Indonesia, dengan segala keberagamannya, merupakan negara yang memiliki potensi luar biasa. Dari ribuan pulau, beragam suku, bahasa, hingga agama yang dianut oleh penduduknya, Indonesia adalah rumah bagi banyak perbedaan. Namun, di balik semua perbedaan itu, ada satu kesamaan yang mengikat seluruh bangsa ini: identitas kebangsaan Indonesia yang harus dijaga dan dipelihara. Salah satu ungkapan yang menggambarkan semangat kebangsaan ini adalah, “Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi Islam jangan jadi orang Arab, kalau jadi Kristen jangan jadi orang Yahudi, tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya nusantara yang kaya raya ini.”

Walaupun ungkapan ini sering dikaitkan dengan Soekarno, sang proklamator Indonesia, esensinya sangat relevan dengan semangat perjuangan beliau untuk membangun bangsa yang berdaulat dan bersatu. Apa makna sesungguhnya dari pernyataan ini? Dan bagaimana kita sebagai bangsa Indonesia dapat menghidupkan pesan tersebut dalam kehidupan sehari-hari?

Baca juga : Kepemudaan Gus Dur dan Peranannya dalam Perubahan Sosial

Menghargai Keberagaman Tanpa Melupakan Identitas

Keberagaman adalah kekuatan Indonesia. Negara ini terdiri dari berbagai suku, agama, dan budaya, yang masing-masing memiliki nilai-nilai dan tradisi yang berbeda. Soekarno, sebagai pemimpin yang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, selalu menekankan pentingnya persatuan di tengah keragaman ini.

Namun, dalam pesannya tersebut, Soekarno mengingatkan agar kita tidak terjebak dalam identitas etnis atau agama tertentu yang hanya mengarah pada asal-usul luar negeri. Misalnya, jika kita menganut agama Hindu, kita tidak harus menjadi “orang India,” melainkan kita harus tetap menjadi orang Indonesia yang hidup dengan kebudayaan Nusantara yang telah ada sejak zaman dahulu. Begitu pula dengan agama Islam atau Kristen, kita diminta untuk tidak mengidentifikasi diri kita semata-mata dengan bangsa Arab atau Yahudi, tetapi dengan identitas sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki adat istiadat dan kebudayaan yang kaya dan beragam.

Indonesia dan Adat Budaya Nusantara

Pesan yang terkandung dalam ungkapan tersebut juga mengingatkan kita untuk selalu menghargai dan menjaga kebudayaan Nusantara. Kebudayaan Indonesia adalah harta yang sangat berharga, yang terdiri dari berbagai tradisi, bahasa, seni, makanan, dan upacara yang ada di seluruh pelosok negeri. Dari sabang hingga merauke, dari Aceh hingga Papua, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang tidak dapat ditemukan di negara lain.

Baca juga : Pemuda Menurut Ir. Sukarno – Kekuatan yang Mendorong Perubahan

Soekarno menyadari betul bahwa Indonesia bukan hanya negara yang dibentuk oleh agama dan etnis, tetapi juga oleh warisan budaya yang telah ada sejak ribuan tahun. Oleh karena itu, meskipun kita mengadopsi agama tertentu, kita tetap harus mengikatkan diri pada kebudayaan Indonesia, sebagai pengikat persatuan bangsa. Soekarno ingin agar bangsa Indonesia tidak terpecah karena perbedaan agama atau etnis, melainkan mampu bersatu dalam kebudayaan yang mencerminkan semangat kebangsaan.

Baca juga : Kepemudaan Gus Dur dan Peranannya dalam Perubahan Sosial

Persatuan dalam Keragaman

Dalam konteks Indonesia, persatuan dalam keragaman adalah hal yang sangat penting. Indonesia mungkin menjadi negara dengan keberagaman agama dan budaya terbesar di dunia, tetapi justru dari sinilah kekuatan kita berasal. Soekarno selalu mengingatkan bahwa meskipun kita berbeda, kita harus tetap satu dalam semangat kebangsaan.

Prinsip “Bhinneka Tunggal Ika,” yang berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu,” merupakan landasan dari kehidupan berbangsa dan bernegara yang dicanangkan Soekarno. Semua elemen bangsa Indonesia harus bersatu untuk membangun negara ini, tanpa memandang agama, suku, atau ras. Dengan menghargai dan merayakan keragaman yang ada, Indonesia dapat menjadi negara yang kuat dan maju.

Menjadi Bangsa yang Bersatu

Apa yang dapat kita pelajari dari ungkapan Soekarno ini? Sebagai generasi penerus bangsa, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan merawat persatuan Indonesia. Setiap individu, terlepas dari latar belakang agama atau suku, harus merasa bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Kita harus menghargai dan melestarikan kebudayaan Nusantara yang merupakan warisan dari nenek moyang kita.

Bukan hanya soal agama atau etnis, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari kita harus memperlihatkan rasa hormat terhadap sesama, memperkuat persatuan, dan bekerja bersama untuk kemajuan bangsa. Menghargai perbedaan, namun tetap berpegang teguh pada identitas kita sebagai orang Indonesia adalah kunci untuk membangun negara yang lebih baik.

Kesimpulan

Soekarno, dalam semangat perjuangannya, menegaskan bahwa meskipun kita memeluk agama yang berbeda dan berasal dari suku yang berbeda, kita tetap harus menjadi orang Indonesia. Identitas kebangsaan Indonesia harus lebih besar dari sekadar agama atau etnis. Kebudayaan Nusantara yang kaya raya adalah pondasi yang menyatukan kita. Dengan menjaga dan merawat kebudayaan ini, kita turut menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, serta mewujudkan Indonesia yang maju, damai, dan sejahtera.

Pergantian tahun selalu menjadi momen spesial bagi banyak orang. Tahun Baru 2025 kali ini terasa lebih istimewa karena bertepatan dengan 1 Rajab 1446 Hijriah, bulan mulia dalam kalender Islam. Peristiwa ini memberikan ruang untuk merenung dan merayakan, tidak hanya secara duniawi, tetapi juga spiritual.

Makna 1 Rajab: Menghormati Bulan Mulia

Rajab dikenal sebagai salah satu dari empat bulan haram dalam Islam, di mana umat Muslim diajak untuk memperbanyak amal kebaikan, meninggalkan hal-hal buruk, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Bulan ini adalah pengingat untuk menjauhkan diri dari kebiasaan buruk dan memperbanyak ibadah, seperti puasa sunnah, zikir, dan sedekah.

Bersamaan dengan itu, malam tahun baru sering kali dirayakan dengan pesta meriah yang kadang berlebihan. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi umat Muslim untuk menyeimbangkan kebutuhan dunia dan akhirat.

