnya, penjajah harus memikirkan kembali, menyusun strategi adu domba, menunda jalur untuk menyeret para pemimpin gerilya dan menganalisa buku dan teori apa pun yang akan menekan massa. Sederhananya, anda harus benar-benar melihat ke bawah jika ada banyak masalah.

Dan sekarang?
Sekarang saya santai… Gak usah gitu, orang-orang udah di tindik hidung. Berikan hiburan setiap hari, berikan pekerjaan yang melelahkan, dan bayar sebentar. Bagaimana jika emosi dan kemarahan? Buat wadah saja untuk menyalurkan emosinya. Biarkan mereka duduk di dalam kontainer. Muak dengan semua kebencian media sosial, terkuras.

Aku tidak akan melakukannya. Aku tidak akan turun ke jalan, aku tidak akan bergerak. Bahkan lebih mengadakan demonstrasi besar-besaran terhadap gedung parlemen. Aku tidak akan melakukannya. Kemungkinan besar bikin status seperti ini. Di baca sama yg mau like dan komen Selesai. Udah kenyang scrolling, udah diem lagi Nyari kipayah lagi, makin susah.

Revolusi berakhir sebelum dimulai.

Semua kebaikan, simpati, empati, dan semangat keadilan, telah digantikan dengan tombol “kirim”.

Ditambah lagi ditekan oleh para pendeta, mendorong untuk menyebarkan firman suci. Sabar lah. Ikhlas. Percaya. Perbesar hati,asah indera, dekatkan diri pada Tuhan. Rejeki sudah ada yang ngatur.

Ya, jelas pemerintah yang bertanggung jawab. Tapi ini tidak diatur dan oh sayang. Pajak rendah, kerja keras, berusaha mendapatkan lebih banyak aturan, peraturan, dan birokrasi dalam bola kusut. Menjadi gila. Mau cepat pasti ada yang licin. Kalo ga ketawa, lama2 aja Modal usaha di pake makan, sambil nunggu izin yang gak mau keluar.

Tentu saja tidak seluruh komunitas tetap bingung. Akan ada, mereka yang terus menyerang rakyat, melakukan semua yang mereka bisa untuk meringankan penderitaan, tapi tidak banyak, dan jarang tertangkap kamera. Hal seperti itu tidak pernah menjadi viral.

Sesungguhnya negara kita tidak kekurangan orang-orang yang berhati baik dan memberi. Yang kurang adalah orang baik dengan keberanian. Berani melawan sistem busuk, berani membongkar dan mencambuk kesadaran, bahwa kita benar-benar sedang diserang.

Penjajah modern tidak memiliki bendera. Tidak ada bahasa asing atau asing. Jangan memutar rantai di kaki.

Hanya ada satu hal yang pasti. Aku pernah dipukuli, digosok, dan dipermainkan, hingga aku lupa, bahwa aku pernah punya keberanian.

Berani turun ke jalanan, berani berteriak melawan ketidak adilan, berani melawan meski resiko diinjak-injak atau digoda.

Sesungguhnya bukan doa yang tidak mati, tapi doa yang tidak melahirkan kekuatan. Semangat padam sebelum doa menjadi buah.

Penjajah akan terus berkeliaran, selama kita merasa terintimidasi oleh keadaan. Pelajar dan pemuda tidak tahu harus kemana. Hanya mencari kesenangan di waktu santai. Tetangga di dunia kepalsuan. Tidak ingin mengubah situasi.

Bersantai…
Selagi kuota masih ada, baterai belum padam. Scroll screen itu lebih menyenangkan, daripada mikirin negara.

: Abah Sarjang

Persoona.id – Sampai saat ini kita berusaha percaya, tentang Ratu Adil, yang akan hadir saat keadilan tercerai-berai serupa puing. Kesenjangan memuncak semakin lancip. Rakyat perutnya kosong, sedangkan penguasa dan pemilik modal, tajir melintir.

Banyak yang apatis, nyinyir dan menganggap mitos lama. Tentang Ratu Adil yang ditunggu-tunggu. Belum lahir, keburu terbunuh, atau mungkin tak kunjung datang.

Sementara yang tak pernah absen berkunjung, malah notifikasi, pemberitahuan dan dering nomer asing, yang tak bosan memanggil tagihan pinjol.

