Persoona.id – Mahasiswa Program Studi Bisnis Digital Politeknik Kepribadian Bangsa Indonesia. Resmi memperkenalkan Digi Talks, sebuah platform ekspresi berbasis Podcast. Yang diinisiasi oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Prisain. Bertempat di Kampus Politeknik Kepribadian, Jalan Adiarsa, Karawang. kehadiran Digi Talks diproyeksikan menjadi katalisator industri kreatif. Digital di Kota Pangkal Perjuangan. Minggu 19 April 2026

Digi Talks dirancang sebagai wadah inklusif bagi berbagai elemen masyarakat: mulai dari pelajar, mahasiswa, pelaku UMKM, hingga tokoh publik. Untuk berbagi gagasan, inspirasi, dan strategi menghadapi era transformasi digital.

Mahasiswa Sebagai Motor Penggerak
Inisiatif ini digawangi oleh tiga mahasiswa prodi Bisnis Digital. Abdul Yusup, Yusup Andriyansyah (mamang), dan Asep Saepul Bahri (apep). Sebagai representasi generasi Z yang melek teknologi, mereka berkomitmen menghadirkan konten berkualitas yang relevan dengan kebutuhan pasar saat ini.

“Saat ini kami sedang dalam tahap finalisasi ruangan dan penyusunan materi podcast. Fokus kami adalah memastikan kualitas konten dan teknis yang memuaskan. Agar pesan yang disampaikan bisa diterima dengan baik oleh masyarakat,” ujar Abdul Yusup di sela persiapannya di Kampus Karawang

Baca juga : Kreator Logo HUT Karawang & Ketua Forum Film Pilih Kuliah di Bisnis Digital Politeknik Prisain

Agen Perubahan dalam Dinamika Digital
Dihubungi secara terpisah, Ketua UKM Prisain, Yadi Supriadi, menegaskan bahwa proyek ini merupakan implementasi nyata. Dari peran mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change).

“Mahasiswa harus menjadi motor penggerak dalam dinamika digitalisasi dan berkontribusi langsung bagi pembangunan Kabupaten Karawang melalui disiplin ilmu yang ditempuh. Baik dari prodi Bisnis Digital, Pembangunan Perdesaan dan Ekonomi Masyarakat (PPEM). Maupun Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak (TRPL) , kami didorong untuk memberikan dampak nyata,” tegas Yadi.

Jadwal Tayang dan Distribusi
Digi Talks dijadwalkan mulai mengudara secara perdana pada akhir bulan April 2026. Masyarakat dapat menyaksikan diskusi edukatif ini melalui saluran YouTube resmi: SVKarawang.

Pemilihan nama “Digi Talks” sendiri selaras dengan visi prodi Bisnis Digital. Untuk mencetak SDM unggul yang mampu mengelola ekosistem media digital secara profesional. Sekaligus memberikan panggung promosi bagi UMKM lokal di Karawang./ym

Persoona.id – Sesungguhnya
Tiada yang mampu mewakili rindu
Seribu cara merentas jarak
Hanya makin memperparah rasa
Ingin jumpa

Sesungguhnya
Tiada yang sebanding dengan rasa rindu
Air mata hela nafas
Hanya makin memperparah rasa
Ingin jumpa

Gambar-gambar, perbincangan
bagai senyawa berbisa
Membuatku tersuruk
Dicambuk rindu

Kau, saat kita Bersama
Habiskan waktu
Meramu tawa dan cumbu
Kau, nyatanya rindu
Tak jua reda
Meski kau hadir disisiku

Link Youtube : Sesungguhnya – Abah Sarjang
: Abah Sarjang

Persoona.id – Di tengah arus modernisasi yang sering kali mengabaikan nilai spiritual, pandangan Ayatollah Ali Khamenei mengenai kedudukan perempuan. Menawarkan diskursus yang segar dan mendalam. Mengutip terminologi klasik, ia menegaskan bahwa perempuan adalah Rayhanah (bunga yang harum). Sosok yang wajib dimuliakan, bukan dijadikan Qahramānah (pelayan rumah tangga).