Perayaan Tahun Baru yang Bermakna

Perayaan tahun baru 2025 yang bersamaan dengan 1 Rajab seharusnya menjadi momen introspeksi, bukan hanya sekadar selebrasi. Generasi muda, khususnya, diingatkan untuk memanfaatkan momen ini dengan kegiatan positif. Pergantian tahun dapat menjadi ajang:

  1. Refleksi Resolusi: Mengevaluasi apa yang sudah dicapai dan merencanakan langkah lebih baik di tahun mendatang.
  2. Spirit Kebersamaan: Mengadakan doa bersama atau diskusi reflektif untuk mempererat hubungan keluarga dan komunitas.
  3. Peningkatan Ibadah: Memulai tahun dengan memperbanyak ibadah di bulan Rajab sebagai persiapan menyambut Ramadhan.

Peran Pemerintah dan Masyarakat

Pemerintah juga diharapkan mengambil peran strategis dalam mengelola perayaan ini. Dengan memadukan kegiatan budaya dan keagamaan, perayaan tahun baru bisa menjadi lebih bermakna. Pengajian akbar, zikir bersama, atau festival seni Islami dapat menjadi alternatif menarik untuk menggantikan pesta yang berlebihan.

Baca juga : Sekda Karawang: ASN Bagian Solusi Pembangunan

Masyarakat pun harus mendukung suasana kondusif dengan tidak melibatkan diri dalam aktivitas yang melanggar norma sosial atau agama, seperti konvoi liar atau pesta yang tidak terkendali.

Harmoni Dunia dan Akhirat

Ketika tahun baru 2025 bertemu dengan 1 Rajab 1446 Hijriah, ini adalah pengingat bahwa kita hidup dalam dua dimensi waktu: duniawi dan ukhrawi. Keduanya harus berjalan seimbang, dengan visi hidup yang tidak hanya mengejar kesuksesan di dunia, tetapi juga keselamatan di akhirat.

Mari manfaatkan momen ini untuk memulai tahun baru dengan niat yang baik, langkah yang terencana, dan hati yang penuh rasa syukur kepada Allah SWT. Selamat Tahun Baru 2025 dan 1 Rajab 1446.(*)

Karawang – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan kunjungan ke destinasi wisata religi Makam Syech Quro di Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Karawang, pada Jumat, 17 Juni 2022. Kunjungan ini bertujuan untuk meneliti potensi pengembangan Smart Village dan pemberdayaan masyarakat melalui sektor wisata religi.

Rombongan BRIN disambut hangat oleh Sekretaris Desa Pulokalapa, Kang Anom, di aula desa. Dalam acara tersebut, hadir jajaran aparat desa, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), pendamping lokal desa, dan kader digital Smart Village. Sekdes Anom menyampaikan bahwa Desa Pulokalapa memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata religi yang dapat diberdayakan lebih lanjut untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Baca juga : Napak Tilas Sejarah Karawang, Sendratari Napak Rawayan Sang Wali Segera Digelar

Adelia, perwakilan BRIN, menjelaskan bahwa riset ini bertujuan untuk memahami dampak sosial dan ekonomi dari wisata religi terhadap kehidupan masyarakat setempat. Makam Syech Quro menjadi daya tarik utama desa ini, dengan ribuan pengunjung setiap malam Sabtu dan Sabtu Kliwon. Menurut Adelia, wisata religi ini telah membawa dampak positif pada perekonomian lokal. Banyak warga desa yang sebelumnya bekerja sebagai buruh tani kini beralih profesi menjadi pedagang di sekitar area makam. Selain itu, pengelolaan parkir yang dilakukan oleh Karang Taruna turut menyumbang pada Pendapatan Asli Desa (PAD) yang dikelola oleh BUMDesa Pulokalapa.

Dalam kesempatan tersebut, Harry Priatna, Duta Digital Kemendesa, dan Elam Jajang, kader digital Desa Pulokalapa, menegaskan pentingnya digitalisasi dalam mempromosikan potensi wisata religi. Promosi melalui media sosial dianggap sebagai strategi efektif untuk meningkatkan visibilitas Makam Syech Quro agar dikenal lebih luas oleh masyarakat Indonesia. Dengan pemanfaatan teknologi digital, Desa Pulokalapa diharapkan dapat berkembang menjadi salah satu model Smart Village yang maju.

Setelah berdiskusi, rombongan BRIN diajak untuk melihat langsung Makam Syech Quro, yang berlokasi tidak jauh dari kantor desa. Makam ini telah menjadi pusat kegiatan religi dan ekonomi masyarakat setempat, menunjukkan bahwa wisata religi dapat menjadi salah satu pilar pembangunan desa berbasis masyarakat.

Kata kunci terkait: wisata religi Makam Syech Quro, Desa Pulokalapa, Smart Village, BRIN Karawang, wisata religi Karawang, pemberdayaan masyarakat desa./sp

Persoona.id – Bila kita melihat kembali jauh ke belakang, ke masa Kerajaan Tarumanegara hingga lahirnya Kabupaten Kara- wang, di Jawa Barat tidak henti-hentinya berlangsung suatu Pemerintahan yang teratur, namun dalam sistem pemerinta- han, pusat pemerintahan (Ibu Kota) dan pemegang kekuasaan mengalami perubahan dan pergantian serta perkembangan, seperti Kerajaan Tarumanegara (357-618 Masehi), dan Kerajaan Sunda (awal abad ke-8 – akhir abad ke-16 Masehi), termasuk Kerajaan Galuh, yang mem- isahkan diri dan Kerajaan Tarumanegara ataupun Kerajaan Sunda pada tahun 671 Masehi, Kerajaan Sumedanglarang (1580-1608 Masehi), Kesultanan Cirebon (1482 Masehi) dan juga pada masa Kesultanan Banten (abad 15 -19 Masehi).

Sekitar abad ke-15 Masehi, agama Islam telah masuk ke Karawang yang dibawa oleh Ulama Besar Syeikh Ha- sanudin bin Yusuf Idofi dari Champa yang terkenal dengan sebutan Syeikh Quro, sebab disamping ilmunya yang sangat tinggi, Syeikh Quro merupakan seorang hafidz Al-Qur’an yang bersuara merdu.

Kemudian ajaran agama Islam yang beliau syiarkan, dilanjutkan penyebarannya oleh Wali yang dikenal dengan Wali Sanga.