Keadaan kian tak berpihak, kesejahteraan cuma jargon. Dan kita menelan kekecewaan dengan rebahan, sekrol medsos, tertawa sendiri saat melihat potongan video pendek, sesekali mengumpat menyaksikan kilasan derita di layar kita. Setelah itu mendengarkan musik dan tidur.

Jika keadaan gamang seperti ini terjadi pada tahun 1980-an atau 1990-an, barangkali Indonesia tidak akan setenang hari ini. Harga sembako melonjak, PHK membabi buta, pajak mencekik, petani dipersulit, nelayan terabaikan, buruh diperas. Pada era itu, akumulasi ketidakadilan hampir selalu berujung pada satu tempat. Jalan raya. Spanduk terbentang, suara menggema, dengan risiko diculik atau ditembak, tak peduli, yang penting negara dipaksa mendengar suara jelata.

Peristiwa 98 adalah cerita yang masih tertera dalam ingatan generasi lama. Kemarahan kolektif menemukan tubuhnya. Mahasiswa, buruh, ibu rumah tangga, bahkan pedagang kecil, semuanya turun bersama. Sejarah pun bergeser.

Hari ini, dengan beban hidup yang tak kalah berat. Bahkan mungkin permasalahan yang menimpa lebih kompleks, lebih menghimpit dan lebih getir. Tapi masyarakat masih mempertahankan posisi rebahannya. Hanya ramai dengan suara-suara sunyi. Tidak bisa disebut diam, tapi kenyataannya memang tidak bergerak. Ada kritik, tapi terpecah. Ada amarah, tapi menguap.

Begitu hebatnya teknologi. Media sosial telah mengubah cara kita mengekspresikan marah, kecewa dan ketidak-puasan.
Dulu, kemarahan butuh ruang bersama. Perlu dikumpulkan, dirawat dan dirumuskan. Sekarang, kemarahan cukup diberi kolom komentar. Cukup diketik. Cukup dibagikan. Lalu selesai.

Ada rasa lega, seolah telah melakukan sesuatu. Padahal yang berubah hanya suasana hati kita. Bukan struktur kekuasaan.

Media sosial memberi kita ilusi paling nyaman, ilusi perlawanan tanpa risiko.
Tak perlu panas matahari, air minum kemasan, nasi bungkus atau semburan gas air mata. Tidak ada persekusi aparat atau ketakutan ditangkap. Cukup marah dari kasur atau duduk merokok di kursi depan, sambil mengaktifkan jari.

Inilah apatisme bentuk baru. Bukan apatis yang bisu, justru apatis yang cerewet. Kita tidak lagi diam, namun tidak benar-benar melawan. Tajam mengkritik, tapi masing-masing. Lantang bersuara, tapi tercerai-berai. Aksi menggelar spanduk cuma lewat upload. Algoritma memastikan kemarahan kita berputar di lingkaran yang sama. Ramai, namun tak mengancam siapapun di atas sana.

Kekuasaan memanfaatkan semua ini dengan baik. Rakyat yang marah secara kolektif, berbahaya. Sedangkan kalau marahnya secara individual, aman.
Untuk itu, melalui algoritma, konflik dialihkan ke mana-mana. Menjadi permasalahan identitas, jadi perdebatan receh, atau saling ejek antar sesama. Solidaritas dikikis dengan perlahan, menyisakan kebisingan horizontal tanpa arah. Bukan tekanan masal yang vertikal.

Mungkin fenomena ini tidak dirancang sebegitu rapinya. Namun celah-celahnya amat terbuka untuk dimanfaatkan. Lama-lama ya dinormalisasi. Dracin contohnya, di negara asalnya Cina, sudah ada larangan ditonton. Di kita malah subur, memanjakan khayalan dan iming-iming poin. Judol memang dilarang, tapi oknum-oknum Komdigi membuka dan membuat ribuan situsnya.

Bukan berarti masyarakat hari ini bodoh dan malas. Namun pemerintah telah memberi kita suntikan kelelahan masal. Lelah mencari nafkah tanpa jaminan kepastian hidup. Capek membaca deretan pajak yang kian mebebani. Muak dengan janji dan sistem yang terus-terusan mengecewakan. Pekak telinga mendengar pidato omon-omon. Sebuah kelelahan yang diciptakan.