Filosofi ini merupakan kritik tajam terhadap budaya patriarki yang mereduksi peran perempuan hanya pada ranah domestik. Dalam pandangan Islam yang diusungnya, perempuan diposisikan sebagai pilar kemanusiaan yang memiliki derajat setara dengan laki-laki di hadapan Tuhan.

Kesetaraan Nilai dan Hak Sosial-Politik
Pandangan Khamenei menekankan bahwa kemuliaan perempuan. Tidak terletak pada seberapa keras mereka bekerja secara fisik di rumah. Melainkan pada esensi kemanusiaan mereka. Perempuan memiliki hak konstitusional dan religius untuk:

Aktif di Ranah Sosial-Politik: Menjadi pengambil kebijakan dan agen perubahan.

Menjaga Martabat melalui Hijab: Memandang hijab bukan sebagai penghalang, melainkan perisai identitas yang memungkinkan perempuan berinteraksi tanpa objektifikasi.

Kemandirian Intelektual: Mengembangkan kapasitas diri tanpa harus meninggalkan fitrah kelembutannya.

Bukan Pelayan, Melainkan ‘Rayhanah’
Istilah Rayhanah menyiratkan bahwa perempuan adalah makhluk yang halus namun kuat, yang keindahannya harus dijaga agar tidak layu oleh perlakuan kasar atau ketidakadilan. Sebaliknya, istilah Qahramānah dalam konteks ini merujuk pada pemaksaan beban kerja rumah tangga yang melelahkan tanpa adanya apresiasi dan penghormatan.

“Perempuan adalah bunga, bukan kuli di rumah sendiri,” menjadi pesan sentral yang ingin disampaikan. Islam menempatkan kerja sama domestik sebagai bentuk cinta dan kemitraan, bukan perbudakan terselubung.

Dengan tetap menjaga hijab dan harga diri, perempuan Islam masa kini diharapkan mampu menyeimbangkan peran antara membangun keluarga yang kokoh dan berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa./ksm

Persoona.id – Dunia menyaksikan sebuah fenomena budaya dan spiritual yang langka pada Sabtu, 21 Maret 2026. Dua perayaan besar kemanusiaan Idulfitri 1447 Hijriyah dan Nowruz (Tahun Baru Persia). Jatuh secara bersamaan pada titik balik musim semi (vernal equinox).

Bagi lebih dari 300 juta orang yang merayakan Nowruz dan miliaran umat Muslim di seluruh dunia. Momentum ini bukan sekadar kebetulan kalender. Ini adalah pertemuan antara kesucian spiritual Islam dan ketahanan budaya Persia yang telah berusia lebih dari tiga milenium.

Nowruz: Lebih dari Sekadar Identitas Persia
Masyarakat sering kali menyamakan Nowruz dengan identitas Persia secara sempit. Faktanya, Nowruz adalah warisan peradaban yang melintasi batas negara, dari Azerbaijan hingga Tajikistan. Jika Persia adalah akar sejarahnya, maka Nowruz adalah buah kebudayaan yang terus tumbuh meski diterjang badai geopolitik.

Diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia, Nowruz merayakan kebangkitan alam. Tahun ini, makna tersebut terasa kian dalam. Di tengah bayang-bayang ketegangan kawasan Timur Tengah. Perayaan ini menjadi “oase” yang mengingatkan bahwa musim dingin sesulit apa pun pasti akan berganti menjadi musim semi yang hangat.

Filosofi di Meja Haft-Seen dan Kemenangan Fitrah
Di rumah-rumah penduduk Iran dan Asia Tengah. Meja Haft-Seen tertata rapi dengan tujuh simbol kehidupan (seperti Sabzeh untuk kelahiran kembali dan Seeb untuk keindahan). Di saat yang sama, gema takbir Idulfitri berkumandang menandai kemenangan atas hawa nafsu.

Tradisi Khaneh Tekani (bersih-bersih rumah) yang menjadi ciri khas Nowruz. Tahun ini bersenyawa dengan konsep Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa) dalam Idulfitri. Keduanya membawa pesan serupa: membuang beban masa lalu untuk menyambut masa depan yang lebih cerah.