Pada masa itu daerah Karawang sebagian besar masih merupakan hutan belantara serta daerah yang dikeliingi oleh rawa rawa. Hal ini yang menjadikan dasar pemberian nama Karawang, yang berasal dan Bahasa Sunda yaitu Ka-rawa- an yang memiliki arti tempat atau daerah yang berawa-rawa. Bukti lain yang dapat memperkuat pendapat tersebut ada- lah, selain daerah rawa-rawa yang masih ada hingga saat ini, banyak juga tempat di daerah Karawang ini yang pena- maannya diawali dengan kata “rawa”. Seperti Rawasari, Rawagede, Rawamerta, Rawagempol, Rawagabus, Rawasikut, dan lain-lain.

Keberadaan daerah Karawang, telah dikenal sejak masa Kerajaan Padjajaran (yang berpusat di Bogor), karena pada masa itu, Karawang merupakan satu-satunya jalur lalu lintas yang sangat penting sebagai jalur transportasi hub- ungan antara dua Kerajaan besar, yakni Kerajaan Padjadja- ran dengan Kerajaan Galuh Pakuan yang berpusat di Ciamis.

Sumber lain (buku-buku yang dicatat dalam sejarah bangsa Portugis) tahun 1512 dan 1552 menerangkan bahwa “pelabuhan – pelabuhan penting” dari Kerajaan Padjajaran adalah “CARAVAN”. Yang dimaksud sebagai “CARA- VAN” dalam sumber tadi adalah tentang letak daerah Kara- wang yang berada di sekitar Sungai Citarum.

Sejak dahulu kala, bila akan melewati daerah rawan, demi keamanan di jalan, orang-orang selalu bepergian secara berkafilah atau rombongan dengan menggunakan he- wan seperti kuda, sapi, kerbau atau keledai. Demikian juga halnya yang mungkin terjadi pada zaman dahulu Kesatuan- kesatuan kafilah yang dalam bahasa Portugisnya disebut “CARAVAN”. Membuat pelabuhan-pelabuhan yang be- rada disekitar muara Sungai Citarum yang menjorok hingga ke daerah¬daerah pedalamannya sehingga dikenal dengan sebutan “CARAVAN”. Yang kemudian berubah menjadi Karawang.

Dari Kerajaan Pakuan Padjajaran, ada sebuah jalan yang dapat menjadi acuan menuju daerah-daerah seperti : Cileungsi atau Cibarusah. Warunggede, Tanjungpura, Kara- wang, Cikao, Purwakarta, Rajagaluh, Talaga, Kawali dan berpusat di Kerajaan Galuh Pakuan, di sekitar Ciamis dan Bojonggaluh.

Luas wilayah Kabupaten Karawang saat itu tidak sama dengan luas wilayah Kabupaten Karawang pada masa sekarang. Pada saat itu, luas Kabupaten Karawang meliputi Bekasi, Subang, Purwakarta, dan Karawang sendiri.

Setelah Kerajaan Padjajaran runtuh pada tahun 1579 Masehi, satu tahun setelah itu tepatnya tahun 1580 Masehi, berdirilah Kerajaan Sumedanglarang sebagai penerus Pemerintahan Kerajaan Padjajaran dengan Rajanya yang bernama Prabu Geusan Ulun, putera dari pernikahan Ratu Pucuk Umun (disebut juga Pangeran Istri) dengan Pangeran Santri keturunan Sunan Gunungjati dari Cirebon.

Kerajaan Islam Sumedanglarang, menempatkan pusat pemerintahanya (Kotaraja) di Dayeuhluhur, dengan membawahi Sumedang, Galuh, Limbangan, Sukakerta dan Kara- wang. Setelah Prabu Geusan Ulun wafat pada tahun 1608 Masehi, pemerintahan digantikan oleh puteranya yang ber- nama Ranggagempol Kusumandinata, beliau adalah putra Sang Prabu Geusan Ulun dan istrinya Harisbaya, keturunan Madura. Pada masa itu, di Jawa Tengah telah berdiri Kera- jaan Mataram dengan rajanya yang bernama Sultan Agung (1613-1645 Masehi). Adapun salah satu cita-cita Sultan Agung adalah menguasai seluruh pulau Jawa serta mengusir Kompeni (Belanda) dari Batavia.

Sebagai raja Sumedanglarang, Ranggagempol Kusu- mandinata masih mempunyai hubungan kekeluargaan dengan Sultan Agung sendiri, dan beliau juga mengakui kedaulatan Kerajaan Mataram. Maka pada tahun 1620 Masehi, Ranggagempol menghadap ke Mataram dan me- nyerahkan Kerajaan Sumedanglarang dibawah naungan Ke- rajaan Mataram. Sejak itu, Kerajaan Sumedanglarang dikenal dengan sebutan “PRAYANGAN”.

Kemudian Rangagempol Kusumandinata diangkat oleh Sultan Agung sebagai Bupati Wedana untuk tanah Sunda, dengan batas-batas wilayah yaitu di sebelah timur Kali Cipamali, sebelah barat Kali Cisadane, di sebelah utara Laut Jawa dan di sebelah selatan Laut Kidul.

Karena Kerajaan Sumedanglarang berada di bawah naungan Kerajaan Mataram, maka dengan sendirinya Kara- wang pun berada di bawah kekuasan Mataram.

Pada tahun 1624, Ranggagempol Kusumandinata wafat, beliau dimakamkan di Bembem, Yogyakarta. Se- bagai penggantinya, Sultan Agung mengangkat Rangga Gede, putera Prabu Geusan Ulun dan istrinya Nyi Mas Gedeng Waru dari Sumedang. Rangga Gempol II, putera Ranggagempol Kusumandinata yang semestinya menerima Tahta Kerajaan, merasa disisihkan dan sakit hati. Kemudian beliau berangkat ke Banten untuk meminta bantuan kepada Sultan Banten agar dapat menaklukkan Kerajaan Sumedanglarang. Dengan imbalan apabila berhasil, maka seluruh wilayah kekuasaan Sumedanglarang akan dis- erahkan kepada Sultan Banten. Sejak itulah banyak tentara Banten dikirim ke Karawang, terutama di sepanjang Sungai Citarum, di bawah pimpinan Pager Agung dengan bermar- kas di Udug-Udug.

Pengiriman bala tentara Banten ke Karawang dil- akukan oleh Sultan Banten bukan saja untuk memenuhi per- mintaan Rangga Gempol II, tetapi merupakan awal usaha Banten untuk joecuppas menguasai Karawang sebagai persiapan untuk merebut kembali pelabuhan Banten yang telah dikuasai oleh Kompeni (Belanda) yaitu Pelabuhan Sunda Kelapa.

Masuknya tentara Banten ke Karawang beritanya te- lah sampai ke Mataram. Pada tahun 1624, Sultan Agung mengutus Surengrono (Aria Wirasaba) dan Mojo Agung Jawa Timur, untuk berangkat ke Karawang dengan mem- bawa 1000 prajurit dengan keluarganya, dari Mataram me- lalui Banyumas dengan tujuan untuk membebaskan Kara- wang dari pengaruh Banten, mempersiapkan logistik (dengan membangun gudang-gudang beras) dan meneliti rute penyerangan Mataram ke Batavia.