Media sosial datang sebagai obat murah, tempat curhat, tempat marah, tempat merasa ditemani, meski sebenarnya sendirian.

Sayangnya, sejarah tidak berubah karena pelepasan emosi. Hanya ledakan umpatan, lalu dilupakan.

Sejarah menuntut emosi yang dikonsolidasikan, diakumulasikan dan diwujudkan menjadi gerakan.Dari status ke struktur. Dari viral ke nyata. Dari individual ke kolektif.

Tanpa ada gerak kompak yang nyata, kita akan terus hidup dalam paradoks. Negara bermasalah, rakyat marah,
tapi kekuasaan tetap tenang. Karena mereka tahu, kemarahan kita akan berhenti di layar dan perlawanan kita akan mati, saat baterai habis.

Ratu Adil tak mungkin datang, sekonyong-konyong menyelamatkan. Kita harus mempersiapkan jalannya, siapkan kehadirannya, dengan cara terus berisik walau masih tercerai-berai.

Seperti yang dikatakan Teh Kumaila Hakimah.
“Kurangi doa, banyakin kritik pemerintah.”

Semoga bising ini menjadi gerakan.
: Abah Sarjang

Persoona.id – Puluhan tahun Iran dikampanyekan sebagai ancaman utama stabilitas Timur Tengah. Kebohongan ini diulang terus-menerus, media-media di Indonesiapun ikut-ikutan menggemborkannya. Lambat-laun hoax ini berubah jadi “kebenaran resmi” yang diresmi-resmikan.

Belum lagi dengan agama negara Iran yang “Syi’ah”, menjadi lahan subur bagi para pembenci untuk membuat berbagai narasi bahwa, walaupun Tuhan dan Nabinya sama, Syi’ah adalah agama sesat, bukan Islam, negara yang suka perang, kaum fundamentalis dan berbagai ujaran kebencian lainnya yang tak mendasar.

Padahal, kalau ditelisik secara fakta, berusaha jujur tanpa mengikutsertakan kebencian pada perbedaan, tuduhan itu sama-sekali tidak mengena.

Mari kita bandingkan Iran dengan Israel sebagai dua kubu yang kontra.

Perang besar terakhir yang melibatkan Iran secara langsung adalah Perang Iran-Irak. Perang ini tidak dimulai oleh Teheran. Justru pada Tahun 1980, Irak di bawah Saddam Hussein menginvasi wilayah Iran, termasuk Provinsi Khuzestan. Sejak perang berakhir, Iran tidak pernah melakukan invasi terbuka ke negara-negara tetangganya.

Bandingkan dengan Israel.

Sejak berdiri, negara ini berulang kali melakukan operasi militer lintas batas. Israel menyerang Lebanon, Suriah, Irak, dan tentunya Palestina. Terlebih di Gaza, bagian dari pola panjang yang mempertontonkan kekejaman, genosida dan penggunaan kekuatan bersenjata yang brutal.

Namun betapa dunia dibutakan dengan “post truth” berbingkai pembelaan diri. Lewat bahasa diplomasi dan peran media, yang berfungsi sebagai pemutih, memutar-balik dan mengaburkan fakta, seolah-olah tindakannya legal secara moral dan Undang-undang Dunia.

Israel menuduh Iran memiliki senjata nuklir. Namun dunia menyaksikan Iran menandatangani Akta Non-Proliferation Treaty (NPT), tunduk pada inspeksi Badan Energi Atom Internasional. Sampai sekarang tuduhan itu tidak terbukti. Sedangkan Israel menolak menandatangani NPT, menolak inspeksi internasional. Dari berbagai sumber lembaga independen meyakini, bahwa Irael memiliki puluhan hingga ratusan hulu ledak nuklir.

Anehnya, dunia internasional lebih sibuk mencurigai yang patuh daripada menegur yang membangkang.

Logika jungkir-balik ini diterima sebagai kewajaran. Negara tanpa senjata nuklir dicap ancaman global, sementara negara pemililik hulu ledak nuklir dibiarkan berada di luar pengawasan. Inilah standar ganda hukum internasional, yang diterapkan secara selektif dan pandang bulu.