Ketahanan Budaya di Tengah Geopolitik
Meski situasi politik dunia sedang memanas. Perayaan ganda ini membuktikan bahwa nilai-nilai kemanusiaan, gotong royong, dan rasa syukur tidak bisa dibatasi oleh sekat politik. Nowruz dan Idulfitri 2026 menjadi pengingat kolektif bahwa harapan adalah energi yang tak pernah padam./ksm

Persoona.id – Akhir-akhir ini kita tampaknya sangat rajin memberi label pada segala sesuatu. Begitu rajin, sampai-sampai seni budaya pun tidak luput dari kebiasaan administratif itu.

Koq ada ya?
Festival Seni Budaya Islam. Nanti akan muncul juga Festival Seni Budaya Kristen, Festival Seni Budaya Hindu, atau kalau semangat klasifikasinya makin tinggi mungkin sekalian saja dibuat Festival Seni Budaya Islam Mazhab Maliki. Supaya lebih rapi.

Sebab rupanya seni budaya jaman sekarang harus jelas akidahnya. Seni budaya harus memiliki agama. Padahal selama ribuan tahun, budaya hidup tanpa perlu mengurus surat keterangan beragama apa.

Seni budaya lahir dari tanah yang sama, dari manusia yang sama, dari kehidupan sosial yang sama, dari sawah yang sama.

Seni budaya tumbuh dari kebiasaan manusia yang hidup berdampingan, bukan dari rapat Departemen Agama.

Tapi kita memang bangsa yang kreatif. Kalau sesuatu bisa dipecahkan, kenapa harus disatukan, karena kita memang punya bakat luar biasa untuk memecahnya.

Tarian dari Aceh? Segera diberi stempel, budaya Islam.
Lagu pujian dari Tapanuli? Langsung dimasukkan ke jenis budaya Kristiani.

Terus kalau saya Hindu, apakah tidak boleh menonton qasidahan. Atau kalau saya penghayat kepercayaan, apakah telinga saya harus ditutup ketika mendengar kidung natal?

Padahal budaya Nusantara justru lahir dari percampuran etnis yang begitu majemuk.
Arab datang, India datang, Cina datang, Eropa datang dan semuanya meninggalkan kesan juga jejak kebudayaan.

Bahasa bercampur. Musik bercampur. Tarian bercampur.
Masakan bahkan lebih parah lagi, rendang saja tidak pernah bertanya agama siapa yang memakannya.

Tapi manusia modern rupanya lebih cemas daripada nenek moyangnya sendiri.
Segala sesuatu harus diberi pagar. Diberi label. Diberi identitas rapi, seperti map arsip kantor kecamatan.

Kita merasa sedang menjaga kemurnian sesuatu. Padahal yang terjadi justru sebaliknya,
kita sedang menyempitkan sesuatu yang begitu luas.

Budaya itu sungai, mengalir melewati banyak kampung, menyentuh banyak manusia, memberi minum siapa saja yang datang. Tetapi manusia modern lebih suka menjadikan buaya sebagai kolam kecil dengan papan tulisan besar, “Hanya untuk golongan tertentu.”

Budaya yang sejak awal diciptakan untuk menyatukan manusia, sekarang dipaksa memilih agama./ksm

Persoona.id – Di bulan Romadhon, ada satu malam yang mulia. Malam ketika langit mendekat dan membuka pintunya lebar-lebar. Malaikat turun berbondong-bondong, membawa berkah, membawa ampunan, membawa pahala yang nilainya tak tanggung-tanggung, “lebih baik dari seribu bulan”.

Di masjid, di majlis, lampu menyala terang. Sajadah digelar, tasbih berputar seperti kipas angin yang tak pernah berhenti. Doa-doa naik ke langit dengan suara lirih dan tangis khusuk terisak dalam lautan kedekatan pada Tuhan. Inilah malam paling mulia, malam yang tak kan hadir lagi, kecuali Romadhon tahun depan.

Sementara nun jauh di tempat-tempat lain, malamnya malam yang berbeda. Di sana tidak ada sajadah. Tidak ada lantunan doa panjang. Hanya suara besi dipukul, karung diangkat, motor tua yang meraung di jalanan.