Di Banyumas, Aria Surengrono meninggalkan 300 prajurit dengan keluarganya untuk mempersiapkan logistic dan penghubung ke Ibukota Mataram. Dari Banyumas per- jal-anan Aria Surengrono dilanjutkan dengan melalui jalur utara melalui Tegal, Brebes, Cirebon, Indramayu dan Ciasem. Di Ciasem ditinggalkan lagi 400 prajurit dengan keluarganya kemudian perjalanan dilanjutkan lagi ke Kara- wang. Setibanya di Karawang, dengan sisa 300 prajurit dan keluarganya, Aria Surengrono, menduga bahwa tentara Banten yang bermarkas di Udug-udug, mempunyai per- tahanan yang sangat kuat, karena itu perlu diimbangi dengan kekuatan yang memadai pula.

Langkah awal yang dilakukan Aria Surengrono mendirikan 3 (tiga) desa yaitu Desa Waringinpitu (Te- lukjambe), Desa Parakan Sapi (di Kecamatan Pangkalan yang sekarang telah terendam Waduk Jatiluhur) dan Desa Adiarsa (sekarang termasuk di Kecamatan Karawang), dengan pusat kekuatan di Desa Waringinpitu.

Karena jauh dan sulitnya hubungan antara Karawang dengan Mataram, Aria Surengrono atau Aria Wirasaba be- lum sempat melaporkan tugas yang sedang dilaksanakannya kepada Sultan Agung di Mataram. Keadaan ini menjadikan Sultan Agung mempunyai anggapan bahwa tugas yang diberikan kepada Aria Wirasaba gagal dilaksanakan.

Demi menjaga keselamatan wilayah kerajaan Mata- ram di daerah barat, pada tahun 1628 dan 1629, bala tentara Kerajaan Mataram, diperintahkan Sultan Agung untuk melakukan penyerangan terhadap VOC (Belanda) di Bata- via. Namun serangan ini gagal disebabkan keadaan medan sangat berat, berjangkitnya triniteers malaria dan kekurangan perse- diaan makanan.

Dari kegagalan tersebut, Sultan Agung menetapkan daerah Karawang sebagai pusat logistik yang harus mempunyai pemerintahan sendiri dan langsung be- rada di bawah pengawasan Mataram dan harus dipimpin oleh seorang pimpinan yang cakap dan ahli perang, mampu menggerakkan masyarakat untuk membangun persawahan guna mendukung pengadaan logistik dalam rangka penyerangan kembali terhadap VOC (Belanda) di Batavia.

Pada tahun 1632 M, Sultan Agung mengutus Wiraper- bangsa dari Galuh dengan membawa 1000 prajurit dan keluarganya menuju Karawang. Tujuan pasukan yang dipimpin oleh Wiraperbangsa adalah untuk membebaskan Karawang dari pengaruh Banten, mempersiapkan logistik sebagai bahan persiapan melakukan penyerangan kembali terhadap VOC (Belanda) di Batavia. Sebagaimana halnya tugas yang diberikan kepada Aria Wirasaba yang telah di- anggap gagal.

Tugas yang diberikan kepada Wiraperbangsa dapat dilaksanakan dengan baik, dan hasilnya dilaporkan kepada Sultan Agung. Atas kcberhasilannya, Wiraperbangsa oleh Sultan Agung dianugerahi Jabatan Wedana (setingkat Bu- pati) di Karawang dan di beri gelar Adipati Kertabumi III serta diberi hadiah sebilah keris yang bernama ” karosinjang “. Setelah penganugerahan gelar tersebut yang dilakukan di Mataram, Wiraperbangsa bermaksud akan segera kembali ke Karawang, namun sebelumnya beliau singgah dulu ke Galuh untuk menjenguk keluarganya atas takdir ilahi beliau wafat di Galuh.

Baca juga : Candi Jiwa: Situs Sejarah Tertua di Karawang

Setelah Wiraperbangsa wafat, Jabatan Bupati di Kara- wang dilanjutkan oleh putranya yang bernama Raden Sin- gaperbangsa. Dengan gelar Adipati Kertabumi IV yang me- merintah pada tahun 1633- 1677. Tugas pokok yang diem- ban Raden Adipati Singaperbangsa mengusir VOC (Bel- anda) dengan mendapat tambahan prajurit sebanyak 2000 dengan keluarganya, serta membangun persawahan untuk mendukung logistik perang.

Hal itu tersirat dalam PIAGAM PLAT KUNING KANDANG SAPI GEDE yang berbunyi lengkap adalah se- bagai berikut:

PANGET INGKANG PIAGEM KANJENG ING KI RANGGA GEDE ING SUMEDANG KAGADEHAKEN ING SI ASTRAWARDANA. MULANE SUN GADEHI PIAGEM, SUN KONGKON ANGGRAKSA KA- GENGAN DALEM SITI NAGARA AGUNG, KILEN WATES CIPAMINGKIS, WETAN WATES CILAMAYA, SERTA KON ANUNGGANI LUMBUNG ISINE PUN PARI LIMANG TAKES PUNJUL TIGA WELAS CILA- MAYA, SERTA KON ANUNGGONI LUMBUNG ISINE PUN PARI LIMANG TAKES PUJUL TIGA WELAS JAIT. WODENING PARI SINAMBUT DENING KI SIN- GAPERBANGSA, BASAKALATAN ANGGARA WA- HANI PIAGEM, LAGI LAMPAHIPUN KIAYI YUDHA- BANGSA KAPING KALIH KI WANGSA TARUNA, INGKANG POTUSAN KANJENG DALEM AMBAKTA TATA TITI YANG KALIH EWU; WADANA NIPUN KYAI SINGAPERBANGSA, KALIH KI WIRASABA KANG DIPURWADANAHAKEN ING MANIRA. SASANGPUN KATAMPI DIPUN PRENAHAREN ING WARINGINPITU LAN ING TANJUNGPURA. ANG- GRAKSA SITI GUNG BANGSA KILEN. KALA NULIS PIAGEM ING DINA REBO TANGGAL PING SAPULUH SASI MULUD TAHUN ALIF. KANG ANULIS PIAGEM MANIRA ANGGAPRANA TITI”.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia :

“Peringatan piagam raja kepada Ki Rangga Gede di Sumedang di serahkan kepada Si Astrawardana, sebabnya maka saya serahi piagam ialah karena saya berikan tugas menjaga tanah negara agung milik raja. Di sebelah barat berbatas Cipamingkis, disebelah timur berbatas Cilamaya, serta saya tugaskan menunggu lumbung berisi padi lima takes lebih tiga belas jahit. Adapun padi tersebut diterima oleh Ki Singaperbangsa, basakalatan yang srqinsidethebrand menyaksikan piagam dan lagi kyai Yudhabangsa bersama Ki Wangsa Ta- runa yang diutus oleh raja untuk pergi dengan membawa 2000 keluarga. Pimpinannya adalah Kyai Singaperbangsa dan Ki Wirasaba. Sesudah piagam diterima kemudian mereka di tempatkan di Waringinpitu dan di Tanjungpura. Tugasnya adalah menjaga tanah Negara Agung di sebelah barat.