Gaza adalah pertunjukan paling mengerikan dari konsekwensi standar ganda yang diterapkan hukum internasional. Ribuan warga sipil tewas, mayoritas perempuan dan anak-anak. Rumah sakit, sekolah, dan kamp pengungsian hancur porak-poranda. Mereka yang tertangkap diambil ginjalnya, jatungnya, kornea matanya, kulitnya, menyisakan mayat, darah dan potongan tubuh yang menguap di udara. Tak ada kutukan, tak ada kecaman. Kekejaman di depan mata, bagai kabut tersaput siang, dan dunia bungkam tak mampu berkata-kata.

Segala teror, kekerasan, persekusi dan intimidasi dibungkus sebagai hak membela diri. Sepertinya hak itu tidak memiliki batas. Nyawa sipil dapat dinegosiasikan, lalu dibungkus dengan konteks politik.

Iran tampil sebagai salah satu negara yang paling vokal mengecam agresi Israel dan menyatakan dukungan penuh terhadap perlawanan Palestina. Mungkin sikap itu tidak steril dari kepentingan geopolitik. Iran hendak memperluas pengaruh regional dan menantang dominasi Amerika Serikat. Namun politik kepentingan tidak otomatis membatalkan substansi moral. Jika semua sikap hanya dinilai dari motif, maka tidak ada satu pun negara yang berhak ngomong soal kemanusiaan.

Sedangkan kita, Indonesia. Negara muslim terbesar. Negara dengan konstitusi tegas menolak penjajahan. Tertera dan setiap Upacara Bendera dibaca, yang sejarahnya lahir dari solidaritas bangsa-bangsa tertindas, kini malah bingung dan linglung. Dengan mengatas-namakan kepedulian terhadap Gaza, Indonesia memilih jalur diplomasi, berada dalam gerombolan Amerika Serikat. Negara sombong yang selama ini menjadi pelindung utama Israel di forum internasional.

Logika “kepala kejedot tiang listrik” ini sungguh aneh. Bagaimana mungkin pembelaan terhadap Palestina ditempuh, melalui poros kekuatan yang secara konsisten menjadi pelindung agresor. Memang dalam urusan politik luar negeri, perlu banyak pertimbangan dan penuh perhitungan. Namun ketika kalkulasi mengalahkan prinsip, wajarlah kalau pemikiran itu dianggap sebagai hasil logika kejedot tiang listrik, atau hasil pemikiran dari otak sisa diamputasi.

Ya, kalaupun kita tidak seperti Iran, yang telah menanamkan idealisme, nasionalisme dan patriotisme, pada generasi semenjak bayi. Minimal kita malu pada anak-cucu, karena mengkhianati semangat Proklamasi, dan mencoreng Pembukaan UUD 45. Sebagai jelata, kita hanya bisa mengutarakan pendapat bahwa kita malu sebagai bangsa.

: Abah Sarjang

Persoona.id – Menikmati karya-karya lukis Kang Mas Pupung, yang saat ini tengah digelar dalam acara Pameran Tunggal bertajuk “The Journey Past And The Future”, sepertinya kita tengah mengembara ke alam lain, alam yang terkadang muncul di mimpi, lintasan fikiran, atau di tengah kepungan kenyataan dan kepingan ketakukan yang sublim.

Diprakarsai oleh HONDA KUMALA KARAWANG tanpa ada campur tangan Pemda Karawang sedikitpun, meskipun hanya satu dus air mineral, TIDAK SAMA SEKALI. Tapi nyatanya pameran ini cukup lancar, baru dua hari digelar, beberapa karya sudah sold out. Pameran berlangsung dari tgl 13 – 30 Desember 2025.

Ada 30 karya yang dipajang. Mewakili proses kreatif pelukis dengan kurun waktu cukup panjang. Melewati berbagai kisah, kegetiran hidup, pergulatan, dialektika dan idealisme yang berusaha divisualisasikan lewat gradasi warna, sapuan kuas, coretan garis dan bentuk-bentuk yang meruang.

Rangkaian lukisannya tidak hadir sebagai objek estetika yang berdiri sendiri, walapun bisa dipresentasikan seperti itu. Ia hadir sebagai narasi visual kolektif, sebuah kronika tentang manusia, kekuasaan, alam, dan krisis moral yang menyertainya. Warna dan bentuk menyeruak dan berkisah, meminjam bahasa simbol, mitologi, sejarah, dan realitas sosial, untuk menuturkan kondisi manusia yang terus berulang. Tentang konflik, penaklukan, kerusakan, pencarian makna, dan pergolakan batin.