Seorang kuli mengangkat semen di proyek bangunan yang tetap bekerja karena target tidak mengenal kalender langit, penjaga malam berjalan bolak-balik mengusir kantuk, sopir truk menahan kantuk di jalan tol yang sunyi. Ya mereka juga sedang mengejar sesuatu malam itu.
Bukan pahala seribu bulan.
Cuma seratus ribu rupiah tambahan supaya anaknya bisa beli baju lebaran.

Di masjid, orang-orang berdoa agar dosa diampuni. Di luar masjid, ada orang-orang yang bahkan tidak sempat memikirkan dosa, karena pikirannya penuh oleh harga beras, uang sekolah, dan cicilan hutang.

Dan para pengkhotbah menganggap, mereka sering dianggap orang yang “tidak memanfaatkan malam Lailatul Qadar.”

Padahal mereka sedang memanfaatkan satu hal yang jauh lebih nyata, yaitu kesempatan untuk membuat anaknya makan esok pagi.
Apakah langit hanya terbuka di atas kubah masjid?
Apakah malaikat hanya turun ke ruangan ber-AC yang penuh sajadah empuk?
Ataukah malaikat juga lewat di gang sempit tempat seorang ayah sedang memanggul karung sambil mengingat wajah anaknya?

Jika pahala malam itu benar-benar lebih baik dari seribu bulan, kita patut bertanya.

Apakah pahala itu hanya berlaku bagi mereka yang punya waktu luang untuk berdoa?

Karena kenyataannya, banyak orang yang bisa menghabiskan malam dengan dzikir panjang bukan karena lebih suci, tapi karena sudah selesai memikirkan isi dapur.

Sementara banyak orang yang tidak hadir di masjid bukan karena kurang iman, tapi karena jam kerja tidak pernah mengenal kalender ibadah.

Jika logika langit benar-benar sesederhana yang sering diceramahkan. Maka surga nanti akan dipenuhi oleh orang-orang yang rajin i’tikaf, sementara para buruh yang lembur di malam Lailatul Qadar harus menunggu di luar pagar.

Jika Tuhan benar-benar adil, rasanya mustahil Dia lebih menghargai orang yang membaca doa panjang daripada orang yang mengorbankan tidurnya demi memberi makan keluarganya.

Kadang kita terlalu sibuk mencari Tuhan di langit. Padahal bisa jadi malam itu Tuhan sedang berada di tempat lain. Di samping sopir truk yang menahan kantuk,
di dekat kuli bangunan yang punggungnya berkeringat,
di antara pedagang kecil yang masih menghitung receh di bawah lampu jalan.

Sementara di masjid, orang-orang terus memohon berkah. Tidaklah salah. Hanya saja, terkadang kita lupa bahwa doa yang paling didengar Tuhan malam itu, bukanlah doa yang paling panjang. Tapi doa yan tak sempat terucap demi membahagiakan orang-orang yang dicintainya.

: Abah Sarjang

Kupujai nama-Mu
Karena semesta tunduk pada-Mu
Kupahatkan agung-Mu
Dalam setiap langkah ini

Tiada lelah menyebut-Mu
Karena Engkau kekasih sejati
Tumpuan cinta yang sesungguhnya
Karena Engkau kekasih sejati
Jika selama ini ku abaikan Engkau
Karena kerlip dunia menipuku

Izinkan ku kembali, izinkan di pintu cahaya-Mu
Ku bersujud
Astagfirulloh Al Adzim
Kubawa jasad luka dari kubangan lumpur dosa
Astagfirulloh Al Adzim
Semoga Kau terima segala taubatku

: Abah Sarjang

Persoona.id – Katanya, kolonisasi Kwari, tidak membawa mariem, rudal, AK 47 atau granat. Tapi cukup di racun perlahan, di kasih penghargaan.

Orang-orang sekarang tidak perlu diintimidasi oleh tentara bersenjata, hanya dibandingkan dengan internet yang akan mereka blokir, cukup. Hanya karena bukan hiu juralit, jadi seperti ikan.

Dahulu masjid, kampus, dan sekretariat organisasi, mengamati, sab di tempat-tempat itu, kesadaran, gerakan dan perlawanan pertama kali lahir.