Baca juga : Monumen Rawagede: Warisan Tragedi Sejarah

Piagam ini ditulis pada hari Rabu tanggal 10 bulan Mulud tahun alif. Yang menulis piagam ini ialah saya, Ang- gaprana Selesai”.

Tanggal yang tercantum dalam Piagam Plat Kuningan Kandang Sapi Gede, ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabu- paten Karawang. Berdasarkan hasil penelitian panitia se- jarah yang dibentuk dengan Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Karawang nomor 170/PEM/H/SK/1968 tanggal 1 Juni 1968 yang telah men-gadakan penelitian dan pengkajian terhadap tulisan:

Dr. Brandes dalam “Tyds Taal Land En Volkenkude” XXVIII halaman 352, 355 yang menetapkan tahun 1633 sebagai tahun jadinya Karawang, Dr. R. Asikin Wijayakusumah dalam “Tyds TaaI Land En Volkenkude” XXVIII 1937 AFL.2 halaman 188- 200 (Tyds Batavisch Genot Schap DL.77,1037) hala- man 178-205 yang menetapkan tahun 1633 sebagai tahun jadinya Karawang, Batu nisan makam panembahan Kyai Singaperbangsa di Manggung Ciparage Desa Manggungjaya Kecama- tan Cilamaya yang bertulis angka 1633-1677 dalam huruf Latin redesactivassas.
Babad Karawang yang ditulis oleh Mas Sutakarya menulis tahun 1633.


Hasil penelitian dan pengkajian panitia tersebut menetapkan bahwa Hari Jadi Karawang pada tanggal 10 Rabiul Awal tahun 1043 Hijriah, atau bertepatan dengan tanggal 14 September 1633 M atau hari Rabu tanggl 10 Mulud 1555 tahun Jawa / Saka.(*)

Gus Dur – Abdurrahman Wahid, bukan hanya dikenang sebagai Presiden ke-4 Republik Indonesia, tetapi juga sebagai seorang pemimpin yang memperjuangkan hak asasi manusia, pluralisme, dan demokrasi. Pemikiran-pemikirannya yang terbuka, inklusif, dan berorientasi pada keadilan sosial menjadikannya sebagai salah satu tokoh paling dihormati dalam sejarah Indonesia. Namun, yang tidak kalah penting adalah peran Gus Dur dalam memperkuat posisi pemuda sebagai agen perubahan dalam masyarakat.

Pemuda sebagai Kekuatan Sosial dan Politik

Gus Dur meyakini bahwa pemuda memiliki peran sentral dalam perubahan sosial dan politik. Bagi beliau, pemuda adalah motor penggerak utama kemajuan bangsa. Dalam pandangannya, masa muda bukan hanya sekedar waktu untuk mengejar ambisi pribadi, tetapi lebih kepada waktu untuk menggali potensi sosial dan intelektual yang bermanfaat bagi masyarakat. Pemuda dihadapkan pada tantangan untuk berpikir kritis, aktif dalam gerakan sosial, dan berani memperjuangkan keadilan sosial.

Baca juga : Menghafal Tidak Menambah Kecerdasan, Justru Membuat Kita Seperti Mesin

Pemuda dalam Era Reformasi: Gus Dur dan Gerakan Perubahan

Pada era reformasi, ketika bangsa Indonesia sedang bergulat untuk menumbangkan rezim Orde Baru, Gus Dur memainkan peran yang sangat penting. Sebagai salah satu tokoh yang mendukung gerakan mahasiswa, Gus Dur memahami bahwa perubahan sejati datang dari kerjasama antara rakyat, terutama pemuda, dengan elemen-elemen progresif dalam masyarakat. Reformasi 1998 yang dipelopori oleh mahasiswa dan didukung oleh berbagai pihak membuka jalan bagi demokratisasi dan kebebasan sipil yang lebih luas.

Namun, keberhasilan reformasi bukanlah akhir dari perjuangan pemuda Indonesia. Gus Dur, meski telah mencapai posisi tertinggi di negara ini, tetap mengingatkan kita tentang pentingnya peran pemuda dalam menjaga dan mengembangkan demokrasi. Dalam banyak pidatonya, beliau selalu menekankan bahwa pemuda harus tetap terlibat aktif dalam proses politik, sosial, dan budaya, bukan hanya menjadi penonton dalam perubahan, tetapi juga sebagai pelaku aktif yang mendorong kemajuan.

Pentingnya Pendidikan dan Pembentukan Karakter Pemuda

Gus Dur tidak hanya berbicara soal politik, tetapi juga tentang pentingnya pendidikan dalam mencetak pemuda yang berkarakter. Beliau menekankan bahwa pendidikan adalah kunci untuk membentuk pemuda yang cerdas, berjiwa besar, dan memiliki kepedulian terhadap sesama. Gus Dur sangat menginginkan pemuda Indonesia untuk memiliki pemikiran yang terbuka, sehingga mereka tidak hanya terjebak dalam pola pikir sempit yang menghalangi kemajuan sosial dan kebhinekaan.

Pluralisme dan Toleransi sebagai Nilai Utama

Salah satu nilai yang selalu Gus Dur perjuangkan adalah pluralisme—pengakuan dan penghargaan terhadap keberagaman. Sebagai seorang tokoh yang sangat memperhatikan hubungan antarumat beragama, Gus Dur mengajak pemuda untuk memahami pentingnya toleransi dan saling menghormati. Di tengah keragaman Indonesia, pemuda tidak hanya dituntut untuk berjuang demi kepentingan individu, tetapi juga untuk menjaga persatuan dan keharmonisan di tengah perbedaan.

Kepemudaan Gus Dur di Era Kini

Pandangan Gus Dur tentang pemuda sangat relevan dengan kondisi kita saat ini. Pemuda dihadapkan pada tantangan globalisasi, kemajuan teknologi, dan perubahan sosial yang cepat. Namun, semangat dan pesan Gus Dur bahwa pemuda adalah agen perubahan yang harus terus berjuang untuk keadilan sosial tetap tidak berubah. Pemuda Indonesia diharapkan untuk tidak hanya fokus pada pencapaian individu, tetapi juga memiliki rasa tanggung jawab terhadap kemajuan bangsa dan negara.