Pelukis tidak menawarkan keindahan yang menenangkan, kelembutan nuansa yang damai atau romantisme yang melankolis. Ia mengetengahkan kejujuran yang menggugah, bahkan mengguncang. Inilah seni yang berbicara, bersaksi, dan mengajukan pertanyaan. Bukan seni yang meminta persetujuan.

Secara keseluruhan, rangkaian lukisan ini membentuk struktur narasi yang bergerak dari keramaian menuju kesunyian, dari kekacauan menuju perenungan, dan kembali lagi ke pertanyaan tentang kekuasaan manusia atas dirinya sendiri.

Kerumunan massa, figur tunggal, alam yang menjelma tubuh, dan dunia yang terbalik, semuanya disusun bukan secara linear, melainkan siklikal, menandakan bahwa sejarah manusia tidak bergerak lurus ke depan, tetapi berputar dalam pola yang sama dengan wajah berbeda.

Dalam lukisan yang menampilkan kerumunan dengan dominasi merah, manusia hadir sebagai tubuh kolektif yang terhimpit. Warna merah mengalir bukan hanya sekadar latar, tetapi sebagai substansi konflik, hadir sebagai darah, amarah, api, dan ketegangan yang tak menemukan katup pelepasan.

Aparat digambarkan seragam dan anonim, menandakan institusi tak memiliki wajah, sementara rakyat tampil sebagai individu-individu yang tercerabut dari pijakannya. Tidak ada pahlawan tunggal, tidak pula antagonis personal. Yang dipertentangkan adalah sistem dengan tubuh manusia sebagai subjek sekaligus objeknya.

Keberadaan figur-figur hewan seperti anjing, babi dan binatang lainnya, hadir sebagai satire sosial, tentang insting, kekerasan terlatih, dan kerakusan yang dilembagakan.

Dalam lukisan bertema air dan banjir, konflik diperluas menjadi dimensi kosmik. Air raksasa yang mendominasi kanvas tidak digambarkan sebagai musuh yang bisa dilawan, melainkan sebagai takdir ekologis. Manusia bergerak kecil, beriringan, menyerupai eksodus, menggemakan kisah-kisah tentang banjir besar, pengungsian, dan kehancuran peradaban.

Api muncul berdampingan dengan air, menandakan dunia yang kehilangan keseimbangan. Dua unsur ini tidak lagi bersifat simbolis semata, tetapi menjadi karma, menjadi konsekuensi dari tindakan manusia sendiri.

Figur perempuan yang menyatu dengan alam menghadirkan kontras penting dalam keseluruhan narasi. Tubuhnya bukan objek, melainkan ruang hidup. Flora dan fauna hadir setara, tanpa hierarki. Ini adalah dunia saat manusia belum menempatkan dirinya sebagai pusat segalanya. Namun, di kejauhan, siluet kota modern berdiri sebagai bayang-bayang ancaman. Lukisan ini berbicara tentang keretakan antara peradaban dan alam, sekaligus kerinduan pada harmoni yang kian menjauh.

Dalam karya “Sabda Pandita”, keramaian menghilang. Yang tersisa adalah figur tunggal dengan gestur lembut dan latar jingga senja. Ini bukan potret tokoh, melainkan representasi kebijaksanaan lisan dan palsapah karuhun yang mengandung bobot moral.

Ujaran Ronggo Warsito yang ditulis langsung di kanvas menegaskan bahwa seni rupa tidak terpisah dari tradisi tutur, petuah, dan peringatan. Sedangkan senja menjadi wakil waktu peralihan, antara terang dan gelap, antara kesadaran dan kejatuhan.

Di lukisan “Lelaki Penakluk”. Api yang menyala dari bawah pusar sampai ke dadanya, bukan senjata eksternal, melainkan ambisi dan kehendak yang lahir dari dalam diri manusia. Sedang di sekelilingnya, dunia terbalik, langit menjadi bumi, nilai-nilai kehilangan orientasi dan makhluk-makhluk simbolik beterbangan tanpa arah.