Sekarang tempat-tempat seperti itu aman. Di masjid jarongjon sholat dan sholat. Shaf rapih suara Imam Halimpu doa panjang dengan air mata Setelah salam, jemaah akan kembali ke dunia.

Di kampus jarongjon kajian suhud, rumus, teori menceritakan pidato profesor, atau menguji teori dokter, dan belajar di kantin atau segera berangkat kerja, untuk dosen sambil bekerja.

Di sekretariat organisasi, ya tidak ada bedanya. Aku kutuk yg terhormat, menghina pejabat yg jahil, munafik dan koruptor, menyalahkan takdir, sambil scroll hp. Mereka pikir situasi negara bisa berubah, keadilan akan jatuh dari langit, seperti paket gratis ongkir.

Para penjajah jaman dulu pasti iri, melihat gaya penjajah jaman sekarang. Pada akhirnya, penjajah harus memikirkan kembali, menyusun strategi adu domba, menunda jalur untuk menyeret para pemimpin gerilya dan menganalisa buku dan teori apa pun yang akan menekan massa. Sederhananya, anda harus benar-benar melihat ke bawah jika ada banyak masalah.

Dan sekarang?
Sekarang saya santai… Gak usah gitu, orang-orang udah di tindik hidung. Berikan hiburan setiap hari, berikan pekerjaan yang melelahkan, dan bayar sebentar. Bagaimana jika emosi dan kemarahan? Buat wadah saja untuk menyalurkan emosinya. Biarkan mereka duduk di dalam kontainer. Muak dengan semua kebencian media sosial, terkuras.

Aku tidak akan melakukannya. Aku tidak akan turun ke jalan, aku tidak akan bergerak. Bahkan lebih mengadakan demonstrasi besar-besaran terhadap gedung parlemen. Aku tidak akan melakukannya. Kemungkinan besar bikin status seperti ini. Di baca sama yg mau like dan komen Selesai. Udah kenyang scrolling, udah diem lagi Nyari kipayah lagi, makin susah.

Revolusi berakhir sebelum dimulai.

Semua kebaikan, simpati, empati, dan semangat keadilan, telah digantikan dengan tombol “kirim”.

Ditambah lagi ditekan oleh para pendeta, mendorong untuk menyebarkan firman suci. Sabar lah. Ikhlas. Percaya. Perbesar hati,asah indera, dekatkan diri pada Tuhan. Rejeki sudah ada yang ngatur.

Ya, jelas pemerintah yang bertanggung jawab. Tapi ini tidak diatur dan oh sayang. Pajak rendah, kerja keras, berusaha mendapatkan lebih banyak aturan, peraturan, dan birokrasi dalam bola kusut. Menjadi gila. Mau cepat pasti ada yang licin. Kalo ga ketawa, lama2 aja Modal usaha di pake makan, sambil nunggu izin yang gak mau keluar.

Tentu saja tidak seluruh komunitas tetap bingung. Akan ada, mereka yang terus menyerang rakyat, melakukan semua yang mereka bisa untuk meringankan penderitaan, tapi tidak banyak, dan jarang tertangkap kamera. Hal seperti itu tidak pernah menjadi viral.

Sesungguhnya negara kita tidak kekurangan orang-orang yang berhati baik dan memberi. Yang kurang adalah orang baik dengan keberanian. Berani melawan sistem busuk, berani membongkar dan mencambuk kesadaran, bahwa kita benar-benar sedang diserang.

Penjajah modern tidak memiliki bendera. Tidak ada bahasa asing atau asing. Jangan memutar rantai di kaki.

Hanya ada satu hal yang pasti. Aku pernah dipukuli, digosok, dan dipermainkan, hingga aku lupa, bahwa aku pernah punya keberanian.

Berani turun ke jalanan, berani berteriak melawan ketidak adilan, berani melawan meski resiko diinjak-injak atau digoda.

Sesungguhnya bukan doa yang tidak mati, tapi doa yang tidak melahirkan kekuatan. Semangat padam sebelum doa menjadi buah.