Dalam konteks ini, Gus Dur mengajarkan kita bahwa perubahan besar dimulai dari pemuda yang berpikir besar dan bertindak untuk kebaikan bersama. Pemuda harus berani bermimpi besar, berinovasi, dan memperjuangkan prinsip-prinsip kemanusiaan dan keadilan sosial yang dapat membawa bangsa ini menuju masa depan yang lebih baik.

Kesimpulan

Pemuda Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk membawa perubahan. Gus Dur, dengan segala pemikiran dan perjuangannya, mengingatkan kita bahwa peran pemuda tidak bisa dipandang sebelah mata. Pemuda adalah kekuatan utama yang dapat mendorong negara ini menuju masa depan yang lebih baik, lebih demokratis, dan lebih inklusif. Tugas kita sebagai generasi muda adalah untuk melanjutkan warisan perjuangan Gus Dur dengan semangat perubahan, toleransi, dan keadilan sosial demi kemajuan bangsa Indonesia.(*)

Ir. Sukarno – Sebagai pendiri dan Presiden pertama Republik Indonesia, memiliki pandangan yang tajam mengenai peran pemuda dalam kemerdekaan dan pembangunan bangsa. Menurut Sukarno, pemuda bukan sekadar kelompok usia, melainkan kekuatan yang dapat merubah nasib bangsa. Dalam banyak pidatonya, Sukarno menekankan bahwa pemuda adalah agen perubahan, kekuatan yang membawa semangat revolusi dan pembaharuan.

Dalam konteks kemerdekaan Indonesia, Sukarno melihat pemuda sebagai motor penggerak revolusi yang tidak kenal takut dan penuh idealisme. Tanpa semangat juang pemuda, mungkin perjuangan kemerdekaan akan memakan waktu lebih lama. Pemuda, bagi Sukarno, adalah jiwa bangsa yang berani melawan penjajahan dengan cita-cita besar untuk menciptakan Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Ini menunjukkan betapa besar harapan Sukarno terhadap kekuatan dan potensi pemuda dalam menghadapi tantangan besar, bahkan melawan kekuatan asing yang jauh lebih kuat.

Baca juga : Kepemudaan Gus Dur dan Peranannya dalam Perubahan Sosial

Namun, pandangan Sukarno tentang pemuda tidak berhenti di tahap perjuangan kemerdekaan. Setelah Indonesia merdeka, peran pemuda menjadi semakin penting dalam melanjutkan perjuangan pembangunan bangsa. Sukarno mengingatkan bahwa kemerdekaan sejati tidak hanya soal bebas dari penjajahan, tetapi juga tentang membangun negara yang adil dan makmur bagi seluruh rakyat. Dalam konteks ini, pemuda harus menjadi penyambung estafet perjuangan yang melanjutkan karya besar para pendiri bangsa dengan mewujudkan cita-cita bangsa melalui pendidikan, kreativitas, dan kerja keras.

Yang menarik dari pandangan Sukarno adalah penekanan pada pentingnya pendidikan dan pembentukan karakter. Pemuda yang terdidik dengan baik tidak hanya memiliki keterampilan praktis, tetapi juga mampu berpikir kritis dan inovatif dalam menghadapi tantangan zaman. Sukarno sangat yakin bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencetak pemuda yang dapat menjadi pemimpin masa depan, pemimpin yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki semangat nasionalisme yang tinggi, berpikir besar, dan berjuang tanpa henti.

Namun, apa yang perlu kita renungkan adalah relevansi pandangan Sukarno terhadap pemuda di era sekarang. Dalam dunia yang semakin global dan penuh tantangan, apakah kita masih melihat pemuda sebagai agen perubahan yang sesungguhnya? Ataukah kita hanya terjebak pada rutinitas dan kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi dan gaya hidup modern?

Saat ini, pemuda Indonesia dihadapkan pada berbagai tantangan yang berbeda dengan zaman Sukarno, seperti ketidakpastian ekonomi, dampak perubahan iklim, hingga persaingan global yang semakin ketat. Namun, semangat revolusi dan pembaharuan yang ditanamkan oleh Sukarno tetap relevan. Pemuda harus mampu mengubah tantangan tersebut menjadi kesempatan untuk berinovasi dan berkreasi. Kita butuh pemuda yang berani bertindak, yang tidak hanya puas dengan status quo, tetapi juga yang berani mengkritisi dan memperbaiki sistem yang ada.

Selain itu, kita juga perlu mengingatkan kembali pentingnya persatuan dan kesatuan, pesan yang sering disampaikan Sukarno. Di tengah keberagaman Indonesia, pemuda harus menjadi pemersatu yang mampu menjaga keharmonisan antar berbagai kelompok masyarakat, tanpa mengedepankan perbedaan yang memecah belah. Pemuda harus mengingat bahwa semangat nasionalisme dan rasa cinta tanah air lebih penting daripada perbedaan politik atau sosial.

Kesimpulan:

Pandangan Ir. Sukarno mengenai pemuda sebagai kekuatan revolusioner dan agen perubahan masih sangat relevan hingga saat ini. Pemuda Indonesia harus terus menggali potensi mereka, berjuang untuk mencapai cita-cita bersama, dan menjadi penyambung estafet perjuangan bangsa. Pendidikan, kreativitas, semangat juang, dan persatuan adalah kunci untuk mewujudkan Indonesia yang lebih maju dan berkeadilan. Pemuda, seperti yang dicita-citakan Sukarno, adalah pilar utama bangsa ini—sebuah kekuatan yang harus terus diperkuat dan dimaksimalkan untuk masa depan yang lebih baik.(*)

Tan Malaka – Seorang tokoh revolusioner dan intelektual Indonesia, pernah menyatakan bahwa kebiasaan menghafal dalam pendidikan tidak menambah kecerdasan, malah menjadikan orang seperti mesin yang mekanis dan bodoh. Meskipun pernyataan ini muncul dalam konteks kritik terhadap sistem pendidikan kolonial, namun relevansinya tetap kuat hingga hari ini, terutama dalam mengkritisi pendekatan pendidikan yang terlalu mengutamakan hafalan.

Menghafal memang bisa menjadi bagian penting dari proses belajar. Kita membutuhkan dasar pengetahuan yang dapat diingat untuk membantu kita berpikir lebih kompleks. Namun, ketika proses menghafal menjadi tujuan utama dalam pendidikan, maka kita justru akan terjebak dalam pola pikir mekanis yang tidak berkembang. Tan Malaka dengan tajam mengingatkan kita bahwa pendidikan yang hanya mengandalkan hafalan tanpa pemahaman mendalam dapat menghambat proses pembentukan kecerdasan sejati.