Judul “penakluk” menjadi ironi. Ia tampak kuat, tetapi berdiri di tengah kehancuran yang ia ciptakan sendiri. Pertanyaannya bukan lagi siapa yang ia taklukkan, melainkan “apa yang tersisa dari kemanusiaannya”.

Pada akhirnya kita akan membaca tentang kesadaran, bahwa manusia adalah makhluk kolektif, bukan individu yang terisolasi. Kekuasaan hadir menjadi sumber konflik dan paradoks. Sedangkan alam terserak sebagai korban, namun sekaligus pengingat. Sedangkan spiritualitas kian hening dan terpinggirkan.

Tidak ada solusi instan yang ditawarkan. Tidak ada figur mesianistik, yang hadir sebagai juru selamat. Sisanya hanya kesadaran pahit, bahwa peradaban terus bergerak di antara kehancuran dan kemungkinan pembaharuan.

Karya-karya ini layak dibaca sebagai lukisan kesaksian zaman. Satu upaya merekam denyut sosial, ekologis, dan spiritual manusia kontemporer. Ia tidak mempretensikan menjadi penghakiman, namun tetap tidak netral. Lukisan-lukisan ini memilih berpihak pada pertanyaan, bukan jawaban.

Dalam konteks pameran, rangkaian ini mengundang penonton untuk tidak sekadar melihat, tetapi merenung, resah, dan bertanya kembali tentang posisi manusia di tengah dunia yang ia bentuk dan ia geluti.

Uraian ini ditulis agak panjang. Sebagai bentuk penghargaan pada Kang Mas Pupung Prayitno yang dengan karya dan kesetiaannya menjadi pelukis, telah memberi inspirasi bagi pelukis generasi selanjutnya.

Dan semoga yang membaca, menjadi penasaran dan berkunjung ke Gedung Honda Kumala Karawang, untuk menikmati karya Sang Maestro Karawang.

Terimakasih untuk Wa Abdurahman Abro, yang telah memberikan Pengantar Kuratorial, Bang J Haris Bonandar yang keren menjadi moderator dan untuk Keluarga Besar Honda Kumala Karawang, terutama Pak Wawan, yang telah memfasilitasi saudara dan senior saya, untuk berpameran.

Nuhuuun..!
: Abah Sarjang

Persoona.id – Di tengah hiruk pikuk kehidupan yang serba cepat, ruang sastra di Karawang membuktikan bahwa ia masih tetap berdetak. Hal ini terlihat dari tingginya antusiasme warga dalam Pementasan Membaca Puisi yang digelar di Karang Pawitan, dalam rangka memperingati Hari Jadi Karawang Ke-392.

Meskipun digelar secara sederhana, pertunjukan yang dihadiri oleh tua, muda, wanita, dan pria ini berhasil menghidupkan nilai-nilai jati diri dan meresap ke dalam kalbu para penonton yang menyaksikannya. Kehadiran mereka seolah menjadi bukti bahwa sastra menawarkan oase di tengah sulitnya pekerjaan dan ruwetnya kehidupan sehari-hari.

Sastra: Melembutkan Hati dan Mengasah Rasa

Pementasan membaca puisi ini ditegaskan bukan sekadar hiburan semata. Fungsi sastra dianggap vital dalam pembentukan karakter.

“Pertunjukan Membaca Puisi ini bukanlah barak militer yang bisa mengubah anak-anak menjadi nurut dan disiplin. Tetapi setidaknya, melalui pertunjukan puisi atau teater, sedikit demi sedikit dapat melembutkan hati, mengasah rasa, dan mempertebal kepercayaan diri,” tulis salah satu pegiat budaya dalam rilis pers yang diterima redaksi.

Keyakinan akan harapan masih tersisa. Selama seni budaya dan sastra diberi ruang untuk diapresiasi dan dihayati, maka rasa kedamaian dalam diri akan tumbuh. Lebih jauh, rasa simpati dan empati terhadap sesama akan perlahan-lahan berakar dan menguat.

Dorongan untuk Festival Teater Pelajar

Melihat besarnya animo masyarakat pada pementasan kali ini, muncul dorongan kuat bagi pemerintah daerah untuk menindaklanjuti.

Pihak-pihak pegiat budaya menilai bahwa sudah selayaknya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (DISPARBUD) Kabupaten Karawang mengusahakan waragad (dana) untuk kembali mengadakan Festival Teater Pelajar.