Penjajah akan terus berkeliaran, selama kita merasa terintimidasi oleh keadaan. Pelajar dan pemuda tidak tahu harus kemana. Hanya mencari kesenangan di waktu santai. Tetangga di dunia kepalsuan. Tidak ingin mengubah situasi.

Bersantai…
Selagi kuota masih ada, baterai belum padam. Scroll screen itu lebih menyenangkan, daripada mikirin negara.

: Abah Sarjang

Persoona.id – Sampai saat ini kita berusaha percaya, tentang Ratu Adil, yang akan hadir saat keadilan tercerai-berai serupa puing. Kesenjangan memuncak semakin lancip. Rakyat perutnya kosong, sedangkan penguasa dan pemilik modal, tajir melintir.

Banyak yang apatis, nyinyir dan menganggap mitos lama. Tentang Ratu Adil yang ditunggu-tunggu. Belum lahir, keburu terbunuh, atau mungkin tak kunjung datang.

Sementara yang tak pernah absen berkunjung, malah notifikasi, pemberitahuan dan dering nomer asing, yang tak bosan memanggil tagihan pinjol.

Keadaan kian tak berpihak, kesejahteraan cuma jargon. Dan kita menelan kekecewaan dengan rebahan, sekrol medsos, tertawa sendiri saat melihat potongan video pendek, sesekali mengumpat menyaksikan kilasan derita di layar kita. Setelah itu mendengarkan musik dan tidur.

Jika keadaan gamang seperti ini terjadi pada tahun 1980-an atau 1990-an, barangkali Indonesia tidak akan setenang hari ini. Harga sembako melonjak, PHK membabi buta, pajak mencekik, petani dipersulit, nelayan terabaikan, buruh diperas. Pada era itu, akumulasi ketidakadilan hampir selalu berujung pada satu tempat. Jalan raya. Spanduk terbentang, suara menggema, dengan risiko diculik atau ditembak, tak peduli, yang penting negara dipaksa mendengar suara jelata.

Peristiwa 98 adalah cerita yang masih tertera dalam ingatan generasi lama. Kemarahan kolektif menemukan tubuhnya. Mahasiswa, buruh, ibu rumah tangga, bahkan pedagang kecil, semuanya turun bersama. Sejarah pun bergeser.

Hari ini, dengan beban hidup yang tak kalah berat. Bahkan mungkin permasalahan yang menimpa lebih kompleks, lebih menghimpit dan lebih getir. Tapi masyarakat masih mempertahankan posisi rebahannya. Hanya ramai dengan suara-suara sunyi. Tidak bisa disebut diam, tapi kenyataannya memang tidak bergerak. Ada kritik, tapi terpecah. Ada amarah, tapi menguap.

Begitu hebatnya teknologi. Media sosial telah mengubah cara kita mengekspresikan marah, kecewa dan ketidak-puasan.
Dulu, kemarahan butuh ruang bersama. Perlu dikumpulkan, dirawat dan dirumuskan. Sekarang, kemarahan cukup diberi kolom komentar. Cukup diketik. Cukup dibagikan. Lalu selesai.

Ada rasa lega, seolah telah melakukan sesuatu. Padahal yang berubah hanya suasana hati kita. Bukan struktur kekuasaan.

Media sosial memberi kita ilusi paling nyaman, ilusi perlawanan tanpa risiko.
Tak perlu panas matahari, air minum kemasan, nasi bungkus atau semburan gas air mata. Tidak ada persekusi aparat atau ketakutan ditangkap. Cukup marah dari kasur atau duduk merokok di kursi depan, sambil mengaktifkan jari.

Inilah apatisme bentuk baru. Bukan apatis yang bisu, justru apatis yang cerewet. Kita tidak lagi diam, namun tidak benar-benar melawan. Tajam mengkritik, tapi masing-masing. Lantang bersuara, tapi tercerai-berai. Aksi menggelar spanduk cuma lewat upload. Algoritma memastikan kemarahan kita berputar di lingkaran yang sama. Ramai, namun tak mengancam siapapun di atas sana.