Di dunia pendidikan modern, banyak siswa yang terjebak dalam siklus menghafal untuk ujian, memproduksi jawaban yang tampak benar, namun tidak mampu menerapkan pengetahuan tersebut dalam konteks yang lebih luas. Ini bukanlah kecerdasan, melainkan sebuah proses mekanis yang menghasilkan ingatan semata tanpa kemampuan berpikir kritis, analitis, atau kreatif. Kecerdasan sejati, sebagaimana yang diinginkan oleh Tan Malaka, bukan hanya tentang seberapa banyak informasi yang dapat dihafal, tetapi sejauh mana seseorang mampu memahami, menghubungkan, dan mengaplikasikan informasi itu dalam situasi yang berbeda.

Lebih dari itu, menghafal tanpa pemahaman yang mendalam dapat membuat kita merasa puas dengan jawaban yang sudah ada tanpa mempertanyakan atau menggali lebih lanjut. Dalam masyarakat yang semakin kompleks dan cepat berubah, pola pikir seperti ini sangat terbatas. Dunia yang membutuhkan inovasi dan solusi kreatif tidak akan mendapat manfaat dari individu-individu yang hanya mengandalkan hafalan tanpa kemampuan untuk berpikir di luar kotak.

Pendidikan harus mendorong kita untuk menjadi pemikir kritis, bukan hanya pencatat informasi. Hal ini berarti, daripada sekadar menilai kecerdasan berdasarkan kemampuan menghafal, kita perlu menilai bagaimana seseorang dapat menganalisis masalah, merumuskan solusi, dan mengadaptasi pengetahuan mereka untuk menyelesaikan tantangan yang lebih besar. Dengan demikian, pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang mengutamakan pemahaman daripada hafalan.

Sebagai contoh, dalam pendidikan sains, alih-alih hanya menghafal rumus atau fakta-fakta, siswa harus didorong untuk mengerti mengapa suatu rumus atau teori berlaku, dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Begitu pula dalam pelajaran sejarah, alih-alih hanya menghafal tahun dan peristiwa, siswa perlu dibimbing untuk memahami dampak dari peristiwa tersebut terhadap masyarakat dan dunia saat ini.

Selain itu, kita juga harus menyadari bahwa kemampuan untuk berpikir kritis dan kreatif merupakan keterampilan yang dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pekerjaan, hubungan sosial, hingga peran kita dalam masyarakat. Jika kita hanya mengandalkan hafalan, kita akan terjebak dalam pola pikir yang kaku dan tidak mampu beradaptasi dengan perubahan yang terus-menerus.

Pada akhirnya, Tan Malaka mengingatkan kita bahwa tujuan pendidikan seharusnya adalah untuk membebaskan pikiran, bukan untuk mengurungnya dalam rutinitas menghafal. Pendidikan yang sejati adalah yang melatih kita untuk berpikir, menganalisis, dan menciptakan, bukan hanya untuk mengingat dan meniru. Pendidikan yang membentuk manusia yang cerdas adalah pendidikan yang menumbuhkan kreativitas dan kritis, bukan sekadar kemampuan untuk menghafal informasi yang terbatas.

Maka dari itu, mari kita perbaiki cara kita mendidik generasi mendatang. Fokuskan pada pemahaman, diskusi, dan aplikasi pengetahuan yang lebih dalam, agar pendidikan tidak lagi menjadi proses mekanis yang mengubah kita menjadi “mesin hafalan”, tetapi sebuah sarana untuk melahirkan individu-individu yang cerdas, kritis, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Catatan M. Hanif Dhakiri
Wakil Ketua Umum DPP PKB

Peluang dan Tantangan Bagi PKB

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memasuki Pemilu 2029 dengan peluang besar untuk memperkuat posisinya di kancah politik nasional. Namun, tantangan yang dihadapi tidaklah ringan. Transformasi dari partai berbasis tradisional menjadi kekuatan politik modern yang relevan dan visioner menjadi sebuah keharusan. Dalam dunia politik yang semakin kompetitif, langkah setengah hati tidak akan cukup untuk meraih kemenangan. PKB perlu mengusung revolusi narasi, strategi, dan aksi yang berani untuk memimpin perubahan di era baru ini.

Menarik Perhatian Pemilih Muda

Perubahan demografi yang signifikan, di mana pemilih muda akan mendominasi 60 persen populasi pada Pemilu 2029, menuntut PKB untuk merumuskan pendekatan baru yang lebih segara dan berbasis ide. Dengan lebih dari 56 persen penduduk Indonesia kini tinggal di perkotaan, generasi muda yang pragmatis ini menuntut solusi nyata untuk isu-isu yang relevan dalam kehidupan mereka. Tanpa perubahan besar, PKB berisiko tertinggal oleh partai-partai lain yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman.

Narasi Baru: “PKB Beda, PKB Berani

Dalam konteks ini, narasi baru adalah kunci untuk menarik perhatian pemilih. PKB harus melangkah keluar dari identitasnya sebagai partai berbasis agama dan menawarkan diri sebagai partai yang memiliki ide-ide besar. Mengadopsi nasionalisme hijau dan menggabungkan isu keberlanjutan lingkungan dengan keadilan sosial dapat menjadi langkah cerdas untuk memimpin narasi politik hijau di Indonesia. Dengan menawarkan solusi progresif—seperti transisi energi yang memberdayakan masyarakat kecil dan reformasi pendidikan berbasis teknologi—PKB dapat menunjukkan keberaniannya dalam menghadapi tantangan bangsa.

Rebranding Total untuk Menyentuh Semua Golongan

PKB tidak boleh terpaku pada identitas Nahdliyyin saja. Untuk berkembang, rebranding total menjadi keharusan. PKB harus menjadi partai inklusif yang mampu menarik perhatian semua golongan, dari masyarakat pedesaan hingga profesional muda di perkotaan. Mengadopsi strategi yang mencontoh Partai Buruh di Inggris yang berhasil mentransformasi citra mereka menjadi kekuatan politik progresif adalah contoh yang perlu dicontoh oleh PKB.

Transformasi Digital: Menciptakan Keterhubungan yang Lebih Baik

Di era modern ini, pemahaman yang baik tentang pemilih adalah kunci keberhasilan. PKB seharusnya bertransformasi menjadi partai data-driven dan mengembangkan PKB DataLab untuk memetakan perilaku pemilih hingga tingkat desa. Dengan memanfaatkan teknologi, PKB bisa menyusun strategi kampanye yang lebih terarah dan efisien. Aplikasi PKB Connect dapat menjadi platform untuk menghubungkan kader partai dengan rakyat, memfasilitasi aspirasi, dan meningkatkan keterlibatan politik.