Pengadaan festival dinilai sebagai salah satu cara paling efektif untuk menautkan rasa hati dan melembutkan nurani generasi muda. Dengan memperkenalkan kembali seni sastra melalui festival, diharapkan nilai-nilai kemanusiaan dan jati diri masyarakat Karawang dapat terus terpelihara dan kuat./rian

Persoona.id – Karawang sekali lagi membuktikan posisinya sebagai “Tanah yang kaya akan seni dan budaya.” Pada Minggu, 24 Agustus 2025, Grand Final Jaipong Ambassador 2.0 Se-Jawa Barat (Ronggeng dan Jawara) digelar meriah di Atrium Mal Karawang Central Plaza.

Baca juga : Workshop Produksi Film di Karawang Jadi Pembuka Karawang Film Festival 2025

Acara bergengsi ini dibuka oleh Plt. Asisten Pemerintahan Kesra mewakili Bupati Karawang, dan dihadiri oleh jajaran pejabat penting, termasuk Sekretaris Daerah Karawang, H. Asep Aang Rahmatullah, serta perwakilan dari Dinas Pariwisata dan Budaya Jawa Barat dan Karawang.

Kompetisi ini menjadi panggung bagi para finalis terbaik dari berbagai daerah di Jawa Barat. Mereka unjuk gigi menunjukkan kemampuan menari Jaipong, sebuah seni tari yang telah menjadi identitas budaya masyarakat Sunda. Para finalis tidak hanya berkompetisi, tetapi juga berekspresi dan mengapresiasi seni Jaipong di hadapan juri dan masyarakat luas.

Baca juga : Kirab Budaya HUT ke-80 Provinsi Jawa Barat: Telusur Jejak Sejarah di Kota Bandung

Penyelenggaraan Grand Final Jaipong Ambassador 2.0 ini tidak sekadar menjadi ajang perlombaan, melainkan juga ruang ekspresi budaya dan edukasi bagi masyarakat. Event ini diharapkan dapat terus melestarikan dan mempromosikan Jaipong sebagai warisan budaya yang tak ternilai.(*)

Persoona.id – Guna memeriahkan dan mempersiapkan Karawang Film Festival (KFF) 2025, Bidang Ekonomi Kreatif (Ekraf) Komite Ekraf Kabupaten Karawang berkolaborasi dengan Forum Film Karawang (FFK) mengadakan sosialisasi dan workshop produksi film. Ketua FFK, Abdul Yusuf, mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian penting dari rangkaian persiapan menuju Karawang Film Festival (KFF) 2025 yang akan digelar pada bulan November mendatang.

Baca juga : Tujuhbelasan : Abah Sarjang

“Kegiatan workshop ini adalah upaya kami untuk mempersiapkan insan perfilman lokal,” jelas Abdul Yusuf. “Ini bagian dari rangkaian Karawang Film Festival yang puncaknya akan digelar pada bulan November mendatang.”

Workshop ini bertujuan untuk membekali para sineas muda dengan pengetahuan dan teknik produksi yang lebih baik. Hal ini diharapkan bisa mendorong lahirnya karya-karya film berkualitas dari Karawang yang siap bersaing di tingkat nasional.

Acara yang berlangsung pada hari Rabu, 20 Agustus 2025 ini, menghadirkan dua narasumber kompeten, yaitu Dara Bunga Rembulan, S.Sn., M.Sn. (Kepala Program Studi TV dan Film ISBI Bandung) dan Endang Kahfi (Praktisi Seni Media dan Peran). Keduanya membagikan pengalaman dan pengetahuan seputar teori, teknik produksi, hingga tantangan di dunia perfilman.

Baca juga : Kirab Budaya HUT ke-80 Provinsi Jawa Barat: Telusur Jejak Sejarah di Kota Bandung

Para narasumber menekankan pentingnya kreativitas, kolaborasi, dan konsistensi dalam berkarya agar film-film buatan sineas lokal mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional. Dengan adanya persiapan matang seperti ini, FFK optimis KFF 2025 akan menjadi ajang yang tidak hanya merayakan kreativitas, tetapi juga mampu membangun ekosistem perfilman yang berkelanjutan di Karawang.