Kekuasaan memanfaatkan semua ini dengan baik. Rakyat yang marah secara kolektif, berbahaya. Sedangkan kalau marahnya secara individual, aman.
Untuk itu, melalui algoritma, konflik dialihkan ke mana-mana. Menjadi permasalahan identitas, jadi perdebatan receh, atau saling ejek antar sesama. Solidaritas dikikis dengan perlahan, menyisakan kebisingan horizontal tanpa arah. Bukan tekanan masal yang vertikal.

Mungkin fenomena ini tidak dirancang sebegitu rapinya. Namun celah-celahnya amat terbuka untuk dimanfaatkan. Lama-lama ya dinormalisasi. Dracin contohnya, di negara asalnya Cina, sudah ada larangan ditonton. Di kita malah subur, memanjakan khayalan dan iming-iming poin. Judol memang dilarang, tapi oknum-oknum Komdigi membuka dan membuat ribuan situsnya.

Bukan berarti masyarakat hari ini bodoh dan malas. Namun pemerintah telah memberi kita suntikan kelelahan masal. Lelah mencari nafkah tanpa jaminan kepastian hidup. Capek membaca deretan pajak yang kian mebebani. Muak dengan janji dan sistem yang terus-terusan mengecewakan. Pekak telinga mendengar pidato omon-omon. Sebuah kelelahan yang diciptakan.

Media sosial datang sebagai obat murah, tempat curhat, tempat marah, tempat merasa ditemani, meski sebenarnya sendirian.

Sayangnya, sejarah tidak berubah karena pelepasan emosi. Hanya ledakan umpatan, lalu dilupakan.

Sejarah menuntut emosi yang dikonsolidasikan, diakumulasikan dan diwujudkan menjadi gerakan.Dari status ke struktur. Dari viral ke nyata. Dari individual ke kolektif.

Tanpa ada gerak kompak yang nyata, kita akan terus hidup dalam paradoks. Negara bermasalah, rakyat marah,
tapi kekuasaan tetap tenang. Karena mereka tahu, kemarahan kita akan berhenti di layar dan perlawanan kita akan mati, saat baterai habis.

Ratu Adil tak mungkin datang, sekonyong-konyong menyelamatkan. Kita harus mempersiapkan jalannya, siapkan kehadirannya, dengan cara terus berisik walau masih tercerai-berai.

Seperti yang dikatakan Teh Kumaila Hakimah.
“Kurangi doa, banyakin kritik pemerintah.”

Semoga bising ini menjadi gerakan.
: Abah Sarjang

Persoona.id – Puluhan tahun Iran dikampanyekan sebagai ancaman utama stabilitas Timur Tengah. Kebohongan ini diulang terus-menerus, media-media di Indonesiapun ikut-ikutan menggemborkannya. Lambat-laun hoax ini berubah jadi “kebenaran resmi” yang diresmi-resmikan.

Belum lagi dengan agama negara Iran yang “Syi’ah”, menjadi lahan subur bagi para pembenci untuk membuat berbagai narasi bahwa, walaupun Tuhan dan Nabinya sama, Syi’ah adalah agama sesat, bukan Islam, negara yang suka perang, kaum fundamentalis dan berbagai ujaran kebencian lainnya yang tak mendasar.

Padahal, kalau ditelisik secara fakta, berusaha jujur tanpa mengikutsertakan kebencian pada perbedaan, tuduhan itu sama-sekali tidak mengena.

Mari kita bandingkan Iran dengan Israel sebagai dua kubu yang kontra.

Perang besar terakhir yang melibatkan Iran secara langsung adalah Perang Iran-Irak. Perang ini tidak dimulai oleh Teheran. Justru pada Tahun 1980, Irak di bawah Saddam Hussein menginvasi wilayah Iran, termasuk Provinsi Khuzestan. Sejak perang berakhir, Iran tidak pernah melakukan invasi terbuka ke negara-negara tetangganya.

Bandingkan dengan Israel.

Sejak berdiri, negara ini berulang kali melakukan operasi militer lintas batas. Israel menyerang Lebanon, Suriah, Irak, dan tentunya Palestina. Terlebih di Gaza, bagian dari pola panjang yang mempertontonkan kekejaman, genosida dan penggunaan kekuatan bersenjata yang brutal.