Baca juga : Respon Pernyataan Menteri PKP, DPR: Tidak Punya Rumah Bukan Berarti Miskin

Penguasaan Narasi Perkotaan

Melihat urbanisasi yang pesat, pemilih perkotaan menjadi medan pertempuran politik yang strategis. PKB harus memimpin narasi perkotaan dengan kebijakan konkret yang menyentuh isu-isu seperti transportasi, perumahan, dan ekonomi kreatif. Melalui program revitalisasi yang berbasis keberlanjutan, PKB dapat menarik minat pemilih urban dan menjadi partai yang relevan bagi generasi muda.

Menjadi “Pabrik” Pemimpin Masa Depan

Akhirnya, PKB harus memanfaatkan momentum ini untuk menjadi lebih dari sekadar partai politik. Dengan program seperti PKB Leadership Incubator, partai ini dapat melatih kader muda dalam kepemimpinan dan komunikasi publik. Memberikan 50 persen kursi calon legislatif kepada generasi muda akan menunjukkan keseriusan PKB dalam menciptakan perubahan dan membangun masa depan.

Kesimpulan: Saatnya Melompat, Bukan Melangkah

Pemilu 2029 adalah momentum penting bagi PKB untuk menciptakan sejarah baru. Dengan narasi yang berani, rebranding total, transformasi digital, penguasaan isu perkotaan, dan revolusi kaderisasi, PKB memiliki peluang besar untuk menjadi kekuatan politik dominan di Indonesia. “Hidupkan Harapan, Gerakkan Perubahan” bisa menjadi lebih dari sekadar slogan; ini adalah deklarasi visi besar untuk masa depan bangsa. Saatnya PKB melompat ke era baru dan menjadi motor serta pemimpin perubahan yang visioner untuk rakyat Indonesia.

Karawang – Puluhan warga Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Karawang, mengikuti pelatihan literasi digital yang diadakan di Aula Kantor Desa Pulokalapa. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan warga dalam menulis berita dan memanfaatkan media sosial secara bijak. Selasa 2/8/2023

Pelatihan ini merupakan inisiatif dari Smart Village yang menghadirkan narasumber profesional, yaitu jurnalis dari TV Berita Karawang, Didi Suheri, M.Sos. Kehadiran Kang Didi sebagai narasumber diharapkan dapat memberikan wawasan baru bagi peserta terkait dunia jurnalistik dan literasi digital.

Baca juga : Desa Klari Tingkatkan Literasi Digital Warga Melalui Pelatihan Menulis Berita

Sekretaris Desa Pulokalapa, Anom Swara, menyampaikan apresiasinya atas terpilihnya Desa Pulokalapa sebagai salah satu lokus program Smart Village di Kabupaten Karawang. Menurutnya, pelatihan seperti ini sangat penting untuk mendorong masyarakat desa lebih melek digital.

“Alhamdulillah, dengan adanya pelatihan literasi digital ini, terutama yang berkaitan dengan menulis berita dan pemanfaatan media sosial, saya berharap para peserta dapat memahami dan menerapkan ilmunya dengan bijak,” ujar Anom dalam sambutannya.

Mendorong 6 Pilar Smart Village
Anom juga menekankan pentingnya Ruang Komunitas Digital Desa (RKDD) sebagai wadah pemberdayaan digital bagi warga yang memiliki minat dalam dunia digitalisasi. Program ini sejalan dengan langkah menuju penerapan 6 Pilar Smart Village, yaitu pemerintahan cerdas, ekonomi cerdas, lingkungan cerdas, masyarakat cerdas, mobilitas cerdas, dan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera.
Sementara itu, Kang Elam, Kader Digital Desa Pulokalapa, menjelaskan bahwa pelatihan ini tidak hanya membahas cara menulis berita tetapi juga memberikan pemahaman tentang kode etik jurnalistik.

“Kami berharap dengan menghadirkan Kang Didi sebagai narasumber, komunitas RKDD ini dapat memahami literasi digital, menangkal berita hoaks, dan menulis berita yang baik,” jelas Kang Elam.

Baca juga : Napak Tilas Sejarah Karawang, Sendratari Napak Rawayan Sang Wali Segera Digelar

Komitmen Desa Pulokalapa Menuju Digitalisasi
Pelatihan ini diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk perangkat desa, pemuda, dan anggota RKDD. Melalui kegiatan ini, Desa Pulokalapa menunjukkan komitmennya untuk mengembangkan literasi digital sebagai bagian dari upaya menuju desa yang lebih cerdas, mandiri, dan terintegrasi.

Dengan adanya pelatihan ini, warga Desa Pulokalapa diharapkan dapat memanfaatkan teknologi secara positif, tidak hanya untuk berbagi informasi tetapi juga untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat desa./sp

Persoona.id – Dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-25 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB Kabupaten Karawang akan menggelar lomba musik akustik dan doa bersama. Kegiatan ini akan diselenggarakan pada Minggu, 23 Juli 2023 di halaman kantor DPC PKB Karawang.

Ketua DPC PKB Karawang, H. Rahmat Hidayat Djati, mengungkapkan bahwa lomba ini merupakan bagian dari rangkaian acara harlah PKB dan menjadi wadah ekspresi seni musik bagi masyarakat serta para kader.

“Acara lomba ini digelar dalam rangka memperingati hari lahir PKB ke-25. Lagu-lagu yang wajib dinyanyikan dalam lomba ini antara lain Mars PKB, Hymne PKB, dan PKB adalah Kita,” ujar Kang RHD, Senin (17/7/2023).

Rahmat yang juga dikenal sebagai Calon Bupati Karawang itu menambahkan bahwa lomba akan digelar di pagi hari, sementara malam harinya akan diadakan resepsi harlah yang diisi dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa dan kemenangan PKB di Pemilu 2024.

“Pelaksanaan lomba diadakan Minggu pagi, malamnya kita adakan resepsi harlah dan doa bersama. Total hadiah yang kita siapkan sebesar Rp25 juta,” jelasnya.

Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi sarana untuk menggali potensi seni dan mempererat kebersamaan di antara kader dan masyarakat umum.

“Lomba musik akustik ini bisa jadi ajang mengekspresikan diri bagi kader-kader yang hobi bernyanyi. Semoga kegiatan ini membawa semangat baru menuju kemenangan PKB di Pemilu 2024,” tambah Kang RHD penuh semangat.

Bagi masyarakat Karawang yang berminat mengikuti lomba musik akustik ini, dapat mendaftar melalui tautan formulir pendaftaran berikut:
👉 https://forms.gle/aiZ5FjTfPFufn2Ky9