Namun betapa dunia dibutakan dengan “post truth” berbingkai pembelaan diri. Lewat bahasa diplomasi dan peran media, yang berfungsi sebagai pemutih, memutar-balik dan mengaburkan fakta, seolah-olah tindakannya legal secara moral dan Undang-undang Dunia.

Israel menuduh Iran memiliki senjata nuklir. Namun dunia menyaksikan Iran menandatangani Akta Non-Proliferation Treaty (NPT), tunduk pada inspeksi Badan Energi Atom Internasional. Sampai sekarang tuduhan itu tidak terbukti. Sedangkan Israel menolak menandatangani NPT, menolak inspeksi internasional. Dari berbagai sumber lembaga independen meyakini, bahwa Irael memiliki puluhan hingga ratusan hulu ledak nuklir.

Anehnya, dunia internasional lebih sibuk mencurigai yang patuh daripada menegur yang membangkang.

Logika jungkir-balik ini diterima sebagai kewajaran. Negara tanpa senjata nuklir dicap ancaman global, sementara negara pemililik hulu ledak nuklir dibiarkan berada di luar pengawasan. Inilah standar ganda hukum internasional, yang diterapkan secara selektif dan pandang bulu.

Gaza adalah pertunjukan paling mengerikan dari konsekwensi standar ganda yang diterapkan hukum internasional. Ribuan warga sipil tewas, mayoritas perempuan dan anak-anak. Rumah sakit, sekolah, dan kamp pengungsian hancur porak-poranda. Mereka yang tertangkap diambil ginjalnya, jatungnya, kornea matanya, kulitnya, menyisakan mayat, darah dan potongan tubuh yang menguap di udara. Tak ada kutukan, tak ada kecaman. Kekejaman di depan mata, bagai kabut tersaput siang, dan dunia bungkam tak mampu berkata-kata.

Segala teror, kekerasan, persekusi dan intimidasi dibungkus sebagai hak membela diri. Sepertinya hak itu tidak memiliki batas. Nyawa sipil dapat dinegosiasikan, lalu dibungkus dengan konteks politik.

Iran tampil sebagai salah satu negara yang paling vokal mengecam agresi Israel dan menyatakan dukungan penuh terhadap perlawanan Palestina. Mungkin sikap itu tidak steril dari kepentingan geopolitik. Iran hendak memperluas pengaruh regional dan menantang dominasi Amerika Serikat. Namun politik kepentingan tidak otomatis membatalkan substansi moral. Jika semua sikap hanya dinilai dari motif, maka tidak ada satu pun negara yang berhak ngomong soal kemanusiaan.

Sedangkan kita, Indonesia. Negara muslim terbesar. Negara dengan konstitusi tegas menolak penjajahan. Tertera dan setiap Upacara Bendera dibaca, yang sejarahnya lahir dari solidaritas bangsa-bangsa tertindas, kini malah bingung dan linglung. Dengan mengatas-namakan kepedulian terhadap Gaza, Indonesia memilih jalur diplomasi, berada dalam gerombolan Amerika Serikat. Negara sombong yang selama ini menjadi pelindung utama Israel di forum internasional.

Logika “kepala kejedot tiang listrik” ini sungguh aneh. Bagaimana mungkin pembelaan terhadap Palestina ditempuh, melalui poros kekuatan yang secara konsisten menjadi pelindung agresor. Memang dalam urusan politik luar negeri, perlu banyak pertimbangan dan penuh perhitungan. Namun ketika kalkulasi mengalahkan prinsip, wajarlah kalau pemikiran itu dianggap sebagai hasil logika kejedot tiang listrik, atau hasil pemikiran dari otak sisa diamputasi.

Ya, kalaupun kita tidak seperti Iran, yang telah menanamkan idealisme, nasionalisme dan patriotisme, pada generasi semenjak bayi. Minimal kita malu pada anak-cucu, karena mengkhianati semangat Proklamasi, dan mencoreng Pembukaan UUD 45. Sebagai jelata, kita hanya bisa mengutarakan pendapat bahwa kita malu sebagai bangsa.

: Abah Sarjang